Mahasiswa
1 bulan lalu · 66 view · 4 min baca menit baca · Media 58365_24804.jpg

Peran Media dalam Dunia Pendidikan

Media ialah sarana paling efektif dan efisien dalam menyampaikan informasi maupun pengetahuan kepada khalayak publik. Oleh karena itu informasi yang disampaikan melalui media memberikan pengaruh besar pada khalayak yang memanfaatkan media dalam mencari informasi. 

Mengingat akan kebutuhan informasi dikalangan masyarakat dewasa ini, maka tak heran hal itu ditangkap baik oleh pemilik industri media, baik cetak (seperti koran, majalah, dll), maupun berbasis digital atau elektronik audio-visual (seperti radio, televisi, dan youtube) dan media online berbasis teks. 

Media seakan “berlomba” menyediakan seperangkat informasi sekaligus hiburan (entertainment) bagi kalangan masyarakat untuk segala usia mulai dari anak-anak, remaja, orang muda hingga orang dewasa.

Dua fungsi media seakan bertarung untuk memperebutkan simpati publik demi profit (keuntungan) yang ingin diraih. Dualisme peran dan fungsi pun berjalan, sebagai sarana pendidikan (sosialisasi nilai) di satu sisi sekaligus sebagai sarana penghibur, di sisi lain. 

Ketika media berperan sebagai sarana edukasi maka sosialiasi nilai dari penyampai pesan ke penerima harus berjalan sebagaimana mestinya sehingga informasi yang diberikan harus benar-benar mempunyai nilai edukasi, mendidik dan bermuatan nilai positif bagi pengetahuan bagi khalayak. 

Sedangkan ketika media sebagai sarana penghibur mau tidak mau harus menyesuaikan selera pasar. Pertarungan antara kepentingan kultural melawan kepentingan ekonomi media berlangsung sejalan dengan perkembangan media hingga hari ini.

Dalam konteks bagaimana peran media dalam memberikan pengetahuan untuk kalangan anak dan remaja ini dapat dilihat bagaimana media mengemas berita, informasi, tayangan, acara, isi pesan dari  media. 


Kemudian dampak apa dari media yang dapat mempengaruhi remaja sehingga mempengaruhi pola perilaku mereka saat ini. Dari segi sosialisasi nilai inilah kemudian akan terbentuk kognisi (pengetahuan yang tertanam kuat dalam benak) yang menjadi motivasi para remaja untuk bertindak, merefleksikan pola sikap, mempunyai perspektif dan opini. Disinilah letak strategis dan arti penting media.

Penelitian media yang paling banyak ditemui adalah bagaimana media diakses dan pengaruh media terhadap anak-anak dan remaja. Menurut Peter F. Gontha, sebuah penelitian menemukan bahwa penduduk Indonesia menonton televisi 50 jam per minggu, anak-anak dan remaja Indonesia menonton televisi selama 20 jam per minggu. 

Bisa dibayangkan bagaimana tayangan televisi berpengaruh pada pemikiran dan mentalitas masyarakat Indonesia. Padahal tayangan televisi Indonesia saat ini bisa dibilang hampir 70 % hanya berupa drama (sinetron, reality show,opera dll). Bukan tayangan yang mendidik dan mendukung proses belajar mereka di sekolah. 

Tayangan drama yang ditampilkan sepuluh televisi nasional juga didominasi pada tema kekerasan, kejahatan, mistik dan percintaan sampai dengan pelecehan (seksual maupun profesi). Jika tayangan televisi Indonesia terus minim kualitas pendidikan seperti saat ini, perkembangan akal dan mental (kognisi) remaja pun akan minim. Oleh karena itu, media perlu “pagar” atau frame yang mengatur kebebasan media yang seringkali kebablasan.

Berbicara mengenai media, tentu saja tidak hanya terbatas pada media televisi tetapi juga media cetak dan internet yang dewasa ini mulai marak sebagai tren dan simbol “kemajuan” media bagi masyarakat. 

Mengenai media Internet dalam salah satu penelitian mengenai Internet, menghasilkan tesis semakin banyak orang menghabiskan waktu online, semakin kurang mereka menonton televisi. Studi-studi awal temuan 'pada perpindahan Internet dari menonton televisi (UCLA Pusat Komunikasi Kebijakan, 2003).[1] Artinya media internet juga berpotensi  menggantikan media televisi sebagai media yang banyak diakses baik pesan yang dimuat secara audio visual maupun tulisan.

Masalahnya seringkali internet masih didominasi dengan pemanfaatan jejaring sosial dibandingkan sarana edukasi. Selain itu, seringkali terjadi penyimpangan pemanfaatan internet sebagai media mengeruk keuntungan ekonomi melalui bisnis pornografi yang menjurus kepada penyimpangan perilaku remaja kita.

Kemudian, Dengan melihat fakta efek negatif yang dihasilkan oleh media televisi maupun internet, sebagai media yang banyak diakses oleh remaja. Media cetak bisa menjadi alternatif media tanding yang membawa pesan melalui muatan budaya baca-tulis. 


Kultur literasi yang diharapkan dapat mengcounter sekaligus mengalihkan dari budaya menonton menjadi budaya baca dimana dalam perannya membentuk kognisi positif lebih kuat dengan detail dan muatan kompleks yang disampaikan.

Akan tetapi yang menjadi problem saat ini adalah budaya baca masyarakat kita tergolong rendah dan masih belum menjadi kebiasaan positif. Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 perihal budaya baca bangsa Indonesia juga sangat rendah. 

Data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 %. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 %, buku cerita 16,72 %, buku pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 %[2].

Selain itu, muatan media cetak untuk pendidikan remaja terbilang masih minim atau baru sebatas pada eksplorasi problematika remaja. Penekanan pada porsi masalah dan bukan pada substansi terlihat dari bagaimana media cetak mengkonstruksi berita terkait permasalahan remaja. 

Sebagai contoh adalah dalam berita pembunuhan pelajar yang terjadi pada awal tahun ini, “dramatisasi”  bagaimana berlangsungnya proses pembunuhhan masih dominan dibandingkan informasi bagaimana seharusnya remaja bersikap. Seakan problem remaja hanya  sebagai komoditas ekonomi media sebagai “penghibur” masyarakat. 

Begitupula dalam konstruksi pemberitaan kasus-kasus yang lain. Seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, dan kekerasan antar remaja masih didominasi kesan dramatis dibandingkan solutif. Sehingga timbul anggapan berita yang disajikan akan menghasilkan inspirasi baru untuk bertindak serupa daripada menghindarinya.

Oleh karenanya, media sebagai ruang publik masyarakat tanpa terkecuali, termasuk bagi remaja kita harus memperhatikan fungsi pendidikan, sosialisasi nilai lebih bisa berperan dengan membumikan pesan-pesan konstruktif bagi kemajuan kognisi remaja daripada sekedar memenuhi kepentingan ekonomis yang mengenyampingkan (meminimalkan) aspek edukasi. Media harus dominan menyediakan informasi yang edukatif dan bermanfaat bagi remaja.

Mampukah kiranya media (dominan) menempuh jalan itu? Bila tidak siapakah yang akan mengisi peran itu melalui media? Saatnya kita berdiskusi untuk mendalami masalah ini dan menghasilkan solusi.

Artikel Terkait