Tahukah kamu tentang Generasi Milenial & Generasi Z? Generasi milenial adalah kalian yang lahir diantara tahun 1981-1996 atau bisa disebut juga kalian yang saat ini berumur 26-41 tahun. Sedangkan, Generasi Z adalah kalian yang lahir diantara tahun 1997-2012 atau bisa disebut juga kalian yang saat ini berumur 10-24 tahun. 

Generasi muda ini identik dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi serta kemudahan disegala akses yang ada.

Berdasarkan dari hasil Sensus Penduduk 2020 komposisi penduduk Indonesia sekarang sebagian besar dari Generasi Z yaitu sebanyak 27,94%. Sedangkan untuk penduduk dominan kedua berasal dari Generasi Milenial sebanyak 25,87%. 

Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi serta, memegang peranan penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan nanti.

sayangnya, saat ini masalah yang dihadapi Generasi Milenial dan Generasi Z hampir serupa yaitu tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Gaya hidup yang dinamis ditambah minimnya pengetahuan pengelolaan keuangan yang baik membuat kaum milenial dan kaum Z sulit untuk mengatur keuangan mereka sesuai dengan kebutuhan prioritasnya. 

Menurut studi OCBC Financial Index & Nielsen IQ tahun 2021 hanya sekitar 16% penduduk Indonesia yang memiliki dana darurat. Artinya masih banyak generasi muda yang belum bisa menyisihkan pendapatannya untuk dana darurat. Padahal dana darurat ini sangat penting apabila terjadi suatu hal yang tidak terduga kedepannya. 

Studi lainnya dari Deloitte tahun 2022 menemukan bahwa hampir setengah dari Gen Z (46%) dan Milenial (47%) di dunia membiayai kebutuhan hidupnya hanya mengandalkan gaji di bulan itu. 

Studi yang sama menemukan bahwa lebih dari seperempat Gen Z (26%) dan Milenial (31%) di dunia tidak yakin dapat pensiun dengan nyaman dikarenakan pendapatan generasi muda lebih banyak digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup saat ini dan belum bisa menyisihkan untuk kebutuhan di masa depan.

Dilihat dari fakta-fakta tersebut, keadaan keuangan yang di hadapi generasi muda saat ini lebih banyak. Mengingat dengan sedang populernya istilah YOLO, FOMO dan Generasi Sandwich. 

YOLO adalah singkatan dari You Only Live Once yang artinya kamu hanya hidup satu kali, banyak generasi muda yang mengartikan istilah ini sebagai gaya menikmati hidup yang hanya berfokus pada apa yang saat ini dialami tanpa memikirkan risiko di masa depan.

FOMO singkatan dari Fear of Missing Out yang artinya rasa takut ketinggalan. Dimana munculnya perasaan cemas atau takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat takut ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya.

Terakhir, Generasi Sandwich adalah sebuah posisi di mana kita menanggung biaya hidup tiga generasi, yaitu orang tua, diri sendiri, dan anak-anak. Generasi sandwich bisa disebut juga sebagai tulang punggung keluarga.

Nah, karena itu generasi muda saat ini untuk mengatur dan mengontrol keuangan nya sangat memerlukan peran akuntansi di kehidupan sehari-harinya. Agar penerimaan yang didapat dan pengeluaran yang dikeluarkan dapat lebih terkendali dan bisa menjadi bahan evaluasi keuangan diri sendiri. 

Akuntansi sendiri adalah kegiatan catat-mencatat semua transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan, dimana dicatat secara rinci dan berurutan sesuai waktu terjadinya yang akan menghasilkan laporan keuangan yang dibutuhkan oleh pihak yang berkepentingan. 

Akuntansi juga disebut sebagai bahasa perusahaan dalam memberikan informasi berupa data-data keuangan yang digunakan untuk pengambilan suatu keputusan. 

Lalu, apa saja proses dalam akuntansi yang bisa di terapkan oleh Generasi Milenial dan Generasi Z? Proses akuntansi terdiri dari pencatatan, meringkas, pelaporan, dan menganalisa. Proses tersebut bisa diterapkan oleh generasi muda dengan cara sebagai berikut:

1. Pencatatan 

Pencatatan adalah segala aktivitas akuntansi di mulai dari pencatatan transaksi, pembukuan, hingga pembuatan laporan keluar yang diolah untuk mengetahui situasi kinerja bisnis. Dalam kehidupan sehari-hari generasi muda dapat menerapkan proses tersebut dengan cara mencatat setiap pengeluaran sehingga bisa menjadi catatan kronologis selama satu periode tentang transaksi-transaksi yang terjadi.

Pengeluaran yang bisa dicatat untuk mengatur keuangan generasi muda seperti, pengeluaran rutin, cicilan hutang, pengeluaran untuk tabungan dan investasi, pengeluaran sosial, pengeluaran gaya hidup.

2. Meringkas

Setelah setiap pengeluaran dicatat secara rinci kemudian diringkas atau di rangkum dan membaginya menjadi beberapa kategori pengeluaran yaitu pengeluaran harian seperti, biaya transportasi, dan uang makan. Pengeluaran mingguan seperti, belanja mingguan dan rekreasi mingguan. Pengeluaran bulanan seperti, membayar tagihan, membayar listrik dan biaya kos.

3. Pelaporan

Pada proses ini  biasanya di perusahaan di peruntukan bagi manajemen, kreditur, investor, dan pemilik perusahaan agar mengetahui kinerja perusahaan. Sedangkan, untuk generasi muda pelaporan ini ditunjukan untuk diri sendiri agar bisa mengetahui bagaimana Anda menggunakan uang dan untuk keperluan apa saja uang itu digunakan.

4. Menganalisa

Terakhir, menganalisa setelah mencatat dan meringkas tentunya Anda harus menarik kesimpulan. Memeriksa yang menjadi poin positif dan negatif, dari hal tersebut dapat terlihat mana yang menjadi kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier. 

Dengan menerapkan peran akuntansi ini dalam kegiatan sehari-hari akan memudahkan dan membantu kegiatan Anda agar lebih terstruktur dan terkontrol.

Mengatur keuangan yang baik memang memerlukan latihan terus menerus. semoga generasi muda Indonesia menjadi generasi muda yang memiliki keuangan yang sehat dan dapat mengatur keuangannya untuk pengeluaran yang sifatnya wajib, butuh, dan ingin.