Di era globalisasi saat ini, kecepatan dalam memperoleh dan memproses informasi sangat dibutuhkan. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, perkembangan informasi beredar dengan cepat. Karena itu, pada abad ke-21, menguasai literasi numerasi, sains, teknologi informasi, finansial, budaya, dan kewarganegaraan merupakan keharusan. 

Literasi artinya upaya untuk melek, menguasai, dan memahami dengan baik. Tentu, dalam hal ini, generasi milenial harus melek literasi. Jika tidak, generasi ini pelan-pelan akan tergilas oleh zaman.

Tak diragukan lagi, literasi amat penting. Paling tidak, John Miller, petinggi The World’s Most Literate Nation, mengatakan, ilmu pengetahuan selalu terkait dengan pengaruh, kekuasaan, dan kesuksesan ekonomi. 

Untuk menggapai kesemuanya itu, diperlukan penguasaan literasi yang mumpuni. Sebab, ilmu pengetahuan dan literasi menciptakan kekuatan di dunia. Contoh sederhana, adakah negara maju di dunia ini yang miskin pengetahuan literasi?

Berkaca pada Jepang

Lihat, misalnya, Jepang. Mereka kini sangat menguasai industri di dunia. Tidak bisa dimungkiri bahwa Jepang melakukannya bukan dengan instan. Mereka melakukannya perlahan dengan tentu saja dimulai dengan literasi. 

Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa Jepang termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Namun, seperti diungkapkan di atas, mereka tak melakukannya dengan instan.

Mereka sudah memulainya seabad yang lalu. Maka kini, lihatlah, tidak peduli di mana pun mereka berada, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, mereka akan terlihat asyik membaca buku di dalam kereta, stasiun maupun airport. Mereka kutu buku sejati dan haus akan pengetahuan. 

Rujuklah faktanya bahwa tiap tahun, lebih dari 1 miliar buku dicetak di Jepang. Kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Teknisnya, para guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun.

Kebijakan ini terbukti ampuh sehingga mereka menjadi negara maju. Dan, dalam peringkat PISA, mereka berada jauh di atas Indonesia. 

Sementara itu, peringkat Indonesia pada literasi begitu memprihatinkan. Dalam studi The World's Most Literate Nations 2016, kita berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Kita hanya unggul dari negara Botswana, negara terasing di Benua Afrika.

Di tingkat regional, pada tahun 2011, UNESCO bahkan pernah merilis hasil survei budaya membaca terhadap penduduk di negara-negara ASEAN dengan hasil yang mengejutkan: 0,001. Artinya, dari sekitar seribu penduduk Indonesia, hanya satu yang masih memiliki budaya membaca tinggi. 

Melihat kondisi inilah kemudian pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud melakukan sebuah perubahan di sekolah dengan mengeluarkan peraturan wajib membaca sebelum pembelajaran dimulai selama 15 menit.

Peran Penting Keluarga

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud tentu menjadi sebuah hal yang positif untuk perkembangan masyarakat Indonesia. Ini merupakan upaya meniru langkah yang sudah dilakukan Jepang seabad lalu. 

Karena itu, kebijakan ini harus didukung oleh masyarakat. Dalam pada ini, keluarga bisa mengambil peran strategis. Apalagi kemudian, Ki Hajar Dewantara pernah mencetuskan bahwa keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat merupakan tri sentra pendidikan.

Artinya, ketiga sentra ini harus saling mendukung demi terciptanya ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi. Dan, pada trisentra itu, keluarga berada pada posisi pertama dan utama. 

Itulah sebabnya bahwa dalam pendidikan anak, kehadiran keluarga adalah sebuah keniscayaan. Ini bukan main-main. Berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dalam pendidikan dapat meningkatkan prestasi belajar anak.

Selain prestasi belajar, penumbuhan karakter harus dimulai dari keluarga. Itu artinya kerja sama dan keselarasan antara pendidikan yang dilakukan di satuan pendidikan dan di lingkungan keluarga merupakan kunci keberhasilan pendidikan. 

Pasalnya, sekolah tidak dapat memberikan semua kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya. Keluarga harus hadir untuk menciptakan ekosistem yang baik.

Bukankah anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika lingkungan sekitarnya mendukung, yakni orang tua, guru, dan anggota keluarga lainnya serta masyarakat sekitar? Lalu, jika kita sudah sepakat bahwa keluarga sudah merupakan hal penunjang penting, langkah apa yang berikutnya kita lakukan? 

Banyak! Misalnya, menerapkan wajib membaca selama 45 menit di rumah. Perhitungannya sederhana. Karena negara kita sudah terpaut jauh 30 tahun dengan Jepang, dengan wajib membaca di sekolah selama 15 menit dan 45 menit di rumah, maka setiap anak akan memperoleh waktu wajib membaca selama 60 menit atau selama 1 jam.

Supaya budaya membaca ini berjalan dengan baik, orang tua perlu hadir memberikan portofolio atau buku reflektif, semacam bukti rekaman hasil membaca anak. Dalam buku reflektif ini, sekolah dan keluarga sama-sama melihat perkembangan anak. Maka, dalam buku ini, harus dicantumkan buku apa saja yang telah dibaca anak di rumah. 

Kemudian, di sekolah, setiap anak hendaknya menceritakan poin penting dari setiap buku yang sudah dibaca. Dalam hal ini, guru sebagai pendidik di sekolah menjadi penilai apakah penyampaian isi dari buku baacaan tersebut bagus atau tidak. Penyampaian isi buku ini dilakukan di sekolah, pada saat 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.

Dalam konsep ini, orang tua ataupun keluarga masih bertindak selaku pengawas terhadap budaya membaca. Namun hal itu belum cukup untuk menunjang keberlangsungan budaya membaca ini. 

Sebab kata-kata tanpa teladan adalah omong kosong. Anak-anak butuh teladan. Maka dalam pengawasan ini, orang tua ataupun keluarga harus turut memberikan teladan membaca buku. Supaya anak-anak makin semangat dalam menumbuhkan budaya membaca.

Seperti ungkapan Ki Hadjar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tutwuri Handayani, yang artinya figur seseorang yang baik adalah di depan menjadi teladan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar anak yang dibimbing merasakan situasi yang bersahabat. Sehingga nantinya mampu meningkatkan budaya literasi anak.

Semoga orang tua dan guru menjadi teladan yang baik dan mampu bekerja sama dalam meningkatkan budaya literasi bangsa. Andai itu benar-benar terjadi, kita hanya menunggu waktu menjadi negara maju seperti Jepang. Semoga.