1,5 tahun sudah sejak genderang perang berdentum yang menjadi tanda dimulainya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Meski kini tensinya mereda, namun hal ini tidak menjadi arti bahwa AS and Cina akan berkompromi terhadap satu sama lain. 

Seluruh dunia merasakan dampak dari saling lempar tarif antara dua raksasa perekonomian ini. Indonesia pun tidak luput dari efek perang dagang yakni dengan adanya perlambatan terhadap ekonomi. 

Alasan dibalik aksi lempar tarif impor yang diberlakukan oleh AS dan Cina ini diawali oleh AS yang berusaha menutupi pembengkakan dalam defisit neraca perdagangannya. 

AS merasa bahwa negara yang paling diuntungkan saat ini adalah Cina sehingga ia berusaha mematikan pasar Cina dengan menaikkan tarif impor terhadap barang-barang dari Cina yang menyebabkan Cina kehilangan pasar terbesar mereka. 

Lalu, bagaimana pengaruh perang dagang antara dua negara digdaya ini terhadap Indonesia?

Dampak Perang Dagang

Indonesia sebenarnya tidak terlibat dalam perang dagang yang diserukan AS dan Cina. Namun, dampak yang dirasakan Indonesia cukup signifikan, terutama di bidang ekspor bahan mentah untuk infrastruktur seperti baja dan aluminium serta pangan berupa minyak sawit dan lain sebagainya.

Hal ini terjadi karena AS berusaha menutup akses barang yang masuk dari Cina yang membuat Cina otomatis kehilangan pasar mereka. Hasilnya, Cina yang sudah terlanjur memproduksi barang dengan jumlah banyak mau tidak mau harus menemukan pasar baru yang sama besar dengan AS.

Dengan begini, Cina menargetkan wilayah sekitar Asia Tenggara, termasuk Indonesia sebagai tempat pengalihan produksi mereka. Hal ini semakin berdampak karena negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia belum cukup kuat untuk menyaingi Cina.

Ditambah, Cina menganut Dumping Politic yang artinya Cina memberlakukan upah yang rendah terhadap tenaga kerja mereka. Lalu, mereka dapat memproduksi barang dalam jumlah yang besar dan memasarkannya dengan harga lebih rendah di luar negeri.

Hal ini menyebabkan lebih banyak konsumen yang lebih memilih untuk membeli barang produksi Cina karena harga yang lebih murah. Hal ini tentu akan membunuh pasar domestik, termasuk Indonesia. Hal ini menyebabkan lambatnya laju ekonomi Indonesia.

Langkah yang Harus Diambil Pemerintah

Karena ekonomi Indonesia tengah digempur, maka sudah sewajarnya pemerintah mengambil langkah untuk mencegah kejatuhan pada sektor ekonomi. Langkah yang dapat diambil adalah dengan menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia. 

Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah barang impor yang masuk ke Indonesia untuk menhentikan defisit negara yang tengah membengkak.

Kendati hal ini akan memperlambat pembangunan infrastruktur di Indonesia karena sebagian besar proyek-proyek infrastruktur harus mengimpor bahan dari luar negeri. Namun pemerintah tetap mengupayakan keberlanjutan pembangunan infrastruktur berdasarkan urgensi pembangunannya.

Selain itu, kestabilan harga komoditas barang dan nilai kurs mata uang Indonesia juga harus tetap dijaga. Ini akan menjadi PR besar bagi pemerintah karena pemerintah harus mengurangi impor dan meningkatkan barang ekspor, namun pemerintah juga harus memastikan barang yang tersedia juga cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. 

Di samping itu, pemerintah juga harus memastikan barang yang akan diekspor keluar negeri merupakan barang yang tepat. Mengingat, pasar ekspor Indonesia sebagian besar merupakan negara berkembang yang mungkin akan memberlakukan kebijakan yang hampir sama terkait ekspor-impor.

Apakah Rakyat Perlu Ambil Peran?

Tentu saja pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Masyarakat yang notabenenya merupakan konsumen aktif juga harus berpartisipasi dalam menjaga perekonomian Indonesia jauh dari krisis. Aksi mencintai produk lokal sudah menjadi propaganda sejak lama, namun tak pernah habis disuarakan.

Pengaruh globalisasi yang cenderung westernisasi menjadi problema yang menghambat kecintaan sebagian masyarakat terhadap produk lokal. Pada lapisan masyarakat tertentu, produk lokal tidak menjadi pilihan karena bukan berasal dari brand terkenal.

Sedangkan pada lapisan lain, produk lokal dianggap terlalu mahal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup westernisasi yang diterapkan oleh sebagian besar remaja. 

Sebagian besar dai mereka beranggapan bahwa dengan selalu menggunakan barang-barang dengan brand terkenal dapat menyokong status sosial mereka. Sementara kaum lain yang mempermasalahkan harga yang terlalu mahal, mereka kurang memahami kerumitan dalam pengerjaan suatu produk lokal. 

Seperti contoh, banyak orang yang mempermasalahkan harga tas dari anyaman rotan yang dinilai terlalu mahal, padahal hal ini disebabkan oleh kerumitan pengerjaannya. Hal ini bisa menjadi catatan bagi pengusaha lokal agar mampu menciptakan barang lokal yang berkualitas untuk membunuh citra rendahan atas produk lokal.

 Selain menyuarakan propaganda cintai produk lokal, masyarakat juga harus mulai menjadikan investasi sebagai pilihan dalam mendukung pasar modal di Indonesia. Juga, dengan banyaknya investasi akan membantu menambah pendapatan nasional. 

Karena investasi merupakan salah satu komponen penentu pendapatan nasional. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi juga dapat diukur dari jumlah investasi masyarakatnya. Selain itu, investasi juga dapat membantu masyarakat dalam menghadapi laju inflasi. 

Secara garis besar, dapat diambil kesimpulan bahwa laju ekonomi Indonesia terpengaruh dengan adanya perang dagang ini. namun hal ini dapat dapat diatasi jika pemerintah dan juga masyarakat mampu bekerjasama untuk menopang perekonomian di Indonesia.