Akan kubuka cerita ini seperti sebuah kisah dari negeri dongeng yang telah terlalu sering kau dengar. Dahulu kala, hiduplah seorang peramal tua. Tak ada yang tahu pasti berapa usianya. Yang pasti, bahwa ia telah tua, seluruh rambutnya telah menjadi uban.

Orang-orang di seluruh kota memanggilnya Peramal Tua atau Pak Tua. Ia dikenal sebagai peramal yang memiliki ramalan yang jitu. Beberapa ramalannya terbukti benar. Teror bom di Paris, serangan teroris di Amerika Serikat, hingga terjadinya kudeta  militer di Mesir, semua itu telah ia ramalkan sebelumnya.

Peramal Tua menjadi semakin terkenal. Karena ia menghabiskan seluruh hidupnya di wilayah Timur, ia dijuluki sebagai peramal dari Timur.  Sebenarnya, di bumi yang katanya bulat ini, tak pernah ada yang tahu di manakah persisnya Timur, Barat, Utara atau Selatan itu.

Tapi, marilah kita menerima bahwa Peramal Tua kita ini hidup di negeri Timur, seperti yang orang-orang katakan dalam setiap perbincangan mereka.

Peramal Tua hidup di sebuah kota yang tak pernah berhenti tumbuh. Gedung-gedung tumbuh semakin menjulang, juga harga-harga kebutuhan tumbuh semakin tinggi. Beruntunglah bahwa kesejahteraan masyarakat pun semakin baik.

“Dulu, empat puluh tahun yang lalu, hanya ada gedung pemerintahan yang dibangun setinggi tiga lantai. Sekarang, gedung yang tingginya hanya tiga lantai, tampak sangat kecil di antara gedung-gedung yang sekarang ini ada”.

Peramal tua kita nampaknya sedang bernostalgia. Ia menceritakan perubahan kotanya kepada seorang gadis yang duduk di bangku taman bersamanya. Tak peduli apakah ada orang yang menyimak kisahnya, ia terus saja bercerita.

Kota tempat Peramal Tua kita hidup, adalah kota yang telah sangat banyak berubah. Dulu, kota itu sangat sepi. Sekarang, justru terlalu ramai. Populasinya semakin banyak, orang-orang yang datang semakin beragam rupa dan rasnya. Benar, industri minyak telah mengubah segalanya.

Masih teringat jelas dalam ingatan Peramal Tua kita, tentang kedatangan orang-orang berambut kuning dari negeri Barat. Mereka datang mencari ladang minyak dan membangun jalur transportasi melalui kota. Itulah mengapa kota ini sangat ramai sebagai tempat persinggahan.

Peramal Tua kita masih ingat betul, bagaimana cahaya bintang-bintang lambat laun berganti menjadi gemerlap lampu-lampu. Langit malam semakin tak tampak bagi si Peramal Tua, bahkan jika dipandang dari rumahnya yang hanya bertingkat dua. Kota telah berubah. Kota yang dulunya sangat sederhana dan bersahaja, sekarang hanya menawarkan semua yang mewah-mewah.

Hotel dengan pelayanan dan harga terbaik di dunia, toko yang menawarkan barang produksi terbatas dengan harga yang fantastis, hingga wahana hiburan yang entah apa saja isinya. Hanya satu yang masih sederhana. Rumah tempat tinggal Peramal Tua kita, yang tampak lusuh, muram dan terasingkan diantara gedung-gedung yang gemerlapan.

“Mengapa kau membiarkan rumahmu seperti itu?” tanya si gadis.

“Aku ingin membuktikan kepada kota ini bahwa aku tidak pernah berubah. Aku ingin mengingat kota ini seperti apa adanya ia puluhan tahun yang lalu, sebelum orang-orang berambut kuning datang dan mengubahnya. Setidaknya, rumahku masih bisa melindungiku dari badai gurun yang kerap kali terjadi”.

***

Suatu hari, datanglah seorang pemuda  ke rumah si Peramal Tua. Ia bertingkah seperti seorang langganan yang sedang membutuhkan sesuatu. Ia mondar-mandir di depan rumah si peramal.

“Masuklah! Kau tidak salah alamat”. Peramal Tua membuka pintu dan mengajak si pemuda masuk.

“Akhirnya, kau datang juga”, ujar Peramal Tua membuka percakapan.

“Bagaimana pekerjaanmu?” lanjutnya.

“Lancar. Sejauh ini, semuanya berjalan dengan lancar”.

Pengunjung yang datang itu adalah seorang pria berperawakan tinggi dan tampan. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Pakainnya rapi dengan setelan jas dan dasi. Ia sopan, dengan tatapan mata yang dalam. Ia seperti seorang eksekutif muda.

“Ceritakan padaku tentang dirimu, anak muda”.

Pemuda itu memulai kisahnya. Ia bekerja di sebuah perusahaan besar, yang boss-nya merupakan tokoh terhormat dan terkaya di dunia. Pekerjaan yang dilakoninya berhubungan dengan masyarakat luas, sehingga mengharuskannya untuk sering kali bepergian ke seluruh pelosok bumi. Utara, Selatan, Timur, Barat, semua negeri telah ia kunjungi. Kunjungannya kali ini entah sudah yang berapa kali di negeri Timur.

Ia telah bertemu dengan banyak orang dari segala rupa dan ras, dari berbagai jenjang pendidikan hingga status sosial serta dengan orang-orang dari berbagai macam agama dan kepercayaan. Ia telah bertemu dengan orang-orang yang mengharapkan kehadirannya hingga mereka yang tak menyangka akan berjumpa dengannya. Semua itu ia lakukan hanya untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh boss-nya.

“Mengapa kau tak menemuiku lima belas tahun yang lalu?”. Pada saat itu, terjadi gempa dahsyat yang merusak sepertiga kota. Peramal Tua kita, pada saat itu menderita luka-luka yang cukup parah hingga harus dirawat selama beberapa bulan.

“Aku ingin menemuimu. Tapi, boss-ku mengatakan kau akan baik-baik saja”.

“Ada perlu apa kau datang ke sini, anak muda?”

“Aku pikir, seorang peramal bisa meramalkan nasibnya sendiri”

Ha-ha-ha-ha... keduanya tertawa lepas.

“Ya, aku tahu apa maksudmu. Tapi, apakah benar telah tiba saatnya?”

“Ya.”

Pak tua mengedarkan pandangan ke seluruh sisi rumahnya. Ia terpaku. Diambilnya potret istrinya yang telah meninggal dunia ketika gempa itu mengguncang kota. Ditatapnya beberapa saat, lalu didekatkan ke dada, didekapnya erat-erat. Air mata membasahi pipi Peramal Tua kita yang malang.

“Bagaimana dengan orang-orang yang selama ini telah kau temui? Apakah mereka menyambutmu dengan baik?”

“Tak pernah ada yang benar-benar siap memberikanku sambutan jika aku datang menemuinya. Bahkan, jika mereka tahu siapa aku, tak akan ada yang menyambutku dengan baik, Pak Tua”

“Ya, kau benar. Melihatmu tetap membawa ketakutan tersendiri”.

“Apakah orang-orang itu menyadari bahwa kau sangat tampan?” ujar Pak Tua

“Bahkan jika aku sangat tampan, orang-orang akan sibuk memikirkan nasib mereka sendiri selanjutnya”.

“Kupikir kau akan mengunjungiku besok. Aku bahkan seperti orang-orang itu, tak bisa menyambutmu dengan baik”.

“Rupanya, seorang peramal bahkan tak mampu meramalkan nasibnya sendiri”

“Ha-ha-ha...” Pak Tua tertawa.

“Tak seorang pun mampu meramalkan dengan tepat kedatanganmu. Datangnya kematian tetaplah sebuah misteri.  Rupanya waktuku telah tiba”.

Peramal tua kita akhirnya menemui kematian. Apakah kau berpikir bahwa kematian itu benar-benar tampan?