Di era modern ini, media digital tentunya sudah menjadi salah satu “wadah” dalam melakukan kegiatan atau aktivitas keagamaan baik secara individu maupun kelompok. 

Dalam dunia digital, ada empat istilah penting yang sekiranya perlu untuk diketahui berkaitan dengan keberagamaan masyarakat, yaitu cyber-religion, online religion & religion online dan digital religion

Cyber-religion adalah cara untuk menggambarkan suatu agama dalam sebuah dunia maya yang diciptakan oleh teknologi virtual. 

Cyber-religion digunakan untuk menujuk suatu jenis komunitas dan ritual keagamaan yang baru, dan sebuah gabungan baru yang muncul dari perpaduan media / teknologi dan agama. 

Bentuk perpaduannya yaitu orang-orang bereskperimen dengan membawa kehidupan spiritual (beragama) mereka ke ranah dunia maya. Setelah 10 tahun kemudian, para sarjana mendefinisikan dan menerapkan istilah cyber-religion dalam berbagai konteks.

Adapun Dawson menggunakan istilah tersebut secara khusus untuk mengidentifikasikan suatu organisasi atau kelompok keagamaan yang hanya muncul di dunia maya. 

Brasher menggunakan istilah cyber-religion untuk merujuk pada dua hal: pertama, “keberadaan organisasi dan aktivitas keagamaan di dunia maya”. Kedua, yaitu kemunculan baru secara bertahap yang menginspirasi praktek dan ide secara elektronik. 

Dalam konteks sekarang, salah satu contoh permasalahan / fenomena keberagamaan masyarakat yang terjadi di dunia digital, yaitu fenomena meme hadis tentang celana cingkrang.

Awalnya, meme berisi parodi dan sindiran kehidupan sehari-hari yang dialami masyarakat, kemudian berkembang lebih luas sehingga di dalamnya terdapat beragam variasi pembahasan berbagai macam topik. 

Meme yang ada dalam berbagai macam media sosial seringkali digunakan untuk menggambarkan kejadian yang sedang heboh baik terjadi di dunia nyata maupun dunia maya, sehingga dapat dengan cepat menyebar dan mudah diakses oleh siapapun.

Adapun meme hadis celana cingkrang ini muncul karena dua faktor yaitu: pertama, ia dijadikan sebagai peneguhan identitas diri kelompok tektualis, dimana mereka mengklaim mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw meski mereka berangkat dari pemahaman hadis yang tekstualis. 

Peneguhan identitas ini muncul karena adanya perbedaan ideologis dengan kelompok konteksualis dalam memamami teks hadis. 

Kedua, sebagai bentuk revitalisasi kelompok tekstualis terhadap berbagai macam resistensi masyarakat, baik secara verbal maupun non-verbal, yang cenderung kontekstual. 

Dalam merespon hal tersebut, kedua kelompok ini menggunakan teks hadis yang mereka rasa cocok untuk meneguhkan sikap keberagamaannya.

Selain fenomena meme hadis tentag celana cingkrang, kelompok keagamaan lain yang menggunakan media digital dalam kegiatan keagamaannya adalah kelompok salafisme di Indonesia. 

Kelompok salafisme sendiri adalah kelompok / gerakan Islam yang menjadikan “generasi pendahulu” atau yang disebut sebagai salaf, sebagai rujukan utama untuk memahami maupun melaksanakan pedoman “islam yang otentik dan ideal”, baik di masa sekarang maupun di masa depan. 

Namun, meski kelompok ini menggunakan teknologi / media digital, kebanyakan masyarakat memandang bahwa kelompok salafisme memiliki perspektif yang tidak baik terhadap media digital.

Padahal, pandangan orang-orang tentang kelompok salafis yang terkenal “ultra-konservatif” tersebut, sebenarnya tidak sama sekali menentang adanya teknologi atau hadirnya media internet. Seperti anggapan bahwa semakin agamisnya seseorang adalah semakin jauh dirinya dari penggunaaan internet. 

Kenyataannya adalah kelompok salafis sangat terbuka terhadap media internet yang memiliki dampak positif bagi agama dan komunitas agama, bahkan kelompok salafis merupakan kelompok modern secara teknologi.

Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa kelompok salafis sebenarnya justru menggunakan teknologi sebagai media positif dalam memperkenalkan dan memperluas agama. 

Salah satu buktinya adalah situs resmi kelompok salafis yaitu www.salafy.or.id. Situs internet tersebut mereka gunakan untuk kebutuhan atau kepentingan keagamaan mereka. Seperti contohnya adalah memposting artikel atau fatwa yang berhubungan dengan ideologi salafisme, jihad, aturan berperilaku, bahkan politik. 

Adapun ajaran utama yang ditekankan oleh kelompok salafisme dalam situs mereka adalah ajaran tentang pentingnya ketauhidan dan menghindari kesyirikan. Dari hal tersebut, terbukti benar bahwa kelompok salafisme sangat terbuka dalam merespon maupun menggunakan media internet / digital secara positif.

Istilah selanjutnya yaitu online religion dan religion online. Online religion adalah sikap keberagamaan yang menggunakan internet sebagai dasar informasi dan ritual yang umumnya berasal dari sumber-sumber offline

Contohnya, ketika kita mencari informasi ayat-ayat al-Qur`an atau hadis-hadis tentang suatu tema tertentu secara online, sebenarnya informasi-informasi tersebut telah ada dalam bentuk offline

Sedangkan religion online adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu praktik / sikap keberagamaan yang sumbernya berasal dari online

Adapun digital religion merupakan suatu istilah untuk menggambarkan sebuah jenis baru / jembatan yang menghubungkan dan memperluas ketersaling hubungan dan keterpengaruhan antara agama dan media.

Sederhananya, praktik keagamaan yang biasa dilakukan secara offline seperti sholat tahajjud, dibawa ke dalam dunia online dengan cara mengajak orang-orang lewat media sosial seperti feed instagram / story whatsapp untuk melaksanakan sholat (online religion). 

Sedangkan konteks keagamaan yang biasanya ada dalam dunia maya, sumbernya didasarkan pada ide / praktik keagamaan secara online (religion online). 

Sebagai contoh, kita sering menemukan adanya penggunaan hashtag-hashtag pada akun media sosial yang sering digunakan untuk membentuk pergerakan-pergerakan keberagamaan masyarakat.


Referensi:

Campbell, Heidi A (ed.). Digital Religion:  Understanding Religious Practice in New Media Worlds. London dan New York: Routledge, 2013

Iqbal, Asep Muhammad. “Agama dan Adopsi Media Baru: Penggunaan Internet oleh Gerakan Salafisme di Indonesia”, Jurnal Komunikasi Indonesia, Vol. 2, No. 2, Oktober 2013

Miski, “Fenomena Meme Hadis Celana Cingkrang dalam Media Sosial”, HARMONI: Jurnal Multikultural & Multireligius, Vol. 16, No.2, Juli-Desember 2017.