Tadi pagi, saya diingatkan oleh media sosial besutan mas Mark Zukerberg tentang kenangan beberapa tahun lalu. Terlihat saya sedang memegang microphone di atas sebuah mimbar. Ya, foto saya sedang memberikan sambutan yang terakhir sebagai pemegang kekuasaan yaitu sebagai ketua ranting ikatan pelajar Muhammadiyah atau kalau di sekolah lain disebut OSIS.

Banyak suka dukanya, salah satunya adalah ketika menjalankan tugas saat upacara bendera hari senin. Biasanya saya dan teman-teman saya nongkrong, eh menjadi penjaga dekat gerbang sekolah untuk memainkan peran sebagai malaikat pencatat amal buruk. Ya mencatat siswa siswi yang terlambat datang sekolah dan tidak mengikuti upacara.

Setiap hari senin, ada saja siswa siswi yang terlambat datang. Sialnya, saat itu, dalam satu bulan terakhir, angka grafik keterlambatan siswa terus meningkat. Bahkan puncaknya hampir 80 orang terlambat dari sekitar 700an siswa yang mengikuti upacara bendera hari senin.

Alasan mereka terlambat juga banyak, ada yang kesiangan (ini yang paling klasik), ada yang ban kendaraan bermotor kempes, ada yang bantu orang tua, ada yang nonton anime, bahkan ada juga alasan yang menyebalkan yaitu terlambat karena disengaja. Disengaja? What The Fun.

Saya enggak ngerti lagi kenapa ada saja siswa yang menyebalkan. Terlambat karena disengaja, lalu si pelaku mengatakan “tenang aja kak, peraturan dibuat untuk dilanggar”. Pendapat macam apa itu, akhirnya saya mengusulkan agar hukuman saat itu berupa hafalan.

Setelah kejadian itu, dibuatlah peraturan oleh pihak sekolah dengan sistem poin, ibaratnya poin itu adalah sebuah nyawa siswa. Masing-masing siswa diberi poin 100, dan akan berkurang jika melakukan pelanggaran.

Sebagai ketua IPM/OSIS, saya sangat bahagia karena akan ada efek jera jika poin tersebut semakin berkurang. Jika sisa 30 poin akan kena SP 1,  20 poin SP 2, 10 Poin SP 3, dan 0 poin dikeluarkan dari sekolah.

Beberapa bulan berikutnya, saya mencoba membuka buku dan menghitung catatan amal buruk siswa tersebut, ada salah satu siswa yang mencapai poin 30, saat dilaporkan memang si ia kena SP namun sialnya si pelaku tetap melakukan pelanggaran hingga poinnya 0. Apa hasilnya? Ternyata ia tidak dikeluarkan dari sekolah.

Ah, ternyata ungkapan “peraturan dibuat untuk dilanggar” ada benarnya, karena peraturan sudah dibuat, namun karena pengawasan yang kurang dan juga jika tidak ada ketegasan peraturan tetaplah peraturan, yang melanggar juga tetap selalu ada.

***

Setelah bernostalgia, saya mencoba melanjutkan membaca media sosial. Dan saya cukup terkejut dengan meningkatnya kasus Covid-19 di salah satu negara, sebut saja negeri dagelan. Ya di negeri dagelan tersebut kasus positif sudah menembus angka satu juta lebih.

Kalau membaca angka satu juta pada followers instagram atau pada subscribe youtube tentu saya bahagia, apalagi jika itu terjadi pada akun instagram atau youtube saya. Namun jika membaca satu juta kasus Covid-19, alamak bingung juga saya.

Loh, kalau grafik naik terus, pasti pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM bakal diperpanjang. Mau tidak mau harus menunda semua rencana hingga akhirnya ke luar kota tidak perlu tes antigen yang cukup menguras kantong.

Naiknya grafik positif tersebut diakibatkan perilaku masyarakat negeri dagelan yang bodo amat. Disuruh pakai masker menutup hidung dan mulut, malah menutup dagu, lalu disuruh menghindari kerumunan malah balapan burung. Aduh bikin rumit saja.

Belum lagi, orang-orang yang percaya Covid-19 hanya konspirasi. Ya terserah deh kalau bab konspirasi. Tapi saya mohon banget, yuk ikuti saja peraturan untuk memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, membatasi mobilitas dan menjadi setia agar Covid-19 ini bisa berkurang.

Kalau begini terus, angka semakin naik signifikan. Kan pemerintah dagelan juga buat peraturan melihat grafik positif juga. Kalau sudah PPKM diperpanjang, kasihan lah kepada orang-orang yang sangat terdampak. Contohnya pedagang-pedagang kecil yang berjualan di sekitar tempat wisata, driver ojol dan kawan-kawan lainnya.

Tapi, kalau masyarakat masih bebal dan enggan mengikuti peraturan. Mungkin ia waktu sekolahnya sama kaya siswa yang saya ceritakan di atas. Yaitu memegang prinsip “Peraturan dibuat untuk dilanggar”.

***

Ya tidak salah, karena peraturan tentang covid-19 itu sebetulnya sudah sangat banyak. Bahkan saya mengira kalau di cetak bisa menjadi kumpulan skripsi yang ditulis oleh sekian puluh mahasiswa di sebuah kampus.

Hanya saja, perlu ada pengawasan yang jelas, dari pihak keamanan harus banyak menyebar hingga ke kampung-kampung. Dan melakukan razia di berbagai perbatasan. Agar memastikan semua mematuhi protokol kesehatan.

Selanjutnya tentu harus tegas, berikan hukuman yang simpel tapi membuat jera. Contoh saja, bisa diberikan hukuman membaca puisi dan membacakan permohonan maaf karena melanggar peraturan sambil direkam video. Lalu, hasil rekamannya harus di unggah di medsos pribadi selama 24 jam dan menandai akun petugas keamanan. Wah pasti jera tuh.

Berikutnya, kalau masih bandel. Petugas coba beri sanksi berupa kurungan sekitar 10 hari di rumah pelaku dengan diawasi oleh tetangga dan juga pejabat setempat. Kalau sudah begini biasanya akan berdampak banyak pada si pelaku.

Tapi ah sudah lah, saya tidak mau berharap banyak pada orang-orang di negeri dagelan, karena selalu berpikir konspirasi. Nanti kalau sudah kena pasti ujung-ujungnya nyalahin pemerintah. Ya sama kaya pengusaha yang menebang pohon terus kena banjir, ujung-ujungnya nyalahin hujan. Dududu