Sejarah membuktikan bahwa tak pernah ada perang atau pertikaian dengan alasan perbedaan agama maupun aliran kepercayaan di Indonesia. Jikalau pun ada, pasti ada pihak "luar" yang melancarkan agitasi dan provokasi sedemikian rupa sehingga budaya dan kearifan lokal masyarakat terlupakan, berganti budaya luar yang dipromosikan.

Di lain sisi, pelintiran kebencian semakin marak terjadi dan dengan mudah diakses melalui media sosial. Pelintiran kebencian berbasis etnis dan agama adalah dua hal yang sekarang ini sedang merasuk sukma masyarakat di belahan bumi nusantara.

Bersamaan dengan itu, intoleransi, diskriminasi dan ekstrimisme agama turut mewarnai perjalanan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Tak jarang terdengar suara-suara tentang “agamaku benar dan agamamu salah” di berbagai media sosial.

Intoleransi, diskriminasi dan ekstrimisme agama itu semakin kuat, sehingga nilai-nilai kebersamaan (common value) dan persatuan (unity value) yang telah ditetapkan oleh pendiri negara ini diabaikan.

Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, tidak lagi dihargai sebagai landasan untuk membangun hidup bersama dalam keragaman. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kepentingan yang kemudian melahirkan pertentangan di antara masyarakat.

Dalam menyikapi konteks yang telah diuraikan pada bagian awal tulisan ini, maka perlu adanya kesadaran diri dari masyarakat untuk mengembalikan keharmonisan hidup yang sudah dibangun oleh para pendiri negara ini. Salah satunya ialah dengan memperkuat kembali budaya yang berbasis pada kearifan lokal (local wisdom) yang dimiliki.

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan kearifan lokal. Kearifan lokal masing-masing daerah berbeda satu dengan yang lain, namun, prinsip dan tujuannya adalah untuk mempersatukan keragaman. Kearifan itu seperti, Larvul Ngabal, Ain ni Ain, Pela dan Gandong di Provinsi Maluku dan Tiga batu tungku di Papua.

Kearifan lokal (local wisdom) yang dimiliki masyarakat Indonesia telah menjadi fondasi bagi terciptanya harmoni hidup antar warga masyarakat sejak dulu. Keberagaman patut dihargai sebagai bagian integral kehidupan mereka yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka.

Kearifan lokal menjadi rumah bersama bagi keberagaman yang ada. Kearifan lokal juga merupakan modal sosial untuk membangun perdamaian antar agama. Modal sosial ini perlu diperkuat, sehingga dapat menjadi fondasi membangun kehidupan yang aman dan damai.

Jika ini dapat dilakukan, maka intoleransi, diskriminasi dan ekstrimisme itu tidak menjadi pemicu konflik bagi masyarakat. Kesadaran untuk memperkuat budaya dan kearifan lokal, diharapkan menjadi benteng utama menghadapi intoleransi, diskriminasi dan ektrimisme agama yang terus terjadi di negara bertajuk kepulauan ini.

Untuk memperkenalkan kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap daerah, maka peran media sosial sangat dibutuhkan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi pelintiran kebencian (hate spin) yang seringkali menjadi pemicu perpecahan antar agama.

Pelintiran kebencian telah mereduksi nurani dan akal masyarakat, sehingga yang terjadi adalah saling menghujat dan menganggap diri lebih benar dari yang lain. Media sosial sebagai wadah silaturahim tidak lagi dipergunakan sesuai dengan fungsinya.

Intoleransi, diskriminasi dan ekstrimisme turut menjadi topik utama bagi para pengguna media sosial. Nilai-nilai saling menghargai dan menghormati seakan redup bagaikan sementara berada di tengah kegelapan.

Demi membangun kehidupan harmonis yang berbasis pada nilai-nilai kerafian lokal, maka keterlibatan semua elemen masyarakat perlu dilakukan. Keterlibatan itu dapat dilakukan melalui penggunaan media sosial sesuai dengan fungsinya dalam membumikan common value yang ada.

Melalui keterlibatan semua pengguna media sosial, maka pelintiran kebencian atas dasar intoleransi, diskriminasi dan ekstrimisme agama akan tereduksi. Dengan demikian,hidup aman dan damai akan terwujud antas sesama umat beragama.