Karya sastra merupakan tiruan dari dunia nyata yang dituangkan pengarang melalui tulisan. Ada gambaran kehidupan sosial di dalamnya. Ada tokoh dan watak tokoh di dalamnya. Ada juga rekaman peristiwa di dalamnya.

Karya sastra bersifat kompleks. Di dalamnya memuat segala hal. Ia dibuat menyerupai dunia nyata. Permasalahan yang tergambar di dalamnya juga dibuat serumit seperti di dunia nyata. Aristotelles menyubutnya dengan istilah mimesis yang bermakna tiruan dunia nyata. Bahkan, dalam karya sastra juga boleh melanggar peraturan yang dilarang di dunia nyata. 

Meski itu bercerita tentang kehidupan hewan seperti cerita fabel contohnya, karya sastra tetap menggambarkan perilaku manusia di dunia nyata. Dalam cerita kancil dan lomba lari misalnya. Itu bukan cerita kancil yang sesungguhnya melainkan penggambaran perilaku seseorang yang merasa hebat seperti kancil. Untuk itu, dalam karya sastra terdapat aspek psikologi yang melekat pada tokoh cerita.

Karya sastra juga tak lepas dari aspek budaya. Budaya dalam karya sastra merupakan gambaran tempat terjadinya peristiwa penceritaan. Contohnya cerita si Doel Anak Sekolahan dengan latar budaya Betawi. Penuturan antar tokoh, penggambaran pakaian, makanan, dan lain-lain juga tak lepas dari kebetawian. Cerita Malin Kundang dengan latar budaya Minangkabau. Atau pun cerita lain seperti novel Perempuan di Titik Nol yang menceritakan budaya perkawinan di Mesir. Hal itu dilakukan untuk menguatkan kritik sosial yang dilakukan pengarang melalui karyanya.

Pengarang perlu menceritakan detail budaya sebagai pelengkap unsur cerita. Meski sebagai pelengkap unsur cerita namun jika pengarang tidak paham budaya akan mengacaukan cerita. Misalnya, pengarang membuat cerita cinta dengan latar peristiwa di Yogyakarta. Karena minimnya pengetahuan pengarang tentang Yogyakarta, ia memasukkan latar Air Terjun Niagara di dalamnya. Pembaca secara otomatis dibuat tidak nyaman dengan cerita tersebut.

Seperti kisah dalam Film 5 CM contohnya. Perjalanan para tokoh ke Malang menggunakan kereta Lokal Rangkas, padahal dalam cerita menggunakan kereta Matarmaja. Atau tokoh Samsul pada Film Dalam Mihrab Cinta yang digambarkan menggunakan kereta Argo Bromo Anggrek dari Pekalongan ke Kediri. Padahal Argo Bromo Anggrek melayani rute Gambir-Pasar Turi; tidak melewati Kediri. Bagi penonton yang mengetahui dunia perkeretaapian Indonesia tentu dibuat tidak nyaman.

Pengarang harus memperhatikan bahwa karya sastra adalah rekaman dunia nyata. Pembaca bisa belajar aspek sosial di dalamnya bahkan bisa belajar sejarah. Seperti sejarah Stalin dan Lenin dalam Novel Bumi Cinta yang diceritakan secara detail. Pengarang memang harus belajar sejarah Rusia untuk bisa membuat novel itu.

Orang yang menulis karya sastra disebut pengarang. Hal itu karena karya yang dibuatnya juga karangan. Namun bukan berarti mengarang sejarah dan sosial secara bebas. Ada pakem yang tidak boleh ditabrak. Dalam penciptaan karya sastra ada ruang yang bebas dikarang atau bebas diciptakan dan ada juga ruang yang tidak boleh dikarang. Harus sesuai dengan alam nyata. Ada perpaduan imajinasi dan realita untuk membentuk cerita fiksi yang dapat dinikmati pembaca.

Dunia sastra mengenal interteks. Interteks yaitu pengaruh teks atas teks lain sebelumnya. Pengarang boleh mengembangkan cerita sebelumnya yang dikarang orang lain. Seperti kisah dalam Gatotkacacraya dan Arjunawiwaha yang mengembangkan kisah Mahabharata. Ada kesamaan tokoh di dalamnya hanya saja dalam Gatotkacacraya dan Arjunawiwaha terdapat penambahan tokoh dan pengembangan cerita. Namun kedua cerita tersebut tidak mengubah pakem asli dari Mahabharata sendiri.

Berbeda dengan kisah sinetron kolosal di Indonesia belakangan ini. Mungkin maksudnya sebagai bentuk improvisasi cerita. Namun yang terjadi malah mengacaukan cerita sejarah. Rumah produksi harus memperhatikan itu. Pada masa Kerajaan Pakuan Pajajaran sudah ada masker dan Pilus Garuda. Atau dalam cerita sinetron Tutur Tinular Milenium terdapat tokoh Krisna. Atau munculnya tokoh superhero luar negeri dalam sinetron kolosal Indonesia. Itu bukan improvisasi melainkan pengacauan budaya. Kecuali jika dari awal cerita sudah disebutkan bahwa itu parodi sejarah.

Sinetron kolosal bukan perkara hiburan semata melainkan juga penyampaian kisah sejarah dan karya sastra nusantara. Melalui sinetron kolosal, anak-anak belajar sejarah dan budaya sejak dini. Jika rumah produksi sinetron abai terhadap hal itu, tentu pemahaman anak-anak terhadap budaya lokal akan semakin pudar. Ditambah lagi maraknya budaya impor di Indonesia beberapa tahun belakangan.

Rumah produksi membutuhkan sponsor unuk mendapatkan dana produksi. Namun, ada cara lain untuk mengiklankan produk sponsor. Seperti sebagai iklan jeda pada saat penayangan sinetron. Bukan malah dimasukkan ke dalam adegan. Hal semacam itu yang membuat kualitas tontontan menurun dan ditinggalkan penonton.

Pemerintah melalui Kemdikbud dan KPI perlu menindak tegas upaya-upaya pengaburan sejarah semacam itu. Penayangan sinetron bukan hanya sebagai media hiburan melainkan edukasi. Salah satunya edukasi mengenalkan budaya lokal agar masyarakat mencintai budayanya. Saat ini belum terlambat untuk menyelamatkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Dan ini tidak bisa dibiarkan terus berlarut-larut. Indonesia butuh edukasi sejarah dan nilai budaya melalui sinetron kolosal yang berbobot.