Hari-hari ini dunia media sosial kita disuguhi dengan beragam adegan dan berita tentang kekerasan yang mengancam persaudaraan dan kemanusiaan. Entah itu kekerasan antar kelompok, suku, ataupun etnis, maupun kekerasan dalam keluarga: anak mempolisikan ibu ataupun suami melaporkan istri.

Seperti Meliana Widjaya (64), warga Kota Semarang, dilaporkan anak kandungnya, J (39), karena persoalan warisan. Ataupun seperti MR (42), warga Desa Lidah Besi, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), melaporkan istrinya RF, ke aparat kepolisian setempat, karena dua kali hamil saat dirinya merantau ke Kalimantan.

Selain itu ada penyerangan yang dilakukan Suku Kimiyal kepada Suku Yali di Yahukimo, Papua, yang mengakibatkan  6 orang tewas dalam insiden tersebut, Minggu (3/9) lalu. Masih pula ada juga bentrokan antar ormas, seperti Forum Betawi Rembug (FBR) dengan Pemuda Pancasila (PP) di Ciledug, Kota Tangerang, Jumat, 19 November lalu.

Dunia kita seakan suram, tak ada lagi ruang damai. Di mana-mana orang merasakan resah gelisah, saling menaruh curiga dan syak wasangka terhadap orang di sekitarnya. Tak ada kenyamanan untuk berbuat sesuatu. Ikatan persaudaraan dalam keluarga, kampung, masyarakat, dan bangsa kian terkikis.

Persaudaraan sebagai sesama anak bangsa, persaudaraan sebagai ciptaan termulia dari Allah Mahaagung, seakan makin memudar. Benarkah demikian?

Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kiranya menjadi angin segar yang menghembuskan ajakan untuk saling mengasihi sebagai satu saudara, satu anak bangsa. “Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan” menjadi tema sentral pesan natal kali ini.

Tema yang disitir dari Surat Pertama Rasul Petrus (bdk 1 Pet 1:2) hendak mengajak, tidak hanya bagi umat Kristiani saja namun semua warga bangsa, untuk bersungguh-sungguh mengasihi satu dengan yang lainnya dengan segenap hati.

Firman dalam  surat 1 Petrus 1:2 berbicara lengkap sebagai berikut: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. “

Konteks Pandemi

Pesan Natal PGI-KWI ini dibuat ketika pandemi Covid-19 belum usai. Karenanya perayaan Natal di tahun kedua pandemi ini mengajak kita untuk melihat kembali saudari-saudara yang ada di sekeliling kita.

Surat 1 Petrus yang menjadi inspirasi Pesan Natal ini, ditulis untuk jemaat Kristiani di Asia kecil yang sedang menghadapi penderitaan karena penganiayaan. Surat ini berisi nasehat tentang hidup praktis yang sesuai dengan iman Kristiani dan cara jemaat menghadapi cobaan dan penderitaan. Jemaat yang menerima surat ini dinasihati untuk memiliki rasa persaudaraan yang tulus ikhlas di dalam Kristus.

Mereka adalah sesama “pendatang dan perantau” di dunia ini (2:11). Karena perasaan senasib dan sepenanggungan, mereka semestinya hidup seperti bersaudara kandung. Meski berada dalam berbagai cobaan, jemaat diyakinkan mengenai tujuan hidup yang agung, yaitu untuk terus-menerus memurnikan iman mereka (1:7) dan turut ambil bagian di dalam penderitaan Kristus (4:13).

Sebaliknya, dengan memandang kepada Yesus sebagai batu penjuru, jemaat diimbau untuk menanggalkan perilaku yang memecah belah hidup persaudaraan, seperti: kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian dan fitnah (2:1).

Dalam keyakinan tersebut, pengikut Kristus memperoleh identitas baru sebagai umat milik Allah sendiri (2:9) dan dipanggil untuk memberitakan karya-Nya melalui kehidupan mereka ditengah-tengah dunia yang tidak bersahabat serta dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap hati mengasihi satu sama lain (2:12,17).

Natal 2021 mengingatkan kita untuk saling mengasihi dengan segenap hati dalam kasih persaudaraan yang tulus dan ikhlas melalui tindakan belarasa. Yesus Kristus yang kita rayakan kelahiran-Nya mendorong kita untuk mencari jalan-jalan baru yang kreatif untuk saling mengasihi, mewartakan kasih dan membawa damai sejati.

Siapakah Saudaraku?

Siapakah saudari-saudara kita? Bagi mereka yang berada dalam kesulitan, saudari dan saudara adalah mereka yang memberikan pertolongan (bdk. Luk. 10:36-37). Natal kali ini meminta kita yang digerakkan oleh kasih Kristus untuk menjadi saudari dan saudara bagi mereka yang berada di dalam kesulitan.

Orang Indonesia adalah orang yang memegang erat falsafah persaudaraan. Seperti jemaat yang menerima Surat 1 Petrus, kita dengan sesama warga bangsa mesti menghidupi persaudaraan yang melampaui ikatan darah atau identitas primordial lainnya dengan cara berbelarasa dengan saudari-saudara kita, khususnya saudari-saudara kita yang paling membutuhkan.

Belarasa bukanlah sekedar perasaan, tetapi kompetensi etis yang bersumber pada iman dan berbuah pada tindakan, bahkan gerakan untuk membantu sesama secara nyata. Inspirasi iman itu kita temukan dalam diri Yesus sendiri. Ia menjadi sama dengan kita (bdk. Flp. 2:7). Hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan ketika Ia melihat orang-orang yang menderita (Mrk. 8:2).

Ia menyatakan kepada para murid “Hendaklah kamu bermurah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Ia juga menyatakan “…segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Sebagai murid-murid Yesus, dalam hidup kita bersama, kita diundang untuk “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp. 2:5).

Pandemi Covid-19 menyadarkan kita bahwa kita semua adalah saudari dan saudara yang berada dalam satu perahu dunia yang sedang menghadapi badai Covid-19. Dalam situasi ini, falsafah hidup persaudaraan sebagai karakter khas orang Indonesia menjadi semakin bermakna dan semakin mendesak untuk kita batinkan dan wujudkan. Sebagai saudari dan saudara kita diharapkan untuk saling menunjukkan kasih melalui aksi nyata. Persaudaraan yang sejati akan memupuk semangat belarasa.

Semangat Belarasa

Semangat belarasa sebagai kompetensi etis yang bersumber pada iman Kristiani, akan memunculkan pertanyaan yang mesti kita jawab bersama-sama sebagai saudari dan saudara: “Apa yang harus kita lakukan, supaya lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi?”

Ketika jawaban terhadap pertanyaan itu kita temukan -melaui kontemplasi dan analisa sosial- diperlukan kompetensi etis yang kedua, yaitu kerjasama di antara kita. Dari dinamika ini akan muncul gerakan-gerakan baru yang kreatif untuk menanggapi tantangan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang menyangkut berbagai segi hidup manusia.

Dengan hidup saling menolong sebagai ungkapan belarasa satu sama lain, kasih Kristus dihadirkan secara nyata dan kita alami bersama. Mari kita mengambil waktu khusus untuk menjadi saudari dan saudara bagi siapa pun yang membutuhkan pertolongan, karena apa pun yang kita lakukan bagi saudari-saudara kita khususnya yang paling membutuhkan, kita melakukannya bagi Kristus (Mat. 25:31-46).

Semoga perayaan Natal 2021 kali ini sungguh-sungguh semakin mengeratkan relasi kita sebagai anak manusia dan anak bangsa. Relasi yang didasarkan atas dasar Cinta Kasih Yesus Kristus sendiri yang mencintai siapa saja yang dijumpai, terlebih mereka yang membutuhkan sapaan cinta kasih. Tuhan memberkati.