China, Russia, soon allcountries with strong computer science. Competition for AI superiority atnational level most likely cause of WW3 imo - Elon Musk 

Revolusi industri 4.0 menjadi tiket masuk bagi kecerdasan buatan untuk memudahkan segala aktivitas manusia. Bayangkan saja, dari bangun tidur sampai tidur lagi, kecerdasan buatan tidak bisa lepas dari genggaman tangan manusia. Bahasa pemrograman baik di ponsel pintar, mesin, kendaraan, laptop, dan alat elektronik lainnya menjadi tempat berkembangnya kecerdasan buatan.

Sebagaimana makhluk hidup, kecerdasan buatan juga terus tumbuh pesat. Kecerdasan buatan bertransformasi seiring dengan perubahan zaman. Dari yang bersifat rumit menjadi lebih sederhana. Dari yang sulit hingga mudah.

Manusia telah menciptakan kecerdasan buatan, namun kecerdasan buatan dianggap lebih cerdas dari manusia sebagai penciptanya. Robot dengan kecerdasan buatan kelas tinggi telah mampu mengidentifikasi penyakit kanker dalam hitungan jam. Robot itu berhasil mengalahkan rekor belasan dokter di rumah sakit yang biasanya menghabiskan berminggu-minggu untuk mendeteksi penyakit mematikan itu.

Kecerdasan buatan dalam mobil self-driving membuat manusia yang puluhan kali gagal dalam mengikuti ujian kemudi akhirnya bisa bernafas lega, meski sebenarnya kecerdasan buatan sedang tertawa mengejek manusia gagal itu.

Apa benar manusia kalah cerdas dengan kecerdasan buatannya? Bagaimana dengan perasaan? Boleh jadi kecerdasan buatan mampu mengidentifikasi penyakit kanker dengan cepat tapi kecerdasan buatan tidak memiliki hati yang bisa menghibur si pasien jika memang terjangkit penyakit kanker.

Tak aneh jika kecerdasan buatan diprogramkan untuk menghindari kecelakaan di jalan raya, tapi bagaimana dengan mobil yang tiba-tiba mogok di tengah jalan karena rusaknya sistem pemrograman? Apakah kecerdasan buatan bisa memperbaikinya sendiri?

Kecerdasan buatan tetap saja memiliki kelemahan. Tak ada yang sempurna bagi benda atau suatu hal yang dibuat manusia. Di sinilah poinnya, sempurna. Manusia selalu berlomba-lomba untuk sempurna. Kelemahan dari kecerdasan buatan akan terus diperbaiki manusia yang selalu merasa kurang puas.

Terbukti, kini ada kecerdasan buatan yang digadang-gadangkan memiliki perasaan (mungkin ada algoritma khusus berbentuk hati di dalamnya). Adalah robot Sophia, seorang robot yang diklaim paling sempurna karena bisa tersenyum, marah, dan menjajal semua ekspresi manusia lainnya. Robot itu pun mendapatkan kartu identitas kewarganegaraan Arab Saudi layaknya manusia sungguhan.

Lalu apa manusia merasa puas? Tentu saja tidak. Robot itu masih lembek, tidak seperti manusia pada umumnya.

Banyak yang bilang ketidakpuasan manusia justru membuat ilmu pengetahuan berkembang. Namun Bagaimana jika sifat itu justru membuat manusia merasa bahwa entitas mereka paling sempurna sampai meniadakan Tuhan. Mereka tidak butuh Tuhan karena merasa paling sempurna, begitu kira-kira sanggahannya.

Kecerdasan buatan hasil ketidakpuasan manusia akan menimbulkan banyak kekacauan, bahkan lebih parahnya dianggap akan menciptakan masa kegelapan sampai peperangan.

Elon Musk, seorang pemimpin perusahaan teknologi, menganggap bahwa kecerdasan buatan lebih bahaya dari Korea Utara dan program nuklirnya. Bos mobil listrik Tesla dan SpaceX ini merasa insecure dengan negara superpower di bidang komputer seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Negara tersebut akan terus berlomba dalam meningkatkan kecerdasan buatan.

Tingkat kompetisi yang tinggi itu dikhawatirkan menimbulkan rasa saling curiga antar negara. Akhirnya, Perang Dunia III menjadi sesuatu yang tidak mustahil untuk terjadi.

Kecerdasan buatan melalui pesawat tempur tanpa awak contohnya. Pesawat itu bisa saja dijalankan dari jarak jauh untuk menyerang basis musuh. Nuklir bisa diaktifkan hanya dengan beberapa algoritma saja tanpa perlu berada di kandang lawan.

Suatu saat nanti robot militer pun dilegalkan negara untuk menahan serangan nuklir itu. Lambat laun, robot militer pun digunakan negara untuk menginvasi negara lain. Begitulah gambaran rasa saling curiga antar negara.

Kecerdasan buatan merupakan representasi dari manusia sebagai pembuatnya. Sifat dasar manusia yang bagaikan serigala bagi serigala lain tak bisa dilepaskan begitu saja. Manusia pun diidentifikasi sebagai makhluk yang selalu berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu. Sifat dasar inilah yang membuat kecerdasan buatan sebagai sebuah ancaman nyata.

Stephen Hawking menyambut baik kedatangan kecerdasan buatan yang dapat mengentaskan berbagai macam persoalan manusia. Di sisi lain, Hawking juga mewanti-wanti akan bahaya dari kecerdasan buatan manakala tidak dikelola dengan baik namun siapa bisa menyangkal sifat dasar manusia yang sudah terbukti sejak pertama kalinya Nabi Adam diturunkan ke bumi ini. 

Lalu berlanjut peristiwa pembunuhan Habil oleh Qabil untuk menyelamatkan hasratnya sampai bencana kemanusiaan di Selandia Baru yang baru-baru ini terjadi. Deretan peristiwa memilukan itu adalah contoh nyata dari sifat dasar manusia yang selalu mempertahankan egonya sehingga cenderung berkompetisi ketimbang bersinergi.

Kalau perang akibat ulah kecerdasan buatan benar-benar terjadi, apa kecerdasan buatan akan dimasukkan ke bui atas perbuatannya yang keji? Dan apakah kecerdasan buatan dihakimi di akhirat kelak? Tentu saja tidak, karena bagaimanapun juga manusialah yang bertanggung jawab atas kekacauan yang dibuat olehnya.

Sejatinya genderang perang melawan kecerdasan buatan sudah ditabuh, jauh-jauh hari sebelum kecerdasan buatan itu dibuat. Bukan perang antar manusia dengan kecerdasan buatan secara langsung, melainkan antar manusia dengan egonya sendiri. Inilah sejatinya perang.

Bagaimana manusia merasa puas akan hasil temuanya dengan mengucapkan syukur atas nikmat Tuhan yang memberinya akal untuk berpikir. Bagaimana manusia tidak ada apa-apanya dengan langit dan seisinya. Bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap temuannya. 

Bagaimana manusia bisa saling bersinergi dan berkolaborasi untuk menciptakan perdamaian dunia. Semua gejolak pertanyaan itu hanya bisa dijawab melalui hati bukan otak. Kalau masih tidak dapat dijawab barangkali manusia perlu mencerna kalimat berikut ini:

Sekarang banyak setan menganggur karena banyak manusia yang kelakuannya lebih bejat dari setan itu sendiri.