Pandemi Covid muncul sejak tahun 2020 ini telah menjadi isu besar di dunia, bahkan banyak negara yang mengalami kesulitan dalam penanganannya. Namun, sekarang seiring dengan meningkatnya pengembangan ilmiah, sudah banyak vaksin yang dibuat dan sudah sukses dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Ada tujuh vaksin yang sudah disetujui untuk digunakan secara darurat oleh WHO (World Health Organization). Keberadaan vaksin menjadi fase awal untuk mengarah ke kondisi normal kembali setelah adanya pandemi Covid-19.

Di Indonesia sudah banyak masyarakat yang menggunakan vaksin Covid-19 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dan dapat membuktikan bahwa vaksin dapat menurunkan resiko terkena virus Covid-19.

Selain Indonesia keberhasilan vaksin ini juga dirasakan oleh negara lain seperti Malaysia, Vietnam, Thailand dan lainnya. Namun, alokasi vaksin secara global tidak merata dan hal tersebut dapat dibuktikan yaitu adanya 64,4% masyarakat dari negara-negara maju sudah mendapatkan vaksin lengkap, sementara masyarakat negara-negara miskin hanya mendapatkan 14,7%.

Pasokan vaksin yang terbatas menjadi alasan tidak meratanya persebaran vaksin di setiap negara di dunia. Adapun kesulitan dalam mengakses oleh negara-negara miskin seperti negara-negara di wilayah Afrika Sub-Sahara.

Sebelum terjadi pandemi Covid-19, kawasan di Afrika Sub-Sahara memang sudah memiliki banyak masalah domestik mengenai kesehatan. Banyak dari masyarakat di wilayah Afrika Sub-Sahara mengalami penyakit ebola, malaria dan HIV.

Keadaan yang dialami wilayah di Afrika Sub-Sahara ini sudah menjadi permasalahan dalam kesehatan dengan angka tertinggi di dunia dan diperburuk keadannya dengan adanya dana publik yang rendah dalam penanganannya. Munculnya pandemi Covid-19 seolah menjadi bom besar bagi wilayah di Afrika Sub-Sahara dan memperparah keadaan Afrika Sub-Sahara di tingkat sosial serta ekonomi.

Munculnya pandemi Covid-19 menjadi beban tambahan bagi negara-negara di Afrika Sub-Sahara, karena kemajuan yang sudah dibangun bertahun-tahun untuk memerangi HIV, malaria dan ebola, sekarang upaya tersebut harus mundur serta harus mencari cara baru untuk menangani semua pandemi. 

Adapun hal terburuk dari munculnya Covid-19 adalah wilayah Afrika Sub-Sahara memiliki posisi paling belakang dalam mendapatkan pasokan vaksin, hal tersebut disebabkan oleh antrean internasional yang panjang untuk mendapatkan vaksin.

WHO mengumumkan pada akhir September 2021, hanya ada 15 negara dari 42 negara yang telah memenuhi target dari organisasi multilateral untuk mendapatkan vaksin setidaknya ada 10% masyarakat di setiap negara tersebut.

Kondisi yang terbatas ini membuat sulit Afrika Sub-Sahara untuk mencapai target global dari WHO yaitu pada akhir tahun 2021 sebesar 40% cakupan per negaranya dan pada pertengahan tahun 2022 sebesar 70% cakupan per negaranya.

Adanya kesenjangan dalam persebaran vaksin tersebut membutuhkan perhatian dan upaya yang nyata dari seluruh dunia untuk membantu masyarakat di wilayah Afrika Sub-Sahara agar mendapatkan vaksin, negara yang ikut membantu dalam hal ini termasuk Indonesia. Indonesia ikut membantu dan membuat upaya untuk permasalahan ini dengan berbagai fora internasional, khususnya melalui Presidensi Indonesia dalam G20.

Pada 14 September 2014, dalam Presidensi G20, Indonesia akan membawa amanah dengan memberikan manfaat yang maksimal untuk masyarakat Indonesia serta akan berperan teguh dalam kepemimpinannya yang harus dibuktikan dan dijalankan oleh Indonesia. Bukti Indonesia akan menjadi penyeimbang dalam memberikan solusi yaitu dengan adanya tema yang dibawakan oleh Indonesia, Recover Together, Recover Stronger. 

Dalam presidensinya, Pemerintah Indonesia akan terus mendorong negara-negara G20 untuk menunjang kekuatan bersama untuk menghadapi pandemi Covid-19 dan akan menyeimbangkan kesetaraan persebaran vaksin ke seluruh dunia, terutama di negara-negara miskin dan berkembang. Dalam hal ini, Indonesia berhasil mendorong negara-negara G20 untuk ikut berkontribusi dalam perkembangan dengan membantu masyarakat Afrika Sub-Sahara mendapatkan vaksinasi secara merata.

Misi Indonesia tersebut sejalan dengan tujuan Indonesia sebagai bridge builder dengan menyetarakan vaksin Covid-19, terutama wilayah Afrika Sub-Sahara. Indonesia sebagai bridge builder memiliki target capaian yaitu dengan meratakan vaksin global, terutama di wilayah Afrika Sub-Sahara dan kesetaraan vaksin melalui Vaksin Merah Putih.

Afrika Sub-Sahara menjadi wilayah yang harus segara diberi bantuan karena banyak masyarakatnya yang masih miskin dan belum lagi masih marak penyakit-penyakit lain yang mengganggu kesejahteraan masyarakat Afrika Sub-Sahara. Adanya negara-negara G20, di mana menjadi perkumpulan negara-negara dengan kekuatan ekonomi terbesar, yang siap membantu, maka kesetaraan vaksin dapat terlaksana.

Rencana yang dilakukan untuk kesetaraan vaksin ke Afrika Sub-Sahara dari negara G20 adalah dengan mengatasi tantangan-tantangan seperti pengaturan hak paten, penumpukan vaksin, dan adanya perusahaan-perusahaan vaksin di negara-negara maju yang melakukan pembatasan ekspor rantai pasok vaksin harus diselesaikan. Adapun dukungan dari negara G20 untuk wilayah Afrika Sub-Sahara yaitu kontribusi melewati COVAX dan CEPI, kerja sama kualitas alat kesehatan dalam mitigasi Covid-19 di Afrika, meningkatkan digitalisasi untuk layanan kesehatan, serta meriset pengembangan vaksin Covid-19 dan penyakit berbahaya lainnya.

Kesetaraan vaksin di Afrika Sub-Sahara tidak hanya membangun jiwa kemanusiaan dan mendapatkan kebaikan bersifat moril pada setiap negara G20 terutama Presidensi G20 Indonesia. Namun, juga menghasilkan keuntungan secara politis maupun ekonomi, karena secara tidak langsung diplomasi vaksin ini juga termasuk cabang dalam diplomasi ekonomi.

Diplomasi vaksin melewati adanya donasi vaksin, investasi dan transfer teknologi bisa menjadi strategi dalam melakukan pendekatan terhadap suatu wilayah, sama halnya dengan akses vaksin di Afrika Sub-Sahara yang masih rendah dapat membuka peluang negara lain untuk menjalin hubungan kerja sama. 

Namun, dapat dibuktikan bahwa belum banyak negara yang mengimplementasikan diplomasi vaksin secara efektif di wilayah Afrika Sub-Sahara, dengan begitu Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menjadi bridge builder dalam menyetarakan vaksin di Afrika Sub-Sahara.

Berbagai negara sudah saling berlomba untuk berinvestasi di Afrika Sub-Sahara dan mengeksplorasi pasar Afrika Sub-Sahara. Indonesia sebagai Presidensi G20 ini juga memiliki keuntungan tersendiri yaitu dapat mengejar ketertinggalan dengan menjadi bridge builder vaksin di Afrika Sub-Sahara.

Adapun potensi di Afrika Sub-Sahara yang bisa diambil keuntungannya yaitu pertumbuhan ekonomi yang sudah di atas rata-rata ekonomi dunia, konsumen rumah tangga akan mencapai lebih dari USD 2 triliyun, pembelanjaan dari sektor bisnis mencapai USD 3,5 triliyun, adanya lahan pertanian yang belum digunakan sebanyak 60%, adanya cadangan gas sebanyak 8%, adanya cadangan mineral dunia sebanyak 30% dan adanya populasi pada 2023 yang meningkat sampai 20% dari populasi di dunia. 

Oleh sebab itu, dengan menyelamatkan kehidupan di Afrika Sub-Sahara dan mengambil tindakan sebagai Presidensi G20, Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan hubungan kerja sama dengan wilayah Afrika Sub-Sahara.