Suatu waktu, ku temui seseorang berlumur keputusasaan. Begitu lusuh tak berdaya, layak teraniaya. Rasanya, ingin sekali bertanya tentang apa yang membuatnya begitu putus asa.

Sementara, jam dinding terus berdetak dan jantungku terus berdegup. Irama keduanya semakin berdengung dalam alunan sunyi. Wahai malam, mari kita sama-sama resapi helaan nafas keheningan.

Pejamkan mata. Dalam gelapnya bilik mata, jagat yang kasat akan menari.

Mata telah genap terpejam, namun masih dangkal. Riuh gaduh di kepala, malah semakin berisik. Perlahan-lahan tersangka mulai muncul, sesuatu yang kadang dilambungkan, kadang kala dijatuhkan, bahkan kadang diinjak-injak. 

"Nak, kamu harus mengikuti perasaan dan kata hatimu".

"Teman, perasaan memang perlu didengar. Tapi, jangan lupakan bahwa kamu juga punya akal". 

"Hey, untuk apa perasaan dituruti. Itu hanya membuatmu terlihat lemah ".

Ya ya ya, tidak usah disamarkan lagi. Ini tentang perasaan. Tapi kemudian, ego terbangun dan sudah barang tentu hendak menghentikan sebuah pengakuan.

(Helaan nafas)

Kasihan sekali seorang yang lusuh itu, putus asa karena sesuatu yang kasat. Tanpa perlu bertanya, kutemukan jawaban bahwa dia berkali-kali jatuh ke jurang yang sama. 

Dalam perjalanan, berkali-kali dia terkecoh oleh perasaan yang salah sangka. Sudah tentu dia lelah, karena siapa yang patut ia salahkan? Apalah, salah-benar tidak berarti di tengah ramainya kacamata potret dengan lensa beragam. 

(Menghela nafas lagi)

Padahal ketika terjatuh, berkali-kali ia mengantungi tekad sekeras batu karang. Mulanya ia berjalan bangkit dan percaya sudah dekat dengan garis kemenangan. Nyatanya, ia menemui jurang lagi dan lagi. 

Jurang yang gelap, jurang yang dalam, jurang yang buas, jurang yang menakutkan. Hm, tidak ada pilihan. Bagaimanapun tetap jurang. 

Perjalanan macam apa ini? Pada akhirnya, mengeluh adalah sikap yang manusiawi. Sepertinya, jika dengan mengeluh beban sedikit terangkat, itu lebih baik daripada bersikap naif bak malaikat bodong. 

Hahaha ini gila, seorang lusuh itu sekarang sudah tidak berselera untuk memulung batu karang lagi. Sementara, aku diam tak berkutik~hanya menonton dari cermin. 

Heran sekali, kenapa tidak marah dan lampiaskan saja? Kenapa begitu betah dengan kepalsuan?

Huft gatal dan geram, aku ingin sekali menceramahi orang lusuh itu. "Hey, coba renungi. Apakah kamu sudah benar-benar putus asa? Bisa jadi, perasaanmu salah sangka lagi!". 

(Hanya terdengar alunan sunyi)

Oh Tuhan, dia benar-benar tidak bergeming. Dia terkecoh oleh perasaannya. Dia sangka, sudah berakhir begitu saja. Apakah dia tidak pikir, kalau masih ada ruang untuk berserah? 

Perasaan yang Salah Sangka

Terlihat seperti pasir, ternyata semut merah. Terlihat seperti gula batu, ternyata arang. Terlihat seperti permata, ternyata kerikil. Terlihat seperti malaikat, ternyata Lucifer. 

Tapi kadangkala tidak selalu begitu. Kadang perasaan salah mengambil konklusi di sisi berbeda seperti; Menilai preman, padahal sufi. Menilai jongos, padahal konglomerat. Menilai cupu, padahal suhu. (Barangkali bernada kasar serta menghakimi, teruskan dan temukan kosakata sendiri).

Yaaa, beginilah kalau malam-malam masih terjaga. Lirik kanan, lirik kiri, lirik semua arah~hening. 

Hela nafas, lagi dan lagi. Sudah terlalu lama, perasaan-perasaan terkubur menjadi buronan salah sangka. Sedikit luapan malam ini, mungkin cukup menjadi plester bagi sisi yang kurang waras. 

Ternyata, hanya bermodal ketik. Dari persoalan putus asa bisa berubah menjadi sebuah kegilaan. Syukurlah, artinya masih ada secercah celah untuk dipolesi 'pengharapan'. Sepertinya, menggila lebih memiliki spirit permukaan dan daya jual bombastis dibanding hopeless.

Baiklah, untuk merayakan setiap lintasan perasaan yang salah sangka. Mari kita mendendangkan kata-kata meski menggila. Tidak apa, sadar tidak sadar, hal baik maupun buruk pasti mendatangkan sebuah pembelajaran.

Jangan jadi durjana pada diri sendiri, maafkanlah. Memang tidak semua hal bisa mudah dikendalikan, termasuk si perasaan. Malah kadang absurd, terasa sudah melalui perjalanan yang panjang hingga jatuh bangun, eh nyatanya bianglala kehidupan itu singkat. Jadi, dimana letak yang benar-benar kesalahan dirimu? Mencoba mendiagnosa sendiri? Hati-hati, jangan salah sangka! Ini semua tentang proses.

Justru berbanggalah sedikit. Rayakan setiap denyut nadinya, lelah diwaktu yang tepat juga hal baik. Dari putus asa, seseorang jadi memiliki jeda untuk merenung dalam-dalam. Kemudian, dalam renung tersebut tentu tersedia pilihan, ada gelas yang terlihat manis, pahit, kejut, bahkan terlihat tanpa rasa. Semuanya hanya dugaan dan raba-raba seorang insan yang penuh dengan keterbatasan. Mau pilih gelas manapun, semuanya tersedia sepaket beserta resiko hehe. 

Iya, ini adalah rangkaian dari realitas hidup. Yok berdamai, dan coba akurkan antara si rumit di dalam kepala dan si ribet yang entah posisi tepatnya dimana. Dada? Jantung? Hati?

***

(notification)

Akhirnya sampai di penghujung tulisan dengan kondisi yang cukup melegakan. Oh iya, sebetulnya tulisan ini tidak menyasar related or no-nya bagi pembaca. Hanya saja, kalau tidak diungkapkan, terasa menumpuk dan sayang nanti hilang (seperti doi). 

Mungkin, tulisan ini bisa diresapi, tapi mungkin juga tidak tercerna. Sehubung dengan racauan malam ini, saya tidak mau minta maaf, dan pembaca bebas menilai. Karena soal menilai dan bersuara adalah kebebasan dan kemerdekaan masing-masing, berlaku bagi kita semua. 

By the way, masih ada beberapa cuil kata untuk penutup. Boleh ya?

Ku kira oasis segar, ternyata belerang panas. Ku kira cacing subur, ternyata ular kawat. Ku kira teh manis, ternyata air seni. Ku kira rumah, ternyata kos-kosan. Alah menyebalkan..