Researcher
2 tahun lalu · 2665 view · 3 min baca menit baca · Sejarah sex_and_war.jpg
http://www.case.edu

Perang Dunia II dan Masalah Seksualitas

Dalam buku Year Zero karya Ian Buruma (2014) digambarkan mengenai kehidupan seksual di negara-negara yang terlibat perang pada masa Perang Dunia II (PD 2). Buruma menuliskan bahwa perang telah menimbulkan degradasi moral, maraknya prostitusi, dan kejahatan seksual. Bahkan, fakta mengejutkan, banyak wanita Jerman, Jepang, dan Belanda, yang dengan sukarela “bergaul” dengan tentara Sekutu baik karena motif ekonomi maupun pemenuhan kebutuhan biologis semata.

Seksualitas dan Tingkat Kelahiran Bayi di Wilayah “Pecahnya” PD 2

Hal menarik pertama dari Year Zero yang ingin saya angkat adalah kehidupan seksual di negara-negara yang menjadi lokasi perang. Awalnya saya berpikir bahwa perang justru mengurangi angka kelahiran bayi, sebab laki-laki menjadi tentara dan wanita menggantikan peran laki-laki di beberapa sektor ekonomi.

Akan tetapi, Buruma mendapatkan data bahwa selama PD 2, telah lahir ribuan bayi di tempat pecahnya perang. Peningkatan tersebut juga diiringi dengan jumlah penderita HIV AIDS yang meningkat hingga lima kali lipat.

Yang mengejutkan, kondisi mengerikan di kamp-kamp pengungsi Yahudi juga ternyata tidak menghentikan aktivitas seksual pengungsi. Tercatat sebanyak 750 bayi lahir setiap bulannya di kamp-kamp tersebut. Sebagai contoh, di kamp Bergen Belsen yang pasca penyerahan Jerman kepada Sekutu berada di bawah kekuasaan AS, hampir sepertiga wanita Yahudi yang berusia antara 18-44 tahun melahirkan bayi. Hal tersebut menunjukkan bahwa di tengah kondisi perang yang sangat buruk sekali pun, mereka tetap manusia “yang mampu memproduksi kehidupan”.

Kejahatan Seksual Selama PD 2

Kejahatan seksual terbesar dalam sejarah perang dilakukan oleh tentara Jepang. Puluhan ribu wanita lokal di wilayah-wilayah pendudukan Jepang diperkosa, dimutilasi, dan dibunuh. Dua contoh yang paling mengerikan yaitu peristiwa penaklukan Jepang di Nanking, Korea, dan Manila.

Mereka biasanya masuk ke rumah-rumah penduduk, kemudian menculik wanita dan menjadikan mereka budak seks. Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal sebutan jugun ianfu (dalam istilah Amerika disebut dengan comfort women) yang berarti para wanita yang dijadikan budak seks di markas-markas pendudukan Jepang.

Di lain pihak, tentara Sekutu juga tercatat melakukan kejahatan seksual selama PD 2. Pada pertengahan kedua tahun 1945, diperkirakan terdapat 45 kasus pemerkosaan oleh tentara Sekutu setiap harinya. Di Stuttgart, Jerman Barat (zona kekuasaan Soviet), tentara Perancis (khususnya Algeria) memperkosa tiga ribu wanita Jerman.

Ada hal yang menarik dari tulisan Buruma mengenai karakteristik kejahatan seksual di zona Sekutu dan zona Soviet di Jerman. Berdasarkan penelitiannya, di wilayah yang dikuasai Soviet, tingkat perkosaan lebih tinggi dibandingkan wilayah yang dikuasai tentara Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Kanada.

Hal ini disebabkan karena Tentara Merah menaruh dendam terhadap pasukan Jerman yang memporak-porandakan Stalingrad pada 1942. Stalin sendiri dalam biografi yang ditulis oleh Simon Sebag Montefiore, memaklumkan tentaranya yang telah menempuh perjalanan ribuan mil untuk bersenang-senang dengan wanita.

Maraknya Prostitusi

Buruknya ekonomi pasca perang telah menimbulkan maraknya prostitusi. Di Frankfurt, dikenal rumah bordir Tante Anna dimana wanita-wanita Jerman menjual diri kepada para prajurit Amerika. Di Jepang, prostitusi dilembagakan oleh Pemerintah Jepang.

Pemerintah merekrut wanita-wanita Jepang untuk “mengorbankan tubuh mereka” melalui Asosiasi Rekreasi dan Hiburan sebagai tugas patriotik. Hal tersebut dianggap perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menghindari aksi balas dendam Tentara Sekutu terhadap kejahatan seksual yang dilakukan Jepang.

Pemerintah Jepang bahkan mengkategorisasi layanan seksual menjadi tiga kelompok. Pertama, layanan yang hanya ditujukan bagi tentara asing kulit putih. Kedua, layanan bagi tentara asing kulit hitam. Ketiga, hanya melayani orang Jepang. Selain itu, banyak pula tempat prostitusi yang dikelola oleh swasta yang dikenal dengan sebutan onrii (layanan satu panpan girl untuk satu klien) dan batafurais (satu panpan girl dijual ke banyak klien).

Wanita Jerman dan Seksualitas

Dituliskan dalam Year Zero bahwa banyak wanita Jerman yang bersedia “tidur” dengan tentara Sekutu. Faktor kebersediaan tersebut disebabkan oleh kondisi ekonomi Jerman yang ambruk sehingga mereka membutuhkan uang untuk meneruskan hidup.

Seringkali mereka menawarkan seks hanya untuk sebatang cokelat atau satu lusin telur. Kedua, rasio jumlah laki-laki dan wanita Jerman sangat tidak proporsional, yaitu 1:10 atau bahkan 1:16. Hal ini menimbulkan sulitnya menemukan pasangan bagi wanita Jerman.

Sebenarnya, pada awalnya “bergaul” dengan wanita Jerman dilarang oleh Allied Control Council. American Forces Network mengeluarkan publikasi berjudul “Pretty girls can sabotage an Allied victory.” Begitu juga Stars and Stripes, sebuah koran militer, mewaspadai tentara dengan slogan “Soldiers wise don’t fraternize.” Akan tetapi, iri melihat Tentara Merah yang dibebaskan untuk melakukan apa saja terhadap wanita Jerman, Tentara Sekutu memprotes larangan tersebut.

Pada Oktober 1945, Allied Control Council pada akhirnya menghentikan larangan tersebut. Tentara Sekutu diperbolehkan “bergaul” dengan syarat: (1) tidak menikah dengan wanita Jerman, dan (2) tidak memasukkan wanita Jerman ke dalam barak tentara. Peraturan tersebut pada kenyataannya dilanggar oleh banyak tentara, sebab puluhan ribu wanita Jerman meninggalkan Jerman bersama suami baru mereka ke Amerika Serikat.

Kesimpulan

Masalah seksualitas selama perang telah menuai kontroversi. Mulai dari maraknya prostitusi hingga keheranan akan peningkatan jumlah kelahiran bayi. Hal ini, apakah secara singkat menunjukkan bahwa manusia, dalam apapun kondisinya, tetap tak dapat menutupi naluri biologisnya? Sebab, masalah seksual bukan hanya soal syahwat, tetapi "producing of life",

Artikel Terkait