59461_68859.jpg
©istimewa
Agama · 3 menit baca

Perbedaan Itu Niscaya, dan Tugas Kita adalah Mencari Persamaannya

Hidup di Indonesia, pra-syarat untuk saling benci, rasis, ataupun pobia terhadap agama lain sangatlah memungkinkan. Negeri dengan jumlah perbedaan yang sangat banyak memungkinkan tumbuh suburnya sikap yang kurang ramah terhadap setiap perbedaan. Dan kemudian, akan semakin rumit lagi, ketika perbedaan-perbedaan antar kelompok ini terus dipupuk oleh bumbu-bumbu konflik di masa lalu.

Ada banyak konflik antar agama yang terjadi pada masa lalu yang terus dilestarikan dalam doktrin dan pikiran-pikiran umat beragama saat ini. Semisal, bisa diambil contoh tentang Perang Salib, padahal konflik antara Islam dan Nasrani ini terjadi sudah berabad-abad lalu, tetapi kemudian sampai saat ini bayang-bayang tentang pertentangan itu terus mengkonstruksi persepsi umat Islam dalam memandang umat Nasrani, maupun juga sebaliknya.

Atau, jangankan konflik antar umat beragama. Alur yang sama, juga dapat terjadi dalam umat yang agamanya sama, namun beda aliran. Contoh yang bisa kita lihat, semisal tentang stereotyping terhadap Syiah dan Ahmadiyah.

Kedua kelompok ini merupakan bagian dari firqoh (perpecahan/aliran) dalam Islam yang minoritas di Indonesia. Dua kelompok ini seringkali menjadi korban diskriminasi dari kelompok Islam lain yang jumlahnya lebih besar. Bahkan, biasanya  pelaku stereotyping terhadap kedua kelompok ini keluar dari orang yang tidak pernah belajar tentang apa itu teologi dan ajaran Syiah dan Ahmadiyah.

Mekanisme bekerjanya sebuah stereotyping adalah dengan mengidentifikasikan kelompok lain (out group) berbeda dengan kelompok kita (in group). Kemudian, identifikasi kelompok lain yang ‘berbeda’ tersebut terus dipupuk dengan citra-citra aktual yang bersifat negatif.

Untuk melanggengkan stereotyping tersebut, mengharuskan penilaian kelompok lain secara negatif dan memperkuat kepercayaan terhadap kelompok kita secara positif. Artinya, border atau ‘garis pembeda’ itu dalam antar kelompok yang saling konfliktual akan selalu dilestarikan dan bahkan terus semakin ditebalkan garis perbedaannya.

Nalar dalam memandang kelompok lain (out group) adalah negatif dan kelompok kita (in group) adalah positif berlaku dalam konflik antar umat yang berbeda agama maupun antar umat yang sama agamanya, tapi berbeda alirannya. Semisal, konflik antar aliran dalam internal umat Islam.

Terma-terma tentang “Syiah bukan Islam”, “Ahmadiyah Sesat”, “itu bid’ah”, “khurofat”, “ajaranmu tidak sesuai sunnah”, “kafir” dan diksi-diksi model demikian, merupakan sebuah citra yang mengukuhkan kelompok lain (out group) menjadi sesuatu yang negatif, buruk, dan bukan ajaran Islam. Citra dalam terma-terma yang demikian itu memang dilestarikan untuk mengukuhkan kelompok mereka sendiri sebagai yang paling benar (positif).

Dalam internal umat Islam sendiri terdapat kelompok-kelompok aliran yang mempunyai kecenderungan untuk membuat ‘garis pembeda’ yang sangat tebal. Aliran yang demikian ini memang sudah ada sejak dalam perpecahan antar umat Islam semasa tahkim – sebuah peristiwa sengketa antara sahabat Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan-, dan bahkan kecenderungan untuk saling mengkafirkan kelompok lain itu muncul juga dalam aliran Islam kontemporer.

Kalau dalam kesejarahan Islam yang lampau, kita teringat dengan kelompok Khawarij, kelompok ini mengukuhkan identifikasi kelompok lain dengan menggunakan terma-terma “kafir”. Hal ini bisa terlihat dari bagaimana kelompok ini mendefinisikan Islam itu sendiri. Khawarij mengatakan bahwa kelompok (Islam) lain yang berbeda dengannya adalah “kafir”.

Kemudian, dalam fenomena yang kontemporer, terma-terma yang mengidentifikasi kelompok lain (out-group) sebagai kafir masih sering muncul. Fenomena ini sering disebut sebagai gejala  “takfiri” yang banyak  dipelopori oleh kelompok Salafi Wahabi.

Lantas, bagaimana cara untuk menghancurkan atau setidaknya mengurangi sekat-sekat perbedaan dalam antar kelompok ini. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengikis atau mengurangi ‘ketebalan’ garis pembeda antar kelompok tersebut.

Pengikisan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, semisal dengan melakukan studi atau belajar terhadap teologi atau ajaran agama/kelompok lain yang berbeda. Upaya ini dilakukan oleh kelompok yang sedang belajar, dengan tujuan untuk memahami kelompok lain, bukan malah untuk menyerang kelompok lain.

Tujuan belajar teologi atau ajaran agama/kelompok lain merupakan sebagai upaya untuk memahaminya, bukan malah untuk menggali-gali kelemahannya. Hal ini merupakan sesuatu yang penting untuk digaris bawahi.

Secara sederhana, hukum tentang belajar dengan tujuan untuk memahami ini adalah sebagaimana kita belajar memahami orang lain dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita temui. Kita tidak mungkin dapat hidup berdampingan dengan orang lain di sekitar kita, yang secara kodrati mempunyai perbedaan, tanpa kita mempunyai upaya untuk belajar memahaminya.

Sama halnya dengan orang lain yang niscaya mempunyai perbedaan dengan kita, agama ataupun antar  kelompok juga secara alamiah dan niscaya mempunyai perbedaan. Sebagaimana termaktub dalam hadis populer yang menjelaskan tentang perpecahan dalam agama Islam, Nasrani dan Yahudi.

Dalam hadist tersebut dikatakan bahwa kaum Yahudi akan pecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani menjadi 72 golongan dan kaum Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Artinya adalah, perbedaan itu merupakan sebuah keniscayaan. Maka kemudian upaya terbaik yang dapat kita lakukan adalah dengan saling memahami antara kelompok satu dengan yang lain.