Rasa-rasanya, saya tidak habis pikir. Kok bisa ya hanya karena perbedaan tentang sudut pandang politik, ideologi, agama dan semacamnya yang mengandung sebuah keyakinan dapat menumpahkan darah dan mengorbankan nyawa manusia? Apakah tidak ada cara lain yang lebih mulia selain daripada harus menghilangkan nyawa manusia?  

Padahal dari perbedaan keyakinan dan sudut pandang tersebut, kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa saling bertukar gagasan untuk membangun sebuah peradaban yang jauh lebih baik lagi. Saya sepakat soal ajaran Islam memandang sebuah perbedaan.

Islam memandang bahwa perbedaan yang ada ini adalah fitrah.

Agar kita saling mengenal, agar nuansa pemahaman, kebudayaan, pola hidup dan pola-pola lainnya yang tidak diketahui akan menjadi tahu bahwa dari perbedaan akan menghasilkan kekayaan yang tidak dapat dibeli dengan hanya sebuah harta.

Bukankah setiap corak berpikir manusia mengisyaratkan ada sesuatu yang benar-benar harus dilengkapi? Ada kelemahan yang mungkin harus dikuatkan dengan sesuatu yang lain (yang tidak terdapat dalam dirinya)? Ada titik persamaan (kalimatun sawa) yang harus ditemukan?

Bukankah setiap keyakinan dari kita tidak perlu dipaksakan atas keyakinan yang orang lain anut? Bukankah jalan hidup kita didasari atas keyakinan-keyakinan yang kita miliki? Bagaimana jika apa yang kita yakini itu ternyata membuat kita menemukan beberapa kejanggalan? Apakah masih harus tetap diyakini atau berpindah keyakinan?

Maka dari itu, keyakinan tidak perlu untuk dipaksakan. Setiap paham atau corak berpikir yang kita anut pun tidak perlu dipaksakan juga atas kehendak dari luar. Apalagi sampai ada yang mencoba untuk membunuh nyawa manusia yang begitu berharga; begitu mulia dengan memaksakan orang lain untuk meyakini apa yang diyakininya.

Menjadi wajar jika suatu perbedaan membuat kita paling benar sendiri. Paling baik, paling keren, paling kuat dan paling paling lainnya. Tapi, akan menjadi tidak wajar jika kita mengklaim bahwa sudut pandang dan keyakinan orang lain itu salah belaka. Buruk! Tidak mendidik: abnormal.

Memang dari perbedaan itu, konflik bisa saja terjadi karena diantara manusia menganggap bahwa terdapat kelebihan belaka dalam dirinya.

Ia menganggap bahwa keyakinannya benar maka menyalahkan apa yang orang lain yakini. Hal ini yang membuat perjalanan historis di dalam dunia peperangan, konflik mengenai keyakinan atau “isme-isme” menjadi banyak. Menjadi terulang kembali.

Saya hanya menyebutkan beberapa saja atas konflik mengenai keyakinan atau “isme-isme” yang sudah memakan banyak korban. Kalau banyak, khawatir akan menjadi sebuah buku tentang sejarah konflik berdarah atas keyakinan dan ideologi yang dianut hehehe…

Peristiwa Poso; misalnya. Peristiwa tersebut adalah konflik antarumat beragama (Islam dan Kristen).

Konon, konflik kekerasan tersebut dipicu oleh seorang pemuda nasrani yang sedang mabuk kemudian menyerang pemuda muslim yang tertidur di dalam masjid. Lalu pemuda muslim itu mendadak bangun dan lari untuk memberi tahu kepada warga muslim lainnya bahwa dirinya sedang dipersekusi oleh pemuda nasrani.

Akhirnya konsolidasi berbasis keagamaan lahir. Ditambah provokasi dari luar sangat gencar sehingga terbentuklah mobilisasi massa yang begitu masif. Dipelopori oleh perwakilan setiap dua kelompok umat beragama itu.

Tidak lain dan tidak bukan untuk saling serang-menyerang yang mengorbankan banyak nyawa manusia.

Di sisi lain, sebelum-sebelumnya memang kondisi sedang hangat-hangatnya atas perseteruan pemilihan Bupati yang menggunakan basis agama (Antara perwakilan Islam dan Kristen). Ini adalah konflik kombinasi mengenai politik identitas dan keyakinan dari masing masing agama atas kekerasan yang terjadi.

Kalau saya ambil contoh konflik pembantaian mengenai “isme-isme” politik. Sudah tentu peristiwa ini begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia: G30S/PKI.

Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI itu sudah banyak melakukan pembantaian dan pemberontakan di Indoneisa yang menghilangkan ribuan nyawa manusia. Peristiwa G30S/PKI adalah puncaknya.  

PKI melakukan hal seperti ini, ditinjau dari latar belakang organisasinya yaitu organisasi politik.

Karena PKI adalah organisasi politik maka tujuannya adalah tentang kekuasaan. Pembantaian yang dilakukan pun tujuannya untuk hal kuasa dan menguasai. Namun cara kudeta kekuasaan yang dilakukan oleh PKI menimbulkan ketakutan oleh seluruh manusia yang menilainya (secara fitrah). Kudeta tersebut menghilangkan sisi kemanusiaan: Anti Humanis.

Saya jadi teringat pendapat dari Niccolo Machiavelli tentang kekuasaan.

Pendapatnya bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang terpisah dari otoritas gereja (agama). Kekuasaan itu tidak mempunyai hubungan dengan Tuhan, moralitas, ataupun agama. Pantas saja, untuk mendapatkan sebuah kekuasaan, tidak lah memandang soal hukum: Haram dan halal, dosa dan mendapatkan pahala, baik dan jahat. Cara apapun dilakukan hanya demi kekuasaan semata.

Lebih jauh dari itu, ini masih soal keyakinan. Contoh diatas adalah keyakinan yang menimbulkan apa yang disebut oleh Lutheran Paul Tillich sebagai “ultimate concern” (mengutip dari tulisan Gus Ulil Abshar yang berjudul “Antara Sains dan Soto”), hal begitu mendalam yang mempengaruhi jiwa dan emosi manusia karena menyangkut pertanyaan mendasar dalam hidup.

Istilah “ultimate concern” ini lah yang rawan menimbulkan konflik berdarah, karena menyangkut emosi yang ada di dalam diri seorang manusia.

Namun sekali lagi, saya berpendapat bahwa baik itu soal perbedaan keyakinan di dalam bidang agama, politik atau lain lainnya itu adalah sebuah fitrah juga. Karena perbedaan adalah fitrah, maka kita harus memaksimalkan fitrah itu dengan sebaik baiknya.

Kita boleh saja berbeda keyakinan, berbeda pemahaman. Boleh-boleh saja, mengatakan bahwa apa yang kita yakini itu benar, namun jangan sampai menghilangkan nyawa manusia. Sisi kemanusiaan tidak boleh dikalahkan oleh hanya ego kepercayaan semata,

Terakhir, apa yang dikatakan oleh Gusdur menjadi penguat tulisan ini. Apa yang dikatakannya bahwa “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”.