Sejarah pers di Nusantara telah bermula sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) antara tahun 1602-1799. Pers yang berkembang saat itu adalah pers Belanda dan Inggris yang terbit untuk kepentingan mereka dan bersifat kolonial. Pada tahun 1744, di Batavia (saat ini bernama Jakarta) terbit surat kabar Bataviasche Nouvelles yang terbit selama dua tahun. 

Dalam konteks Banten, pada tahun 1923-1924 di Rangkasbitung terbit mingguan berbahasa Belanda, yakni Pengharapan Banten. Ada juga surat kabar Tirtayasa di Bandung dan surat kabar Surasowan yang terbit di Batavia tahun 1929. 

Tahun 1940 terbit De Banten Bode dan De Banten Voreitz serta majalah Utusan Banten yang dicetak di Serang dengan mesin cetak yang digunakan untuk mencetak Oeang Republik Indonesia Daerah Banten alias Oridab (Lubis, 2003: 142-143). 

Saat ini kita bisa menikmati seperti apa rupa koran zaman baheula De Banten Bode di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten. Berlokasi di depan terminal Pakupatan, Kota Serang.

Pers pada tahun pertama penerbitannya di Hindia Belanda berorientasi pada tiga hal, yaitu motivasi komersial, beberapa di antara mereka ada juga yang idealis, dan yang melihat pers sebagai alat untuk menjaring pengikut atau misionaris (Adam, 2003: 25). Khusus yang terakhir, biasanya pers dikelola oleh para misionaris Nasrani dalam menyebarkan agama Kristen. 

Perkembangan pers di Banten paling menonjol adalah ketika Provinsi Banten berdiri tahun 2000. Sejak saat itu mulai banyak bermunculan pers dalam bentuk surat kabar. Sebut saja misalnya Harian Banten yang kemudian berganti nama menjadi Radar Banten dan Fajar Banten yang kemudian berganti nama menjadi Kabar Banten. 

Koran-koran lain kemudian menyusul seperti Banten Raya Post (saat ini berubah menjadi Banten Raya), Tangerang Ekspres, Banten Pos, Tangsel Pos, Satelit News, dan lainnya. 

Saat dunia menemukan internet, pers juga memanfaatkan media ini yang ditandai dengan munculnya detik.com. Setelah itu, di Banten pun bermunculan pers daring (online) yang jumlahnya saat ini makin banyak. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Biem.co pada Mei 2019, ada 121 media massa siber di Banten yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Banten. 

Peran pers selama ini membuat dinamika di pemerintahan daerah menjadi dinamis. Kritik-kritik yang disampaikan pers melalui berita yang dibuat cukup memberikan warna bagi pembangunan di Kota Serang. Sebut saja misalnya rencana pembangunan Masjid Agung Kota Serang yang rencananya akan dibangun di Alun-alun Barat Kota Serang. 

Rencana itu mendapatkan banyak kritik karena pembangunan di alun-alun akan merusak cagar budaya yang ada di sekitar daerah tersebut. Akhirnya, entah kebetulan atau tidak, pembangunan Masjid Agung Kota Serang diputuskan oleh Pemerintah Kota Serang akan dilakukan di Masjid Ats Tsauroh. 

Rencana pembuatan Raperda Hiburan juga mendapatkan pertentangan keras dan menjadi isu panas ketika diberitakan. Banyak ulama yang menentang rencana tersebut karena khawatir hanya upaya “melegalkan” tempat hiburan di Kota Serang dengan alasan mendapatkan pendapatan asli daerah. 

Media sosial dan kerja wartawan 

Perkembangan teknologi internet membawa kita pada era media sosial. Dengan adanya media sosial, semua orang, meski bukan wartawan, bisa mengabarkan peristiwa apa pun yang mereka temui. Bahkan kerap terjadi masyarakat lebih dulu mengabarkan peristiwa daripada wartawan. 

Dengan kondisi ini, apakah wartawan sudah tidak dibutuhkan lagi? Apakah cukup kita serahkan semua pencatatan peristiwa dilakukan masyarakat biasa, dengan pendekatan jurnalisme warga? 

Saya rasa tidak. Sebab ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengabarkan peristiwa, misalnya mengonfirmasi pihak-pihak yang memiliki otoritas. 

Bila dalam peristiwa kriminal, misalnya, maka warga akan berpikir dua kali untuk menghubungi polisi untuk mengonfirmasi peristiwa. Atau ketika ada peristiwa kebakaran, maka warga tidak akan mewawancarai petugas pemadam kebakaran untuk mengetahui penyebab kebakaran atau kerugian yang diderita.

Warga juga rasa-rasa tidak akan mau repot-repot meneruskan berita peristiwa ke pihak-pihak lain, misalnya psikolog, tokoh agama, politisi, dan seterusnya. Sementara wartawan memiliki tugas untuk menjernihkan masalah kepada sidang pembaca/penonton.

Tantangan pers ke depan

Dengan makin mudahnya orang merekam dan membagikan cuplikan peristiwa dengan ponsel lalu mengunggahnya di media sosial, maka tantangan wartawan ke depan adalah menjernihkan informasi yang berseliweran di media sosial. 

Sebab banyak informasi di media sosial yang terkadang dibesar-besarkan dengan harapan mendapatkan perhatian publik, padahal peristiwa sesungguhnya tidak sebesar yang ditulis. Atau menyebar kabar bohong alias hoaks. 

Ini yang harus diluruskan oleh pers. Sebab pembaca membutuhkan berita yang benar-benar terjadi. 

Selain itu, tantangan lain pers di Banten, khususnya di Kota Serang, adalah membuat liputan mendalam yang sudah sejak lama dikembangkan di Amerika pada tahun 1940-an. Salah satu karya yang menjadi rujukan adalah reportase mendalam yang dibuat Jhon Harsey tentang korban pengeboman Hiroshima tahun 1945 yang berhasil selamat.