Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 pulau dengan 34 provinsi. Jawa, Kalimantan, Papua, Sumatra, dan Sulawesi adalah lima pulau terbesar. Populasi Indonesia adalah 255,5 juta pada tahun 2015. Sekitar 11 persen dari populasi dikategorikan hidup di bawah garis kemiskinan, dan dilaporkan ada 6,2 persen pengangguran. 

Produk domestik bruto Indonesia (PDB) dilaporkan sebesar Rp11.540,8 triliun pada tahun 2015. Industri, jasa dan pertanian adalah sektor-sektor dominan yang memberikan kontribusi masing-masing sebesar 47 persen, 37 persen, dan 15 persen dari total PDB Indonesia. 

Indonesia adalah salah satu dari sepuluh negara penghasil akuakultur global. Modernisasi sektor ini diprakarsai di bawah rezim Suharto pada 1970-an untuk meningkatkan pendapatan ekspor Indonesia. 

Sebelum era ini, produksi akuakultur Indonesia adalah kegiatan subsisten bagi penduduk desa pesisir, yang dimulai lebih dari 400 tahun yang lalu. Sektor ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan negara, dengan nilai total sektor Rp111,5 triliun (US $ 8,3 miliar). 

Selain akuakultur yang menghasilkan mata pencaharian bagi 1.667.428 rumah tangga yang terlibat dalam produksi, telah diperkirakan memberi manfaat 1.356.675 individu melalui keterlibatan mereka dalam pengolahan dan 4.846.145 melalui pemasaran. Akuakultur yang merupakan fokus dari studi kasus ini, diperkirakan berkontribusi 38 persen dari total nilai ekonomi. 

Perempuan terlibat dalam berbagai produksi dan rantai kegiatan budi daya di Indonesia. Secara khusus, perempuan mendominasi dalam pemasaran dan pemrosesan, dengan keterlibatan mereka diperkirakan 1,5 hingga 1,7 kali lebih tinggi daripada laki-laki. 

Meskipun demikian, saat ini ada kekurangan informasi mengenai peran wanita dan lebih mendasar lagi hasil untuk wanita dan faktor-faktor yang memungkinkan atau menghambat ini. Ini mewakili kesenjangan kritis dalam pengetahuan yang dibutuhkan untuk program dan kebijakan akuakultur yang efektif. 

Pada tulisan ini, berfokus utama dari inisiatif untuk mempromosikan kebijakan yang terinformasi, tata kelola yang baik dan praktik manajemen yang lebih baik dalam rangka intensifikasi sektor akuakultur. Ide ini berupaya meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan perempuan di akuakultur.

Jumlah orang yang terlibat dalam kegiatan pemasaran dan pemrosesan di Indonesia berdasarkan gender dari tahun 2011-2013 dapat disimpulkan bahwa tiap tahunnya jumlah perempuan lebih besar daripada laki-laki baik dari pengolahan maupun marketing. 

Terdapat beberapa aturan seperti INPRES No. 9, 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional, Keputusan bersama MMAF dan KemenPU No.06 MEN-KP / III / 2011 dan upaya pembinaan perempuan oleh pemerintah. 

Contoh program pemerintah seperti Proyek Pengembangan Akuakultur Berkelanjutan untuk Keamanan Pangan dan Pengurangan Kemiskinan (SAFVER) dan Pelatihan dan pengembangan klaster bisnis. Namun, hambatan bagi perempuan masih saja ada. Termasuk gender dan norma sosial, akses ke sumber daya, dan kapasitas teknis.

Industri pengolahan memberikan peluang besar bagi perempuan; perempuan miskin, tidak terampil dan ibu penuh waktu. Kasus menunjukkan rendahnya partisipasi perempuan, ini dikarenakan persepsi tentang persyaratan kekuatan fisik pekerjaan (pekerjaan laki-laki). Perempuan terlibat dalam grading, memberi makan (tenaga kerja tak dibayar). Kekuatan pendorong bagi perempuan untuk bekerja yaitu motivasi finansial. 

Perempuan sangat berperan dalam manajemen keuangan rumah tangga. Faktor pembatas: sosial ekonomi (finansial; keterampilan); norma sosial (peran dan hubungan gender) esp. akses ke tanah (untuk budidaya) dan pelatihan. Keterlibatan langsung perempuan dalam pengolahan dan budidaya cukup berpengaruh. 

Keuntungan partisipasi perempuan yaitu dapat berkontribusi pada keamanan finansial, pengembangan rumah tangga, memperluas modal manusia (keterampilan; pengetahuan); modal sosial, harga diri, kepercayaan diri, penghargaan dan rasa hormat dari diri, suami, dan anggota masyarakat. 

Dampak negatifnya, pada biaya  dan risiko penilaian sosial, beban waktu, kesejahteraan rumah tangga, risiko keamanan. Rekomendasi yang dapat diterapkan yaitu bisa gabungan dari inklusi gender dan strategi pembangunan dengan mekanisme perubahan transformasi gender. 

Inklusi gender dan strategi pembangunan di sini bisa dengan, program dan jaringan akuakultur menerapkan strategi yang spesifik untuk inklusi dan manfaat yang berkeadilan gender. Juga berbagai pendekatan diterapkan dalam program yang ditargetkan untuk wanita. 

Untuk mekanisme perubahan transformasi gender dengan membuat kebijakan yang mendukung kesetaraan akses gender ke sumber daya seperti kepemilikan tanah dan program akuakultur melibatkan laki-laki dan perempuan dalam strategi transformatif gender termasuk untuk memungkinkan mobilitas perempuan dan pembagian peran berdasarkan gender.

Referensi

  • FAO, Irna Sari and Cynthia McDougall. 2017. Women’s Empowerment in Aquaculture: Two case studies from Indonesia.
  • Indonesian Statistics. 2015. Persentase penduduk miskin maret 2015 mencapai 11,22 persen. Badan Pusat Statistik (available at https://www.bps.go.id/Brs/view/id/1158).
  • Indonesian Statistics for Barru Districts. 2015. Eksekutif summary kabupaten Baru (available at https://barrukab.bps.go.id/index.php/publikasi/144).
  • Indonesian Statistics for Sidoarjo District. 2015a. Sidoarjo dalam angka 2015. Central of Board Statistics, Sidoarjo Regency.
  • Indonesian Statistics for Sidoarjo District. 2015. Jumlah penduduk miskin tahun 2010–2013 (available at http://sidoarjokab.bps.go.id/webbeta_3515/frontend/linkTabelStatis/view/id/28).
  • Indonesian Statistics. 2016. Statistical yearbook of Indonesia 2016(available at https://www.bps.go.id/index.php/publikasi/1045).
  • INPRES (Instruksi Presiden Republik Indonesia). 2000. No. 9. Pedomanpengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional (available at http://www.hukumonline.com/pusatdata/downloadfile/lt55483c51889b3/parent/lt553a2c5333378)
  • Jewkes, R., Flood, M. & Lang, J. 2015. From work with men and boys to changes of socialnorms and reduction of inequities in gender relations: a conceptual shift in prevention ofviolence against women and girls. The Lancet, 385(9977): 1580-1589.
  • McDougall, C., Cole, S.M., Rajaratnam, S., Brown, J., Choudhury, A., Kato-Wallace, J.,Manlosa, A., Meng, K., Muyaule, C., Schwarz, A. & Teioli, H. 2015. Implementing a gendertransformative research approach: Early lessons. In B. 
  • MMAF (Ministry of Maritime Affairs and Fisheries). 2013. Profil kelautan dan perikananprovinsi Jawa Timur untuk mendukung industrialisasi (available at http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/154361-%5B_Konten_%5DKonten%20D547.pdf).
  • MMAF (Ministry of Maritime Affairs and Fisheries). 2014a. Marine fishery in figures 2014. MMAF Gender Working Group, Jakarta.
  • MMAF (Ministry of Maritime Affairs and Fisheries). 2014b. Implementasi pangarusutamangender (PUG). MMAF Gender Working Group, Jakarta.
  • MMAF (Ministry of Maritime Affairs and Fisheries). 2015. Tenaga kerja pengolahan danpemasaran menurut provinsi dan jenis kelamin, tahun 2011-2013 (available at http://kkp.go.id/index.php/2015/06/08/tenaga-kerja-pengolahan-dan-pemasaran-menurutprovinsi-dan-jenis-kelamin-tahun-2011-2013-2/).
  • Nash, C. 2011. The history of aquaculture. Iowa, US, John Wiley & Sons.
  • Sari, I. 2015. Understanding the capability of Indonesian shrimp producers to participatein lucrative export markets; using the integrated sustainable livelihoods approach (SLA)and global value chain (GVC) analyses. Sydney, The University of Technology Sydney(PhD thesis).