“Mas, bagimu keperawanan itu penting nggak?” tanya seseorang yang dulu pernah dekat dengan saya.

Tapi setelah mendengar jawaban saya, ia langsung menghilang dengan sendirinya. Saat itu saya menjawab “penting” padahal sebenarnya bukan itu jawaban yang ingin saya sampaikan. Hanya saja saya tidak ingin mendengar atau mengetahui aib gadis tersebut. Biarkan saya tetap mencintaimu dengan sempurna, Kasih!

Iya, pengakuan semacam ini tentu menjadi beban masa lalu buat saya. Meskipun sepertinya hanya sebagai cara melarikan diri dari kenyataan, ini adalah permohonan saya kepada para perempuan untuk menutupi seandainya dulu pernah berbuat zina saat pacaran. Ketahuilah, ketidakperawananmu itu tidak penting untuk diungkap!

Selain hanya akan membuat sang suami murka, hal itu bisa membuat perempuan terpandang rendah, dan cenderung direndahkan. Sudahlah, simpan saja rahasia itu sedalam-dalamnya, dan mohon ampunan Tuhan. Semoga Allah menerima tobat Anda dan menempatkan Anda ke dalam surga!

Menurut saya, lebih baik tidak mengetahui daripada mengetahui calon istri saya sudah tidak perawan. Bahkan seandainya sudah menikah pun, tidak perlu mengakui segala aib pada masa lampau. Saya sebagai suami tentu tidak menginginkan mendengar kalimat yang bisa membuat hati dan pikiran panas. Saya menikah ingin bahagia, masa semasa jomblo sudah menderita eh giliran menikah masih saja menderita?

Seandainya tidak mengakuinya, saya akan merasa beruntung karena sudah menikahi perempuan yang saya cintai dengan sempurna, tidak ada cacat keperawanan. Saya akan bahagia menjadi suaminya tanpa harus mengetahui istri saya sudah tidak gadis lagi.  

Coba pandang lekat-lekat gadis yang Anda cintai. Seandainya ia mengakui sudah tidak gadis lagi karena kesalahan masa lalu, apakah serta-merta Anda akan memutuskannya? Tidak, kan? Saya pikir tidak, wong cinta. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan Anda akan terus diganggu oleh bayangan menyeramkan. Anda akan mengorek siapa orang yang telah menodainya, kan?

Bahkan mungkin Anda akan meminta ke perempuan yang sekarang di hadapan Anda untuk bercerita lebih banyak lagi. Bersamaan dengan itu, Anda akan diserang oleh perasaan cemburu. Aturan saya yang berhak, karena saya yang akan menjadi suaminya!

Jika memang Anda memiliki iman, saya sarankan Anda untuk memutuskan saja tanpa banyak komentar. Atau justru nikahi ia sekarang juga. Jangan nanti-nanti! Sebab saya pikir hubungan semacam itu sudah tidak sehat, sangat berbahaya. Sangat mungkin menyeret Anda untuk melakukan zina dengan kekasih Anda. Tentu hal ini tidak diinginkan, bukan?

Selain perempuan tidak perlu mengakui ketidakperawanannya, laki-laki sebaiknya memang perlu berprasangka baik. Tentu ini susah. Itulah sebabnya ada ayat yang mengharamkan seseorang menikahi pezina, kecuali pezina. Seandainya tidak sepadan seperti itu, maka ada pihak yang merasa lebih mulia. Bukankah itu tidak sehat?

Namun jangan salah, lanjutan ayat tersebut terdapat pengecualian, kecuali mereka bertobat. Tentu ayat itu tidak sedang mengajak, mendukung atau menyemangati perilaku menyimpang seperti zina, kan? Namun ke arah memberi kesempatan bagi seorang pezina yang bertobat untuk mendapatkan pasangan yang baik.

Jika seseorang yang sudah bertobat bisa dikatakan sebagai orang baik. Sudah semestinya laki-laki tidak perlu memastikan perempuan yang akan dinikahi masih perawan atau tidak, kan? Coba deh tanyakan kepada perempuan, apakah mereka nyaman dengan dicek keperawanannya?

Lagian belum ada alat yang mampu benar-benar mengetahui masih perawan atau tidak. Bahkan cek keperawanan yang sering dilakukan itu hanya berpatok pada selaput dara. Dan seperti yang dijelaskan oleh para dokter, selaput dara tidak selamanya bisa menjadi patokan.

Berdasarkan penjelasan para dokter, kondisi selaput dara setiap perempuan memang beragam. Ada yang berbentuk tebal sehingga hanya dapat dirusak dengan tindakan operasi, ada pula yang bentuknya sangat tipis sehingga bisa robek tanpa pendarahan. 

Bahkan beberapa anak gadis bisa saja terlahir tanpa selaput dara sama sekali. Ataupun secara tidak sengaja selaput dara mereka robek akibat cedera yang dialami sewaktu masih kanak-kanak.

Dan tuntutan semacam ini sangat merugikan perempuan, loh. Kenapa tidak ada tuntutan tes keperjakaan? Yang lebih mengesalkan, ada orang yang berkata, “Lebih baik menikahi seorang janda, jelas! Ketimbang menikahi seorang gadis berasa janda!” Yang menjadi pertanyaan, memang beneran bisa membedakan rasa perawan dan tidak perawan? Jangan ngaco deh, Bambang!

Terlebih lagi saya sedikit sangsi dengan cara seorang laki-laki untuk mengetahui apakah kekasihnya masih perawan atau tidak. Jangan sampai salah memahami dengan menganggap istrimu seorang pezina hanya karena tidak ditemukannya tanda keperawanan di malam pertama, loh ya!

Bayangkan saja jika Anda berada di posisi perempuan yang kebetulan memiliki selaput dara yang sangat tipis! Lalu pada malam pertama itu, Anda dituduh pernah melakukan zina oleh orang yang Anda cintai! Sementara Anda tidak bisa melakukan pembelaan apa-apa selain kata “tidak”. 

Ya meskipun tidak menuduh secara langsung, pandangan mata yang penuh curiga disertai tatapan kosong itu sangat mengganggu, bukan? Bahkan bisa menimbulkan trauma, loh.

Jangan salah, trauma seperti ini bisa menjadi hal yang serius. Bahkan bahayanya lebih buruk daripada sekadar tidak perawan. Besar kemungkinan, perempuan yang sudah dihinakan, dituduh tidak perawan, baik secara langsung maupun tidak langsung akan mengalami depresi. 

Ketahuilah, hal ini akan mengurangi nikmat dari hubungan seks itu sendiri. Jangan salah sangka, seakan yang menjadi pemicu utama kurangnya kenikmatan seks adalah tidak perawan. Big no!

Tidak mau, kan, Anda sebagai suami dilayani tanpa rasa cinta? Tidak mau, kan, istrimu bersikap dingin tanpa ekspresi apa pun ketika melakukan hubungan seks? Saya pikir kasus ini lebih rawan menuju perceraian daripada tidak perawan. Dan kasus seperti ini bisa dialami oleh perempuan yang pada awalnya masih perawan, loh.

Seperti halnya ada laki-laki yang impoten, ada juga perempuan yang memiliki masalah bernama frigid, yaitu tidak bergairah untuk melakukan hubungan seks. Biasanya timbul karena melakukan hubungan seks dengan terpaksa atau sekadar menjalankan kewajiban. 

Bisa juga karena si perempuan merasa dieksploitasi, dimanfaatkan, direndahkan bahkan bisa sampai pada tahapan menganggap hubungan seks yang menimpanya adalah bentuk “pemerkosaan”. Bisa juga karena memang perempuan tersebut mencintai laki-laki lain, atau merasa trauma dengan si suami yang kasar.

Bahkan bisa saya katakan, kecantikan sang istri lebih utama ketimbang mengorek istri masih perawan atau tidak, karena justru paras sang istri yang akan dilihat setip waktu ketika di rumah. Coba bandingkan dengan keperawanan yang hanya dilihat beberapa menit di awal pernikahan saja! Dan selaput dara pun bisa dimanipulasi dengan mudahnya. Tentu tidak sebanding dengan cantik yang akan tampak setiap saat, kan? Tapi, kan, dia pernah berzina?

Biarpun memang zina adalah perbuatan dosa, bagi saya itu bakal menjadi urusan pribadi dengan Tuhannya. Bahkan Tuhan pun bisa memaafkan jika memang seseorang pernah melakukan zina, asalkan bertobat dengan sebenar-benarnya, kan? Maka dari itu, sudahlah, berhenti mengorek kesalahan masa lalu!

Bukankah ada yang lebih penting daripada ribut masalah keperawanan? Pernikahan kan sebenarnya bukan melulu masalah seks. Seperti mencapai tujuan hidup yang sama, memiliki keturunan yang berkualitas, dan bila kita seorang muslim tentu ada sebuah tujuan besar yaitu menjadikan anak-anak kita ini sebagai agen pembawa perdamaian sebagaimana anjuran agama Islam. Dan pada akhirnya masuk surga bersama-sama.

Dan bila saya paparkan isinya, pernikahan itu akan dipenuhi aktivitas positif yang tiada hentinya. Pasangan suami istri harus saling gotong royong untuk mempersiapkan masa depan anak-anak. 

Lalu di samping kesibukan, kita perlu mendampingi anak-anak kita bermain, belajar dan bersosial. Belum lagi kita perlu memahami keluhan pasangan untuk saling menguatkan. Belum lagi pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan bersama-sama. Seterusnya, dan seterusnya.

Waktu kita akan habis untuk hal-hal baik semacam itu. Berhubungan seks mah hanya mengisi waktu senggang, dan jika kondisi sedang tidak terlalu lelah. Terlebih perawan atau tidak yang cuma secuil itu, tapi malah bisa merusak rumah tangga. Aduh konyol!