Dosen
3 tahun lalu · 321 view · 3 min baca menit baca · Ekonomi demo-taksi20gojek20rusuh.jpg

Perang Antar Borjuis Transportasi

Semakin maju sebuah negara maka semakin sesak negara tersebut menampung populasi manusia yang hidup di dalamnya. Semakin pesat pula mobilitas penduduk di dalam negara tersebut, terutama di wilayah perkotaan. Kota adalah kantung-kantung urban tempat modal dan manusia dipertukarkan karena mengempisnya sendi-sendi perekonomian di daerah pedesaan.

Kini kota di Indonesia beramai-ramai menjadi tambun atau obesitas karena tidak mampu menahan laju ekonomi yang berkembang dengan nyaris tanpa pola yang jelas. Sebagai episentrum dari pertumbuhan pembangunan ekonomi, kota-kota di Indonesia, terutama Jakarta, betul-betul menjadi “capital city”.

Artinya, Jakarta diatur oleh rotasi kencang kapital atau modal yang berporos pada wilayah titik tengah perkotaan yang menyebabkan kota ini harus melebar secara horizontal demi memenuhi kebutuhan tempat tinggal manusianya. Ekspansi eko-geografis secara “rodo semrawut” ini menjadikan penduduk Jakarta sebagai manusia-manusia yang tidak punya kendali atas kotanya sendiri.

Tugas pertama pemerintah adalah merebut kembali kendali kota dari pemodal dan mengembalikannya kepada daulat tertinggi, yakni masyarakat. Tapi jika tugas “ekstrim” pertama itu tidak mampu direalisasikan secara cepat, minimal kendalikan secara perlahan kekuasaan para pemodal tersebut melalui regulasi.

Satu contoh terdekat dan nyata yang menggambarkan ketidakmampuan pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengendalikan pemodal adalah kerusuhan antar supir taksi dan supir ojek online beberapa hari yang lalu.

Karena merasa kemapanannya diganggu, beberapa pemodal transportasi yang “bergaya lama” akhirnya menciptakan konflik sosial dengan mengadu buruh-buruh transportasi mereka dengan buruh-buruh perusahaan lawan mereka yang “bergaya baru”.

Konflik yang terjadi pada demonstrasi supir taksi tersebut adalah untuk meninggikan posisi banding secara politik ekonomi dengan menciptakan tekanan sosial besar lewat kerusuhan antar supir taksi dan supir ojek online, untuk mendapatkan keberpihakan regulasi pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Akibatnya, banyak masyarakat dan supir ojek online yang menjadi korban (baca : dikorbankan) pada kerusuhan tersebut. Tumbal manusia untuk menjadi pondasi kekuasaan dan keuntungan profit sejak zaman Firaun sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan.

Dulu perusahaan-perusahaan armada taksi ini pun pernah didemo oleh para supir angkutan umum lainnya, tetapi tidak sampai menjadi konflik sosial, karena pemilik kapital tidak mengerucut pada segelintir individu. Selain itu, kepemilikan para pemilik kendaraan umum atas modal pun tidak terlalu besar untuk bisa menciptakan kerusuhan sosial.

Korporasi taksi di Indonesia berkembang sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Maka wajar bila “kenyamanan” para pemilik perusahaan taksi ini terganggu dengan datangnya “anak baru” dengan gagasan online-nya. Customer dimanjakan dengan koneksi digital penghubung antar supir kendaraan pesanan dan pelanggan.

Dunia transportasi kini telah direbut dari gaya transportasi konvensional menuju gaya transportasi yang dihubungkan dengan jejaring luas aplikasi digital. Seharusnya pemerintah provinsi dan pemodal belajar untuk lebih bijaksana dalam menentukan arah tindakan.

Pemerintah seharusnya mempunyai pandangan visioner dalam memimpin megacity seperti Jakarta, pemerintah seharusnya bisa mencegah kerusuhan karena perang antar borjuis transportasi tersebut dengan regulasi yang jelas dan memihak kepada rakyat.

Jangan pernah terulang lagi pengadudombaan buruh transportasi di Jakarta atau di kota manapun di Indonesia. Lalu para penguasa kapitalpun seharusnya lebih manusiawi dalam mengambil keputusan, jangan bunuh sisi kemanusiaan kalian dengan keserakahan kemapanan pribadi dan golongan.

Persaingan bisnis kiranya dapat diselesaikan dengan berjabat tangan bersama atau jika terpaksa harus bersaing, maka bersainglah secara sehat dengan tanpa menghilangkan hak-hak lawan bisnis dan hak-hak masyarakat. Ubah gaya pemasaran produk, sesuaikan dengan konteks zaman yang sudah serba terhubung dengan jejaring besar digital. Tidak akan rugi mengeluarkan kocek untuk mempropagandakan produk jasa kalian atau aplikasi digital kalian.

Karena korporasi yang tidak siap menghadapi konteks zaman yang dinamis akan tergerus dengan kemajuan peradaban manusia. Mari sama-sama kita bersihkan panggung besar bernama Jakarta ini, agar kita bisa bersama-sama berdiri diatasnya dan menunjukkan kepada dunia senyuman kita. Jakarta adalah altarnya Indonesia, apa yang diperbuat Jakarta akan diikuti pula oleh kota-kota lainnya di Indonesia.

Jakarta adalah jendela untuk melihat bagaimana rupa Indonesia, dahulu, kini dan nanti. Indonesia bukan negara sosialis atau komunis, tapi bukan berarti kita membiarkan kebuasan para kapitalis menggerogoti sendi-sendi negara ini. Jangan ada lagi perang antar pemodal atau borjuis yang menumbalkan rakyat atau kaum proletar. Jangan ada lagi!

Artikel Terkait