Amnesia

Akal berhingga sampai ke ujung
Raungan jiwa-jiwa yang kekal
Bukan di sungai Styx atau perapian doa
Melainkan tamasya lewat selaksa sengsara

Sapien amnesia tiap iterasai kelahiran
Berbila-bila dalam pesiar takdir
Entah batu, air, lumpur, alga, ikan, kadal
Ular, merpati, lembu atau monyet

Aku tak lain seekor monyet
Yang pandai menulis, kalkulus atau puasa
Esa berhenti satu putaran ketika Newton berteduh
Di bawah pohon apel dia mengingat masa depan

Begitu kau berpikir, mengapa kau ada?
Demikian Esa bergerak satu putaran
Kita tak pandai berpikir seperti Isaac
Lima indranya melebur tanpa semadhi*


Pinjam

Bunga, benalu dan ilalang
Berlalu bak siang kala senja datang
Bulan datang mekar perlahan
Berusaha mengintip dari kejauhan

Langkah menerobos kabut
Di atas langit sedang kusam
Sedikit ungu kemerahan
Waktu tengah malam

Dingin mencincang tulang
Sela-sela dahan jati bergoyang
Angin berembus kencang
Rinai jatuh tipis-tipis amat perlahan

Di sebuah gundukan
Kugali sedikit dalam
Tiga helai rambut perawan
Lantas pergi aku dari pekuburan*


Apel

Lidah yang diam
Membaui nadi penjaga tabir
Mata yang terpejam
Mendengar suara-suara langit

Adam dan Eva dibuang
Ke masa lalu jauh dari masa depan
Membeku dalam mesin waktu
Untuk menebus dosa pengetahuan

Kenangan, karangan, alam mimpi, fobia
Berharap akan awal yang lain
Setelah mata dan tangan jadi saksi
Akal memang mampu melampaui Tuhan

Entropi membuka kotak katastrofi
Dari rambut kepala di bawah topi
Dalam gigitan sebuah apel
Sepucuk Barreta di dalam laci*


Pemburu

Langit malam menyeduh dosa
Saat guci nila jatuh ke bumi
Turun di loka yang tandus
Semilir angin berembus sunyi

Guci itu pecah; tinta tumpah
Kali pertama mengairi Tigris dan Eufrat
Airnya dingin sebeku pucuk hujan
Sedikit hangat bak kapas yang dimakan api

Esoknya kuas langit menari
Meninggikan langit dan membentang awan
Di kejauhan elang terbang memanggang hari
Busur dan anak panah mulai dicari-cari

Matahari memahat siang
Agar tak lari kilau ilham bijak bestari
Yang bisa sembunyi di antara bulu mata
Atau di ujung kuku Putri Saraswati

Aku menatapmu dari ranting pohon Jati
Lewat sepasang mata Merpati
Saat itu moncong senjata
Diam-diam melahirkan sastra*


Dramaturgi

Mestinya—
Kita bertengkar saja
Seperti angin, hujan petir
yang beradu badai

Kita debu bintang
Dari tempat jauh
Ledakan hitam
Yang lama luruh

Eksil doa dan dosa
Tamat diracik senja
Gagal digenapi langit
Pahitnya pahit*


Lalat

Tamasya mencari nasi
Jalan-jalan, eh, menginjak tahi
Dirasa tinja orang punya
Eh, mulut sendiri bau belerang

Tabu kelu di ujung lidah
Banyak akal sedikit hati
Pikir-pikir kau sedang susah
Coba lihat yang lain pakai nurani!

Bocah keling mandi di kali
Makan keong pakai nasi basi
Susah sekolah tinggi-tinggi
Mentoknya cuma pegawai negeri

Jalan-jalan beli markisa
Bayarnya pakai duit hutang
Jangan dulu sesumbar, oh istana!
Kalau korupsi masih segudang!*


Pasar

Jual angin di pasar loak
Dalamnya pasak tak ada tiang
Lain gubuk, lain orang
Kepala sangit kebanyakan garam

Kasih gula di ujung lidah
Banyak suara tutup telinga
Tak payah dosa berbila
Lapar perut sudah neraka

Jauh api panci diberi
Pula mimpi senang kau arti
Lancar kencing di pagi hari
Kepingan nikmat surgawi*


Kyoto

Bunga-bunga beterbangan ke sana-sini
Mengkilap terang putih keemasan
Menghiasi pinggir jalan setapak
Sore hangat yang penuh renjana

Aku terus berjalan
Ke gapura merah di ujung jalan
Aroma daun dan tanah basah semerbak
Lengkung hijau tipis membelah langit sore

Tabir tipis samar terlihat
Memisahkan awan dan petang
Hangat mentari masih terasa
Tertinggal di dalam dada

Angin menabrak pelan
Membuatku sesekali merapihkan rambut
Bola mataku berkaca-kaca
Langit gelap membiru, oranye agak lavender

Garis lurus jatuh tipis dari langit
Cahaya mulai kabur dari sela-sela awan
Aku belum sampai di gapura merah
Akita menyalak dari kejauhan

Jangkrik dan kodok mulai gladiresik
Menyesuaikan nyanyian panjang nanti malam
Dalam gelap, aku coba tangkap dia lagi
Ayo kita bercinta, di bawah meja dan kursi*


Air Susu

Kata-kata tumpah
Dari sebuah cawan raksasa
Di taman surga

Menyublim
Terperangkap di relung hati
Seorang perempuan
Dialah rupa doa

Angka dan kata
Memecah dan terpisah
Spasi berpendar
Mengalir dari bawah
Nama-nama benda,
Hewan dan tumbuhan
Sembilan bulan lamanya

Pada sel-sel retina
Bersemayam bejana teka-teki
Yang maya
Yang nyata
Yang keduanya
Yang tidak keduanya;
Pada tiap mimpi-mimpi manusia

Ketika kau mencari
Ke mana spasi dan kata-kata itu pergi
Mereka menguap
Memantul lamban
Menjadi sebuah awan

Pada langit samsara
Jingga nirleka
Kalimat dan alinea membulat;
Memadat dan memberat;

Seperti dua payudara montok
Yang indah ranum
Kuning emas menyembul masak
Bak sepasang rembulan kala purnama

Saat itu
Kau hanya kumpulan tanda tanya
Ketika menyedot puting susu;
Ada tangis kecil di sana
Yang bukan tangismu
Isak rintih---perih
Dengan banyak tanda koma***