Masyarakat awam pasti lebih mengenal definisi perang secara konvensional, yaitu perang antara dua kubu yang menggunakan pasukan militer dan senjata. 

Perang dalam sejarah manusia diawali dengan menggunakan senjata tajam dan senjata tumpul untuk membunuh musuh. Perkembangan teknologi membuat senjata perang makin canggih. Senapan, meriam, rudal, granat, pesawat tempur, kapal perang, bom atom, dan lain-lain menjadi senjata andalan setiap negara dalam perang setelah era Revolusi Industri.

Pengertian Perang Asimetris

Mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu, mengatakan perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer, namun daya hancurnya tidak kalah bahkan lebih dahsyat daripada perang militer. Perang asimetris memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan. 

Ada dua bentuk dalam perang asimetris. Pertama, melalui aksi massa di jalanan dalam rangka menekan target sasaran. Kedua, melalui meja para elite politik dan pengambil kebijakan negara agar setiap kebijakan sejalan dan pro asing.

Sasaran perang asimetris, yaitu membelokkan sistem sebuah negara sesuai kepentingan kolonialisme; melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyatnya; menghancurkan ketahanan pangan dan energi; selanjutnya, menciptakan ketergantungan negara target atas kedua hal tersebut.

Perang konvensional (militer) dan perang asimetris (non militer) ternyata memiliki pola yang sama. Pola perang konvensional adalah bombardir wilayah musuh melalui pesawat tempur dan artileri, kemudian masuknya pasukan kavaleri berupa tank dan kendaraan lapis baja lain, terakhir pendudukan oleh pasukan infanteri.

Pola perang asimetris ternyata memiliki roh yang sama, walau wujud atau aksinya berbeda. Tahap pertama dalam perang asimetris juga diawali dengan bombardir, namun berupa isu-isu yang ditebarkan oleh pihak-pihak tertentu. 

Sedangkan masuknya kavaleri dalam perang asimetris disebut tema atau agenda, contohnya agenda gerakan massa untuk menurunkan rezim penguasa setelah sebelumnya dibombardir oleh isu-isu. Tahap akhir dalam pola perang asimetris juga masuknya infanteri, analogi dalam perang asimetris adalah kendali sistem ekonomi dan sumber daya alam di negara target.

Dampak Perang Asimetris untuk Dunia Internasional

Perang dunia 2 yang terjadi pada tahun 1939-1945 memberi dampak kerusakan hebat untuk dunia. Negara pemenang perang dunia 2, Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba untuk menjadi penguasa tunggal dunia. 

Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak pernah sama sekali berperang menggunakan kekuatan militer. Mereka lebih menggunakan model perang asimetris, yaitu perang tanpa kekuatan militer. Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dikenal dengan istilah perang dingin.

Pelajaran dari kerugian dan mahalnya biaya perang secara militer membuat kedua kubu berperang secara ideologi, ekonomi, teknologi, dan intelijen untuk menguasai dunia. Dampak dari perang dingin adalah bubarnya Uni Soviet pada 1991. Intervensi politik dan kebijakan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat serta Blok Barat membuat ekonomi Uni Soviet terpuruk dan memperkuat alasan bubarnya Uni Soviet.

Gerakan politik Arab Spring juga merupakan perang asimetris yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutu. Arab Spring menggunakan model gerakan massa dalam rangka menurunkan rezim dan elite penguasa otoriter di negara-negara Arab. 

Hasilnya, Presiden Ben Ali di Tunisia jatuh, Hosni Mubarak di Mesir tumbang, Muammar Gaddafi di Libya diadili rakyatnya, serta Suriah yang masih pecah perang saudara. Melalui isu-isu pemerintah diktator dan gerakan massa menjadi amunisi utama perang asimetris Amerika Serikat dan sekutu untuk dominasi politik dan ekonomi di dunia Arab.

Republik Rakyat Tiongkok sukses menyandera beberapa negara, yaitu Angola, Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka, dan Pakistan melalui kebijakan pinjaman utang luar negeri untuk pembiayaan infrastruktur. 

Zimbabwe memiliki utang sebesar 40 juta dollar AS kepada Tiongkok, namun Zimbabwe tidak mampu membayar utangnya kepada Tiongkok. Dampaknya, Zimbabwe harus mengganti mata uangnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang.

Sri Lanka juga tidak mampu membayar hutang luar negerinya kepada Tiongkok. Konsekuensinya, Sri Lanka harus melepas pelabuhan Hambatota sebesar 70 persen sahamnya dijual kepada BUMN Tiongkok.

Dampak untuk Indonesia

Indonesia pun tak luput dari target perang asimetris. Mantan Panglima TNI, Jendral (purn) Gatot Nurmantyo dalam ILC mengatakan, “Indonesia ibarat gadis seksi yang menjadi rebutan. Presiden Sukarno pernah mengatakan semua negara akan iri dengan kekayaan Republik Indonesia.”

Semua kejadian dalam negeri akan digunakan untuk menggoyang Indonesia yang kaya akan energi dan pangan. Invisible Hands akan terus mencoba melemahkan kehidupan berbangsa dan bernegara, kata Gatot.

Gerakan mahasiswa 1966 yang didukung militer merupakan wujud dari perang asimetris kepada Indonesia melalui aksi massa. Dampak gerakan tersebut adalah jatuhnya Bung Karno dari kursi Presiden Indonesia. Arah kebijakan Bung Karno yang anti Nekolim dan investasi asing membuat gerah Blok Barat.

Setelah Bung Karno jatuh, arah politik Indonesia lebih condong ke Amerika Serikat dan Blok Barat. Investasi asing mulai diizinkan masuk ke Indonesia. Pada tahun 1967, Pt. Freeport mulai menambang emas di Papua.

Pada masa Presiden Habibie, Indonesia kembali menjadi sasaran perang asimetris melalui kebijakan negara. Proyek pesawat N250 milik Indonesia terpaksa harus dihentikan karena desakan IMF. Hal tersebut sebagai syarat dalam klausul perjanjian pendanaan untuk Indonesia setelah krisis moneter 1997/1998.

Narkoba juga digunakan sebagai alat untuk perang asimetris kepada Indonesia. BNN menyebutkan 3,6 juta masyarakat Indonesia sudah menjadi pengguna narkoba. Koordinator Indonesia Narcotics Watch (INW), Josman Naibaho mengatakan ada upaya pelemahan generasi muda Indonesia melalui penyelundupan narkoba. Kalau ingin menguasai Indonesia 20 tahun ke depan, hancurkan dulu generasi muda Indonesia.

Menurut Josman Naibaho, kerja sama internasional tidak optimal lantaran ada upaya untuk menghancurkan Indonesia. Menurutnya, ada upaya perang asimetris untuk menaklukkan Indonesia oleh negara tertentu melalui narkoba.

Perkembangan ilmu dan teknologi membuat virus bisa digunakan sebagai alat perang asimetris. Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo Subianto mengatakan “perang yang akan datang bisa saja menggunakan senjata-senjata baru yang tidak pernah dibayangkan oleh manusia. 

Virus dapat menjadi senjata untuk menghancurkan peradaban manusia, untuk menghancurkan negara-negara. Virus dapat merusak pangan, menghancurkan masyarakat dan sebuah tentara”.

Indonesia juga harus mewaspadai potensi gagal bayar utang luar negeri seperti Zimbabwe dan Sri Lanka. Peneliti Institute dor Fevelopment of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman menegaskan pemerintah perlu kehati-hatian dan kecermatan dalam mengelola utang luar negeri terutama yang berkaitan untuk pembangunan infrastruktur. Dikhawatirkan aset-aset vital negara kelak akan dikuasai oleh asing.