Penulis
2 bulan lalu · 2222 view · 4 min baca menit baca · Politik 19273_89570.jpg
Radar Kontra

Perang Badar dalam Penetrasi Politik Oposisi

Serasa baru kemarin seorang Basuki Tjahaja Purnama yang populer dengan nama panggilan Ahok "memaksa" umat Islam membuka kembali kitab sucinya. Para Pakar berlomba menurunkan kitab tafsir untuk mengadu argumentasi makna dan maksud QS Al Maidah ayat 51.

Kasus penodaan agama yang diarahkan pada mantan Gubernur DKI Jakarta ini cukup menyita dan menguras tenaga serta perhatian publik, dan berhasil mengantarkan Ahok ke balik jeruji besi atas tekanan politik kelompok oposisi yang mengusung rival politiknya dalam kontestasi Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017.

Pasal yang berhasil menyeret Ahok ke penjara ini kemudian dicoba digunakan oleh Abu Janda atau Permadi Arya dan Jack Boyd Lapian untuk membungkam Rocky Gerung atas ucapannya dalam forum ILC TV One yang menyebutkan, "Jika fiksi berfungsi mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci adalah fiksi." Akan tetapi, tidak berhasil melaju ke meja hijau, karena lemahnya kepentingan politik.

Rocky Gerung bukanlah pejabat publik. Ia hanya seorang pengamat politik dan pengajar filsafat yang kebetulan menyalurkan aspirasi dan hak politiknya pada kubu oposisi atau pasangan Capres-Cawapres nomor 02. Berbeda dengan Ahok yang notabene adalah Gubernur Petahana DKI Jakarta.

Politisasi agama memang sangat seksi sebagai menu pilihan utama dalam politik, khususnya dalam pemilu 2019. Pemilu serentak yang sejatinya untuk memilih Presiden dan memilih anggota Legislatif, yaitu DPR DPD dan DPRD, tapi pada kenyataannya Pemilu Presiden lebih mendapat porsi perhatian publik ketimbang Pemilu Legislatif.

Seolah ingin mengulang keberhasilannya dalam meraih kursi DKI 1 dengan mengalahkan Ahok, dalam menghadapi Presiden Petahana, kelompok oposisi kerap menggunakan metode dan strategi yang sama dalam Pilpres 2019. Isu agama tetap menjadi tema sentral dalam mengagregasi kepentingan politik, meski dalam perjalanannya terkadang blunder dan menimbulkan kontroversi.


Kamis, 21 Februari 2019, Neno Warisman membuat kehebohan dengan "Puisi Munajat 212". Puisi yang dibacakan Neno dalam malam munajat 212 di kawasan Monumen Nasional Jakarta tersebut menyebutkan:

"Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami, Dan menangkan kami, karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu".

Puisi yang disadur dari doa Nabi Muhammad SAW pada waktu perang badar dahulu sangatlah tidak relevan jika dianalogikan dengan pelaksanaan Pilpres 2019, bahkan menegaskan sikap arogan dan intoleran Neno dan kelompoknya seolah hanya Neno dan kelompoknya yang menyembah Allah dan di luar mereka atau rakyat Indonesia yang menggunakan hak politiknya untuk memilih pasangan Capres no urut 01 tidak menyembah Allah.

Pada kenyataannya teramat banyak para ulama, orang alim, dan orang-orang saleh lainnya yang tidak terlibat dalam politik praktis, maupun terlibat langsung menjadi pendukung Jokowi atau Prabowo, tapi mereka selalu bangun di keheningan malam untuk berzikir dan bermunajat dengan linangan air mata demi keselamatan bangsa dan negara, diam-diam tanpa ada kamera ataupun publikasi.

Belum lagi umat Islam di belahan dunia yang lain, negara-negara lain selain Indonesia. Mereka tidak ikut Pilpres dan tidak ada kepentingannya dengan siapa pun yang menjadi Presiden Indonesia, apakah mereka tidak menyembah atau berhenti menyembah Allah?

Tentu saja puisi Neno tersebut mengundang gejolak dan beragam tanggapan juga menimbulkan kontroversi bahkan blunder di kalangan umat Islam Indonesia sendiri, seperti apa yang disampaikan ulama sepuh karismatik KH Mustofa Bisri alias Gus Mus yang menilai adanya puisi mengutip doa perang badar yang dibacakan oleh Neno Warisman tersebut akibat sikap politik yang berlebih-lebihan. Karena sikap berlebih-lebihan itulah mereka kemudian lupa akan sejarah perang badar.

Menurut Gus Mus, doa perang badar dibaca Nabi Muhammad dalam keadaan kepepet atau terdesak. Di mana ketika itu Nabi Muhammad yang memimpin sekitar 300-an pasukan harus berhadapan dengan musuh yang berkekuatan seribu lebih.

Senada dengan Gus Mus, Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif menegaskan bahwa pembacaan puisi itu merupakan tindakan sadis dan biadab dengan menyeret Tuhan dalam percaturan politik di Indonesia. 

Selain itu, Buya Syafii Maarif juga mengatakan bahwa dirinya prihatin atas sikap politikus di Indonesia yang berpikiran pendek tanpa memikirkan nasib bangsa ke depan hanya untuk memenangkan kontestasi politik bernama Pemilu yang biasa saja dan berlangsung tiap lima tahun.

Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, begitu pepatah mengatakan. Jumat, 10 Mei 2019, Habib Hanif Alatas dalam orasi politiknya di atas mobil komando di depan gedung Bawaslu, Jl MH Thamrin Jakarta, kembali menyinggung tentang perang badar.

Menurut Habib, demo dalam rangka pengawalan laporan kecurangan pemilu yang dilaporkan Tim BPN Prabowo-Sandi ke Bawaslu di bulan Ramadan tersebut dikarenakan perang badar juga terjadi di bulan Ramadan. Bukan cuma itu, bahkan penaklukan kota Makkah pun terjadi di bulan Ramadan.

Ironis memang, di saat institusi negara KPU sedang menjalankan tugasnya secara berjenjang melakukan rekapitulasi penghitungan suara dan belum diketahui hasilnya secara resmi, di sisi lain kelompok oposisi melakukan penetrasi politik dengan mengerahkan massa dan menuntut KPU untuk mendiskualifikasi Capres 01, atau dengan kata lain memenangkan Capres 02.


Memang benar jika dilihat dari sejarahnya perang badar terjadi di bulan Ramadan, akan tetapi selepas perang badar, Nabi bersabda kepada para sahabatnya bahwa ada perang yang jauh lebih besar dari dahsyatnya perang badar, yakni perang dengan diri kita sendiri dalam rangka mengendalikan hawa nafsu.

Hakikat puasa adalah untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang bertakwa dengan cara mengendalikan diri sendiri atas hawa nafsu. Sulit memang jika hal itu dilakukan tanpa kesadaran dan keimanan serta kesungguhan hati. Bahkan secara eksplisit Allah Swt menjelaskan dalam firman-Nya QS Al Balad ayat 12 - 13:

"Wamaa adraka mal 'aqobah. fakkuroqobah" (Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu membebaskan budak dari perbudakan).

Mengacu kepada pendapat KH AF Ghazali, Bandung, dalam memaknai ayat tersebut bisa diartikan bahwa yang dimaksud dengan membebaskan budak (yaitu diri kita sendiri) dari perbudakan (yaitu diperbudak oleh hawa nafsu).

Dari penjelasan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa Sulitnya mengendalikan dan melepaskan diri sendiri dari perbudakan hawa nafsu, laksana jalan yang mendaki dan teramat sukar, terlebih perbudakan oleh nafsu syahwat kekuasaan.

Artikel Terkait