Tidak terasa, sebentar lagi pandemi Covid-19 akan merayakan first anniversary sejak kedatangannya pada bulan Maret 2020 lalu. Sayangnya, ia tak memiliki iktikad baik kepada penduduk bumi sebagaimana tamu lainnya. 

Kita akui bersama, tiada sektor yang tak lumpuh menghadapi pandemi. Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati menegaskan empat sektor yang paling tertekan sekarang ini, yaitu rumah tangga, UMKM, korporasi, dan sektor keuangan. 

Penurunan Kinerja Perbankan

Percaya atau tidak, kinerja perbankan BUMN menurun 40% pada akhir kuartal III 2020 lalu. Hal ini disebabkan adanya restrukturisasi kredit yang diberikan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). 

Sederhananya, rekstrukturisasi kredit memperbolehkan pelaku UMKM mendapat keringanan pembiayaan, seperti penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu angsuran kredit, maupun pengurangan tunggakan pokok kredit. 

Sekilas, perbankan menjadi superhero dadakan bagi pelaku UMKM karena menjadi angin segar kehidupan mereka. Pertanyaannya, apakah perbankan syariah memiliki strategi khusus dalam menghadapi pandemi? Jangan-jangan malah duplikasi kebijakan perbankan konvensional?

man on edge of cliff

Perbankan Syariah Sudah Berpengalaman 

Tidak seperti perbankan umum, kondisi pandemi bisa dibilang menjadi pendongkrak kinerja perbankan syariah. Diakui sendiri oleh Sri Mulyani Indrawati, perbankan syariah tumbuh lebih pesat daripada perbankan konvesional di tengah pandemi.

Tidak heran, perbankan syariah berhasil membuktikan daya tahannya saat berhadapan dengan krisis tahun 2008 lalu. Saat perbankan konvensional jatuh terpuruk, perbankan syariah masih berdiri gagah.

Masihkah Perbankan Syariah Tahan Banting saat Pandemi?

Yang cukup menarik dalam kondisi yang sangat menekan akibat Covid-19, intermediasi perbankan nasional cenderung mengalami penurunan, tapi kinerja perbankan syariah justru stabil dan tumbuh lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional (ucap Sri Mulyani Indrawati dalam acara Sharia Business and Academic Strategy 2020).

Sebelumnya, perbankan syariah berhasil menjadi cahaya saat krisis 2008. Apakah keberhasilannya akan terulang lagi saat pandemi? Jawabannya, Alhamdulillah perbankan syariah sekali lagi membuktikan kontrubusinya. 

Dari sisi aset, perbankan syariah tercatat tumbuh 10,97% secara tahunan, sedangkan perbankan konvensional yang hanya tercatat 7,7% secara tahunan. Dari sisi pembiayaan, perbankan syariah berhasil tumbuh 9,42%, berbanding jauh dengan perbankan konvensional yang hanya tumbuh 0,55% secara tahunan.

Bukan hanya unggul dari sisi aset dan pembiayaan, daya tahan perbankan syariah juga cukup membanggakan. Tercatat Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal sebesar 23,5%. Angka ini tentu sangat bagus, mengingat nilai CAR mencerminkan kesehatan bank secara industri yang baik berkisar 12 -14%.

Presentase kredit bermasalah atau pinjaman yang mengalami kesulitan pembayaran pada perbankan syariah juga cukup kecil. Kabar gembira tersebut dapat dilihat dari Non Performing Financing Ratio (NPF) hanya sebesar 3,31%. 

Hal ini juga diperkuat dengan penelitian Najmi dkk (2017) yang membuktikan perbankan syariah lebih stabil menghadapi krisis keuangan dibanding perbankan konvensional.

person holding white and red card

Solusi Khas Perbankan Syariah

Berbeda dengan perbankan konvensional, perbankan syariah memiliki beberapa langkah jitu yang dapat diberikan kepada masyarakat. Menurut Kepala Institut Bank Indonesia Solikin M. Juhro, sektor ekonomi syariah memiliki instrumen keuangan sosial yang dapat berkontribusi dalam beberapa hal berikut:

  1. Mengantaskan kemiskinan,
  2. Mendistribusikan kekayaan secara adil,
  3. Meningkatkan ketahanan sosial, dan
  4. Mengurangi ketimpangan sosial

                                                                                                                                          Beberapa kekuatan utama dari keuangan Islam yaitu Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF). Selama ini, kita menganggap ZISWAF hanya boleh diterima oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ).

Padahal, perbankan syariah juga menjadi perantara dalam menerima ZISWAF, kemudian menyalurkannya kepada LAZ. Hal ini senada dengan Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang berbunyi,

Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.

Mengapa tidak disebutkan pengumpulan wakaf? Uniknya, hal tersebut diatur secara khusus pada ayat selanjutnya, yaitu Pasal 4 ayat (3) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang berbunyi,

Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai kehendak pemberi wakaf (waqif).

ZISWAF bukan hanya berbicara tentang penurunan ketimpangan, tetapi juga berbicara tentang kolaborasi perbankan syariah, LAZ, dan masyarakat berpenghasilan tinggi. Perbankan syariah menjadi perantara masyarakat penghasilan tinggi untuk menyalurkan sebagian hartanya ke LAZ.

person leaning on wall while holding gray hat

Perbankan Syariah Ramah UMKM

Sebagai tulang punggung negara, UMKM berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Artinya, apabila UMKM tidak berkembang dan tidak berinovasi, maka besar kemungkinan terjadinya kebangkrutan dan menambah pengangguran. 

Sebagai bagian dari perbankan, perbankan syariah juga menyediakan layanan pembiayaan UMKM. Pembiayaan perbankan syariah kepada UMKM bukan sembarang makna. Pembiayaan tersebut terbukti efektif berkontribusi dalam merajut hidup UMKM ke depannya, terutama dalam penyerapan tenaga kerja (Muryasari, 2017).

Kontribusi Aktif atau Kejar Eksistensi?

Menjamurnya perbankan syariah di negeri Zamrud Kharulistiwa bukan hanya sebatas embel-embel "syariah" ataupun sekadar eksistensi. Pembuktian perbankan syariah sebagai solusi bagi masyarakat umum bukanlah sebuah asumsi lagi, melainkan telah menjelma menjadi keniscayaan.

Potensi Indoenesia sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia haruslah dimanfaatkan dalam segi yang positif. Persiapan tenaga kerja yang kompeten dalam bidang perbankan syariah juga perlu dipersiapkan dengan baik. Tujuannya tidak lain tidak bukan adalah demi terwujudnya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin, bukan sekadar label saja.

Daftar Pustaka

Suheriadi. (2020). Menakar Kekuatan Perbankan Syariah Dalam Peran Pemulihan Ekonomi Nasionak. Diambil dari https://infobanknews.com/etalase/shariah-insight/menakar-kekuatan-perbankan-syariah-dalam-peran-pemulihan-ekonomi-nasional/

Ulya, F.N. (2020). Meski Pandemi, Pembiayaan UMKM Bank Syariah Tetap Tumbuh. Diambil dari https://money.kompas.com/read/2020/10/09/173000926/meski-pandemi-pembiayaan-umkm-bank-syariah-tetap-tumbuh

Elena, M. (2020). Sri Mulyani Ungkap Kinerja Bank Syariah Lebih Oke dari Bank Konvensional. Diambil dari  https://finansial.bisnis.com/read/20201229/231/1336389/sri-mulyani-ungkap-kinerja-bank-syariah-lebih-oke-dari-bank-konvensional

Najmi, Achsani, D.A, Dilla, N.A, Salsa. (2017). Pengaruh Krisis Keuangan Global dan Faktor Internal-Eksternal Perbankan terhadap Profitabilitas Perbankan Indonesia: Perbandingan Perbankan Syariah dan Perbankan Konvensional. Diambil dari https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/89452

Setyawan, F.A. (2021). Jokowi Klaim Kinerja Bank Syariah Stabil di Tengah Pandemi. Diambil dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210201144922-78-600886/jokowi-klaim-kinerja-bank-syariah-stabil-di-tengah-pandemi

Wardyah, N.S. (2020). Rekstrukturisasi Kredit OJK Bantu UMKM Bertahan di Masa Pandemi. Diambil dari https://www.antaranews.com/berita/1822204/restrukturisasi-kredit-ojk-bantu-umkm-bertahan-di-masa-pandemi