Arsiparis
2 tahun lalu · 265 view · 2 menit baca · Pendidikan 42-formasi-cpns-smk-d3-s1-anri-arsip-nasional-republik-indonesia.jpg
(Foto: cpnskementerian.info)

Peran Perpustakaan, Lembaga Kearsipan dan Museum Menuju Masyarakat Literasi

Memori dalam benak kita adalah ingatan masa lalu (sejarah) yang selalu akan dipakai untuk menghadapai persoalan maupun untuk sarana pengambilan keputusan  masa yang akan datang. Ada anggapa bahwa orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dari masa lalu berarti hidupnya tak lebih hanya makan dan tidur. Bahkan ungkapan Proklamator Jasmerah, ”jangan sekali kali melupakan sejarah” masih sering dikutip oleh para cendekiawan untuk mengingatkan pentingnya sejarah dalam menghadapi masa yang akan datang.

Saat ini United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), oragnisasi PBB yang bergerak di bidang Pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan sudah mencanangkan proyek pengamanan Warisan Dokumentasi Dunia yang dicanangkan dalam program MEMORY OF THE WORLD.

Dalam pandangan Unesco, memori dunia adalah dokumentasi yang tersimpan di perpustakaan, kearsipan, dan museum di seluruh dunia. Dan itu merupakan warisan dunia yang harus dilindungi keberadaannya.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) baru-baru ini juga getol mengusulkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Gerakan Non Blok agar diakui sebagai memory of the world oleh UNESCO. Itulah salah satu peran yang bisa kita ambil untuk turut menyediakan informasi bagi literasi dunia global.

Perpustakaan, kearsipan dan museum adalah tiga institusi penting dalam menjaga warisan memori dunia tersebut. Untuk itu, keberadaannya menjadi strategis dalam menyediakan informasi bagi penggunanya. Mengapa demikian? Karena ketiga intitusi tadi menyimpan arsip baik tertulis, tercetak dan terekam sehingga memudahkan orang untuk mengingat kembali masa lalunya.

Sebab, jika hanya mengandalkan ingatan personal saja, banyak keterbatasan yang akan menjadi ganjalan. Dengan tersimpan di ketiga institusi tersebut maka memori masa lalu menjadi memori kolektif yang bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, baik secara lokal maupun internasional.

Bagi sebagian atau banyak orang, istilah literasi hanyalah merujuk pada pengertian melek huruf dan angka. Sebenarnya, istilah literasi ini sudah berkembang jauh pengertiannya. Literasi adalah bagaimana kemampuan seseorang mencari, menggunakan dan menyimpan informasi yang dipakai untuk memberdayakan eksistensinya dalam bermasyarakat.

Melihat pengertian literasi tersebut maka peranan Perpustakaan, Lembaga Kearsipan dan Museum untuk memberikan informasi agar tercipta masyarakat yang terliterasi menjadi begitu strategis.

Ketiga institusi tadi adalah sarana orang untuk menemukan informasi, mengolah dan berbagi informasi, dan oleh karena itu koleksi yang dimilikinya harus mudah diakses dan lengkap sehingga membiasakan masyarakat untuk selalu bersinggungan dengan informasi.

Bila sudah terbiasa bergelut dengan sumber informasi maka sesorang akan mudah menemukan di mana, ke mana, pada siapa dan kapan ia harus mencari informasi yang dibutuhkannya.  

Untuk menciptakan masyarakat literasi, tanpa memaksimalkan peranan ketiga institusi di atas, akan sangat tidak mungkin dilaksanakan. Walaupun dunia Cyber sudah begitu pesat perkembangannya, namun itu hanyalah sarana untuk memjembatani informasi, bukan informasi itu sendiri. Oleh karena itu ketiga institusi tersebut harus mulai memanfaatkani kemajuan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyajikan informasi ke khalayak.

Sekali lagi, di era millenium ini aktivitas baca, tulis, dan hitung sudah bukan zamanya lagi, tapi bagaimana kita memperoleh, dan mengolah informasi yang dapat dipakai seseorang dalam upayanya memberdayakan dirinya untuk mengatasi persoalannya adalah yang utama.

Last but not least, peranan institusi penjaga memori dalam menyajikan informasi yang mudah, cepat, murah, dan lengkap harus menjadi prioritas utama agar bisa turut berpartisipasi menciptakan  masyarakat literasi. Dan tentunya ini harus mendapat dukungan dari setiap elemen, baik pemerintah maupun swasta. Salam literasi.


Daftar Bacaan

Edmonson, Ray. Memory Of The World: General Guidelines.  Paris; Unesco,  2002.
Horton Jr, Forest Woody . Understading Information Literacy: A Primer. Paris: Unesco, 2007.