TKI atau Tenaga Kerja indonesia adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Namun, istilah TKI sering kali dikonotasikan dengan pekerja kasar karena TKI sejatinya memang adalah kumpulan tenaga kerja unskill yang merupakan program pemerintah untuk menekan angka pengangguran.

Selain ditujukan untuk mengurangi jumlah pengangguran dalam negeri, TKI juga dianggap sebagai salah satu sumber pendapatan devisa negara. Maka dari itu sering disebut pahlawan devisa karena menambah mata uang asing di kas negara karena umumnya TKI akan mengirimkan sebagian dari penghasilan mereka ke tanah air. Ada yang mengirim untuk membantu keluarga mereka, ada yang memang mengalokasikan uang tersebut untuk tabungan mereka ketika kembali lagi ke tanah air.

Ketika TKI mengirimkan uang ke tanah air terjadi sumbanga devisa negara karena para tki ini harus "membeli" rupiah dengan menggunakan mata uang asing tersebut. Semakin banyaknya mata uang asing, yang ditukarkan untuk sejumlah rupiah akan berakibat pada 2 hal yaitu:

  1. Bertambahnya simpanan uang asing yang menjadi sumber devisa
  2. Kebutuhan terhadap rupiah meningkat,dan sesuai hukum "supply and demand" maka nilai mata uang rupiah akan menguat dibanding mata uang asing 

Semakin banyak TKI menghasilkan upah dan mengirimkannya ke indonesia,semakin besar juga kontribusi mereka terhadap naiknya devisa negara. semakin besarnya juga pertumbuhan devisa negara maka berimbas pada tinginya tingkat pertumbuhan ekonomi indonesia

Dewasa ini jumlah TKI di luar negeri mencapai angka yang terhitung sangat banyak,yaitu sekitar 8 juta orang yang tersebar diberbagai negara di dunia ini, sedangkan upah minimal yang mereka dapatkan selama bekerja di luar adalah sebesar 10 juta sampai 20 juta setahun per orang. Dengan kata lain mereka mampu menghasilkan devisa negara yang masuk minimal dalam angka kisaran 160 triliun rupiah dalam kurun waktu satu tahun.

Nilai devisa yang dihasilkan TKI ini berada di posisi kedua setelah sektor migas dalam hal pendapatan devisa negara. Itu pun merupakan kontribusi devisa dari TKI jalur legal. Selain para TKI yang memang terdaftar atau resmi dan mendapat jaminan dari pemerintah indonesia, terdapat pula TKI yang pergi mencari nafkah dari jalur illegal entah itu pergi sendiri dengan visa visit atau melalui agen agen palsu yang memberikan janji manis.

Jika mereka yang menjadi TKI Legal maupun Ilegal dikumulatifkan dengan disertai pembenaan dan peningkatan penanganan TKI hal ini telah diprediksi akan menjadi sektor utama penghasil devisa negara Indonesia. Saat ini TKI yang pergi bekerja di negara lain ada dua macam dilihat dari skll atau kemampuan mereka,yang pertama adalah TKI yang bekerja di luar yang memang memiliki skill dalam bidang tertentu contohnya orang yang bekerja di perusahaan asing di luar negeri.

Sedangkan yang kedua adalah TKI yang dikenal sebagai TKI non-skill yaitu TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga maupun pengasuh anak. Tetapi TKI non-skill tersebut lebih cenderung berkontribusi lebih banyak dibandingkan dengan yang mempunyai skill, mereka berkontribusi sebesar 90% dari permintaan pasar di luar negeri.

Dibandingkan dengan negara yang juga banyak memiliki Tenaga Kerja di luar wilayahnya semisal Filipina dan India, Indonesia masih cukup jauh tertinggal di bawah kedua negara tersebut. Karena menurut data yang diperoleh Bank Dunia Filipina telah mendapatkan devisa sebesar 10 Miliar USD bahkan india telah mencapai angka 20 miliar USD, angka tersebut cukup jauh berbeda dengan Indonesia yang baru mendapat devisa sekitar 5 miliar USD.

Data ini masih menunjukkan bahwa Indonesia belum bisa mengoptimalkan potensi dari sektor tenaga kerja indonesia. Dilain sisi data ini bisa saja menjadi pendorong semangat untuk meningkatkan ketenagakerjaan kita di dunia internasional, bahkan indonesia yang disebut sebut sebagai negara dengan SDM yang sangat banyak apa lagi populasi penduduk di indonesia berada diperingkat 4 terbanyak di dunia.