Politisi
5 bulan lalu · 978 view · 6 menit baca · Buku 45141_56224.jpg
Foto: phactual.com

Perang Troya; Takdir dan Pertanda

Keindahan yang paling memukau dalam puisi wiracarita Iliad karya Homerus adalah kemampuannya mengajak kita untuk selalu berpikir ulang mengenai konsep-konsep yang selama ini kita terima begitu saja tanpa keinginan untuk menelaah lebih lanjut. 

Dalam dua kolom sebelumnya, saya menuliskan bagaimana dalam buku-buku Iliad, Homerus menawarkan konsepsi lain tentang kehormatan dan kesetiaan. Dua konsep yang selama ini kita pandang baik-baik saja. Namun Homerus melalui kisah-kisah dalam Iliad menampilkan sisi lain dari dua konsep tersebut.

Kali ini, setelah membaca buku dua belas Iliad, Homerus lagi-lagi mengusik pikiran. Dalam buku ini dikisahkan Hector bertekad menghancurkan benteng pasukan Akhaia. Hector begitu percaya diri dan yakin akan memenangkan pertarungan. 

Namun, di tengah kepercayaan diri Hector dan pasukan Troya yang sudah siap meruntuhkan benteng Akhaia, datang sebuah pertanda yang diduga kuat berasal dari Dewa Zeus. Di atas langit, mereka melihat seekor elang yang mencengkram ular dan terbang ke arah kiri.

Masyarakat Yunani Kuno menganggap penting praktik augury (mencari pertanda dengan mengamati gerak terbang burung). Arah burung yang bergerak ke kiri merupakan pertanda buruk. Itulah yang kemudian mendorong penasehat Hector, Polidamas, meminta agar serangan dihentikan. Hector tetap tak mendengar dan menginstrusikan pasukannya untuk terus mencari cara menghancurkan benteng Akhaia.

“Cukup, Polidamas! Kau mengatakan padaku untuk melupakan rencana Zeus dan semua yang ia janjikan padaku? Apakah kau sedang mengatakan kepadaku untuk menaruh kepercayaan pada burung yang terbang dengan sayap liar panjang mereka? Tak akan pernah! Saya tidak akan pernah percaya dan berpikir ulang karena itu.

Saya tak peduli apakah mereka terbang ke kanan menuju fajar dan matahari terbit atau terbang ke kiri menuju kabut dan gelap! Tidak! Kita harus menaruh kepercayaan pada kehendak kuat Zeus. Raja dari dewa-dewa yang mati dan orang-orang yang mati. Tanda-tanda burung!”, ujar Hector dengan nada mengenyek.

Tak salah jika Hector berpikir demikian. Karena faktanya, dalam buku-buku Iliad sebelumnya, Zeus selalu mengirimkan dewa untuk berkomunikasi dengan Hector soal taktik-taktik penyerangan agar Troya bisa menang. Mungkin ini didasari keputusan Zeus yang diambil berdasarkan hasil timbangan yang memenangkan Troya.

Ternyata Hector dan Troya berhasil mendobrak gerbang benteng Akhaia dengan melempar batu besar. Bahkan Homerus dalam menutup buku kedua belas ini mendeskripsikan ketakutan Akahaia seperti ‘kembali dalam terror, tidak ada jalan keluar, dan tanpa akhir’ karena Troya sudah mendekati kapal-kapal mereka.

Bukankah akhirnya pertanda buruk yang sering dianggap sebagai ketetapan Dewa/Tuhan itu salah? Pada poin ini, terletak pertanyaan menarik; apakah Hector berhasil mengelabui takdir dengan mengabaikan pertanda yang ada? Atau mungkin yang ingin dijelaskan di sini adalah seharusnya manusia percaya pada kekuasaan Dewa/Tuhan daripada sekadar pertanda-pertanda yang terkadang semu?  

Upaya mengelabui takdir bukan hanya dilakukan Hector. Dalam buku sepuluh Iliad, Agamemnon yang ketika itu hendak mengirim dua orang mata-mata ke dalam markas Troya, juga menjelaskan kepada adiknya Menelaus tentang pentingnya mengetahui taktik Troya karena hati Zeus sudah tak bersama Akhaia lagi. 

Apakah di sini Agamemnon juga melawan ketetapan Dewa/Tuhan? Dirinya sadar bahwa Zeus sudah tak bersamanya lagi, tapi ia justru mencoba melawan dengan mencari tahu taktik Troya seperti Zeus sedang tak melihat apa yang sebenarnya manusia lakukan. 

Di akhir cerita, Diomedes dan Odisseus, dua orang mata-mata yang dikirim Agamemnon sukses besar dan bahkan membawa pulang kuda-kuda indah dari Trakia.

Namun berbeda dengan Hector yang melawan pertanda, meski Agamemnon tahu Zeus tak memihak pasukannya, Dewi Athena telah mengirimkan pertanda suara kepakan sayap burung yang bergerak ke arah kanan. Jika dalam kepercayaan Yunani kuno burung yang bergerak ke kiri berarti pertanda sial, kanan berarti pertanda kemujuran. 

Bila Homerus dalam kisah Hector di atas ingin memberi hikmah bahwa manusia tak seharusnya percaya pada pertanda, mengapa dalam kisah Agamemnon ini ia justru menunjukkan kekuatan pertanda yang bahkan seolah melampaui ketetapan Zeus sebagai Dewa tertinggi? Bukankah pula selama ini Homerus kerap menceritakan tentang pertanda sebagai pijakan manusia untuk mengetahui takdir yang telah ditetapkan Dewa/Tuhan?

Alasan terkuat Akhaia masih terus berperang hingga sembilan tahun adalah ramalan Calchas yang melihat sebuah pertanda ular melahap sembilan burung pipit. Pertanda itu berdasarkan tafsir Calchas adalah ketetapan Zeus bahwa Akhaia akan bertarung di Troya selama sembilan tahun dan memenangkan peperangan pada tahun kesepuluh.

Pertanda yang kerap kali dilihat sebagai sebuah takdir atau ketetapan Dewa/Tuhan dalam perspektif yang digambarkan Homerus membawa kita masuk ke dalam ranah konsepsi ketuhanan Yunani kuno yang memang menyerupai sifat-sifat manusia. Kesombongan Hector yang lahir dari kepercayaannya pada ketetapan Zeus melalui hasil timbangan sebenarnya juga menimbulkan perdebatan.

Zeus memang memilih untuk memenangkan Troya dengan menggunakan timbangan yang berada di bawah kendalinya. Namun itu dilakukannya untuk memenuhi janjinya kepada Dewi Thetis, Ibu Akhilles, yang ingin Akhaia kalah dalam perang Troya sampai Akhilles ikut berperang kembali. Zeus ingin membuat Akhaia mengemis kepada Akhilles agar putra Thetis itu mendapatkan kehormatannya sebagai pahlawan penghancur Troya.

Dalam mitologi Yunani Kuno, diceritakan bahwa Zeus memiliki perasaan kepada Dewi Thetis. Di sini terlihat salah satu sifat Dewa Yunani kuno yang menyimpan perasaan atau cinta, persis seperti manusia. (Baca: Belajar dari Kisah Agamemnon dan Akhilles)

Persoalan ini pula yang membuat Raja Agamemnon mengeluh kepada Zeus. Dirinya sebagai Raja tertinggi Akhaia sudah banyak mengurbankan sapi dan kambing sebagai bentuk penghormatan kepada Zeus. Tapi Zeus seolah tak mendengarkannya dan lebih memilih mengikuti keinginan Thetis, sosok yang ia cintai. Apakah ini berarti Zeus sebagai Raja para Dewa, sebagai Tuhan para Tuhan, bertindak tidak adil?

Sebenarnya bukan hanya Agamemnon yang pantas mengeluh, Hector pun seharusnya melakukan hal yang sama. Jika Zeus sudah memiliki ketetapan Troya yang akan menang, mengapa perang Troya pada akhirnya dimenangkan oleh Akhaia dan bukan Troya sesuai hasil timbangan Zeus? Mengapa ia justru memberikan sinyal buruk kepada Hector? 

Mengapa ia tak memudahkan saja jalan Hector? Apakah lagi-lagi ini hanya soal perasaan Zeus saja? Apakah sebenarnya sebagai seorang Raja Dewa, ia hanya sedang bermain-main dengan manusia?

Mungkinkah pertanda buruk ketika Hector hendak meruntuhkan benteng Akhaia merupakan upaya Dewa Zeus untuk berbicara kepada Hector bahwa ia telah mengubah keputusannya? Mungkin kabar buruk tak akan menimpa Hector dan Troya dalam waktu dekat. Tapi bisa jadi keberhasilan Hector tersebut hanya sesaat dan pertanda buruk itu akan menjadi kenyataan di masa yang akan datang. 

Sebab, di awal buku dua belas, Homerus menceritakan bahwa benteng tersebut akan dihancurkan Dewa Poseidon dan Dewa Apollo karena tak dibangun dengan pengorbanan yang selayaknya kepada para dewa. Homerus tampaknya sejak awal telah memberi isyarat untuk tidak memahami pertanda secara sesaat. Pada akhirnya, kita semua tahu Hector mati dalam perang berdarah ini, Troya hancur, dan Akhaia berjaya.

Berbicara soal ketuhanan, kita semua sadar bahwa Tuhan atau dalam agama politeis disebut Dewa, selalu memiliki sifat Maha-Kuasa. Dewa Zeus tentu saja memiliki kuasa untuk mengganti takdir yang telah ia tetapkan. Mungkin saja Agamemnon dan Hector ketika mereka berupaya mengelabui takdir yang telah ditetapkan memiliki kesadaran bahwa takdir – meski telah ditetapkan – tak melulu tetap dan bisa berubah.

Bisa jadi mereka meyakini bahwa takdir adalah sesuatu yang berada di luar kuasa manusia. Dalam kepercayaan Yunani kuno, takdir barangkali bukan tentang seberapa banyak kebaikan dan penghormatan yang telah diberikan kepada sang Maha-Kuasa. Takdir murni tentang hak prerogatif Tuhan. Sebagai manusia, Agamemnon dan Hector tetap harus berusaha sekeras mungkin dengan segala kekuatan yang mereka miliki untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Kompleksitas persoalan takdir dan konsepsi ketuhanan dalam Iliad memang lebih banyak membuat kita bertanya dibanding mendapat jawaban pasti. Namun, di situlah letak kekuatan karya besar seperti Iliad yang lebih banyak menawarkan ambiguitas. 

Tidak ada tafsir tunggal tentang kisah-kisah dalam Iliad. Ambiguitas yang hadir dalam karya ini selalu memunculkan berbagai macam pertanyaan yang mengundang kita untuk berpikir lebih dalam. 

Homerus melalui Iliad tak pernah mengajari atau mendikte jawaban yang pasti kepada pembaca. Mungkin justru itulah rahasia mengapa Iliad setelah ribuan tahun masih terus dibaca dan melahirkan berbagai macam tafsir.