Pada model pendidikan konvensional biasanya guru dijadikan sebagai pusat transfer ilmu terhadap para peserta didik dalam proses pembelajaran (teachercenter). Juga adanya sikap lebih mementingkan perkembangan aspek kognitif dari pada aspek yang lainnya. 

Bentuk yang paling nyata dapat kita ketahui adalah adanya konsep peringkat kelas dalam lembaga pendidikan. Dengan adanya konsep tersebut peserta didik yang berpringkat 10 terbaik (the best ten) mendapatkan perilaku yang lebih dari guru maupun orang tuanya dibanding peserta didik yang tidak dalam kategori tersebut.

Sikap ini secara tidak langsung berakibat karakter para peserta didik akan terkikis secara perlahan-lahan bahkan bisa saja mengalami kehancuran. Karena sistem peringkat yang sampai sekarang masih diterapkan membuat peserta didik hanya terfokus untuk mendapatkan nilai terbaik atau peringkat tertinggi. 

Jika kemampuan untuk mendapatkan nilai terbaik tersebut tidak bisa didapatkan bisa saja mereka menghalalkan berbagai macam cara misalnya mendapatkan nilai tinggi dengan mencontek. Prilaku mencontek tersebut berarti mereka mengabaikan sifat kejujuran, bertanggung jawab dan etos kerja yang tinggi.

Konsep peringkat kelas membentuk anggapan bahwa meraih nilai terbaik pada bidang akademik merupakan wujud dari kesuksesan dalam belajar. Padahal sumbangsih aspek kognitif atau kecerdasan intelektual hanya sebesar 20 persen saja untuk mencapai kesuksesan hidup. 

Hal ini disampaikan oleh Goleman (1999), bahwa hasil survey di Amerika Serikat menunjukkan skor kecerdasan intelektual anak-anak makin tinggi, sementara kecerdasan emosi mereka justru menurun. Dan dalam semua pengkajian terhadap ratusan ribu pekerja, terbukti yang menjadi inti utama keberhasilan mereka adalah kecerdasan emosi. 

Perbandingan pengaruh kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosi terhadap kesuksesan hidup seseorang adalah 20 persen berbanding 80 persen.”

Ada model pendidikan yang memperhatikan semua aspek dalam diri peserta didik baik aspek kognitif atau intelektual, aspek emosional maupun aspek spiritual yang dikembangkan dalam rangka untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan kebahagiaan di akherat. Model pendidikan tersebut adalah model pendidikan holistik.

Model pendidikan holistik merupakan proses pendidikan yang menggunakan konsep bahwa guru hanya sebagai pendamping dalam upaya mengembangkan semua aspek kehidupan secara menyeluruh yaitu aspek kognitif, sosial, emosional, dan aspek spiritual. 

Hal ini sesuai yang dinyatakan Jeremy Henzell Thomas (2008),” Model pendidikan holistik merupakan suatu upaya membangun secara utuh dan seimbang pada setiap peserta didik dalam seluruh aspek pembelajaran, yang mencakup spiritual, moral, imajinatif, intelektual, budaya, estetika, emosi dan fisik yang mengarahkan seluruh aspek-aspek tersebut ke arah pencapaian sebuah kesadaran tentang hubungannya dengan Tuhan yang merupakan tujuan akhir dari semua kehidupan di dunia.”

Model pendidikan holistik merupakan model pendidikan yang mengembangkan potensi individu peserta didik dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demokratis dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 

Peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be) yaitu memperoleh kedewasaan psikologis, dapat membuat keputusan yang baik, bisa belajar yang sesuai dengan kemampuan dirinya, memiliki kecakapan sosial, serta mampuh mengembangkan karakter dan emosi.

Dalam model pendidikan konvensional ada tiga pondasi yang dikembangkan yaitu reading, writing dan arithmetic atau membaca, menulis dan menghitung (calistung). 

Sedangkan pada model pendidikan holistik juga ada tiga pondasi yang dikembangkan yaitu relationship, responsibility dan reverence atau hubungan yang baik, bertanggung jawab dan saling menghargai.

Pertama adalah relationship atau adanya hubungan yang baik yaitu guru memiliki peran dan otoritas untuk membimbing dan mengontrol peserta didik dalam proses pembelajaran hanya sedikit dan lebih banyak berperan sebagai sahabat yang baik, mentor, dan fasilitator untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam proses pembelajaran. 

Hal ini sesuai yang dinyatakan oleh Forbes (1996), ”Peran guru dalam model pendidikan holistik seperti seorang teman dalam perjalanan yang telah berpengalaman dan menyenangkan.” Dengan proses pembelajaran tersebut maka terjadi hubungan yang baik antara peserta didik dengan guru maupun antar peserta didik. Sehingga peserta didik dalam menjalani kehidupan sehari – hari dapat melakukan inteaksi yang harmonis dengan orang – orang yang ada disekitarnya.

Kedua adalah responsibility atau tanggung jawab yaitu pendidikan meupakan tanggung jawab personal sekaligus juga menjadi tanggung jawab kolektif. Proses pembelajaran lebih diarahkan kepada bagaimana seharusnya pembelajaran dilaksanakan oleh guru yang memiliki tanggung jawab dan bagaimana semestinya peserta didik dapat belajar dengan baik. 

Beberapa hal yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran holistik agar peserta didik memiliki rasa tanggung jawab diantaranya menggunakan pendekatan pembelajaran transformatif, prosedur pembelajaran yang fleksibel, pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu, pembelajaran yang bermakna, dan pembelajaran melibatkan komunitas di mana peserta didik berada.

Ketiga adalah reverence atau menghargai yaitu guru hendaknya menjadi orang yang penyayang, dapat memotivasi secara baik, memiliki rasa cinta secara tulus pada peserta didik. 

Selain itu hendaknya guru memahami tentang pendidikan yang patut menurut perkembangan peserta didik (developmentally appropriate practices), pembelajaran yang sesuai dengan kerja otak (brain based learning), metode belajar aktif dengan penemuan (student active learning and lnquiry based learning), dapat berkomunikasi secara efektif, dapat mengelola kelas, dan memiliki teknik bercerita yang menarik. 

Dengan hal - hal tersebut di atas diharapkan peserta didik dapat menghargai dirinya dan orang lain serta dapat menghargai hasil karya diri sendiri dan hasil karya orang lain.

 Dengan model pendidikan holistik diharapkan warga negara ini memiliki sifat yang terpuji yaitu adanya hubungan yang harmonis dengan sesama, bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diembannya dan saling menghargai antara sesama warga masyarakat.

Maka bangsa kita menjadi bangsa yang perberadaban. Karena bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang berprilaku sopan santun dalam tata krama terhadap sesama serta memiliki semangat berkarya yang tinggi diwujudkan pada realitas kehidupan sehari – hari baik dalam bersosial, berpolitik, berekonomi maupun dalam realitas kehidupan yang lainnya.