Perahu sampan itu terus melaju. Memecah permukaan air laut yang berwarna hijau  kebiruan. Buih-buih terlihat memutih meloncat di sela  karang.

   Hari itu pagi telah berlalu. Tak lagi dingin yang memeluk ragaku. Sinar mentari begitu kuat menyapa,  bahkan membuat netra tak hendak menatapnya. Silau.

   Aku duduk di posisi tengah. Beberapa orang  duduk di sisiku. Satu perahu dengan tujuan sama walaupun keinginan hati sangatlah berbeda.

   Aku tetap saja diam. Memandang birunya langit bergambar awan putih berbentuk manusia sedang bersimpuh.

   "Kita hendak kemana, Pak?" tanya si anak kecil yang duduk di sisiku.

    "Terus, Ki. Ke daratan di sana itu!" jawab seorang pria yang memegang kemudi.

   Ini bukan kapal besar. Hanya perahu sampan. Deru diesel tentu saja cukup memekakkan telinga. Sehingga wajar jika seseorang harus berteriak untuk sekedar saling bicara.

   Perjalanan baru sekitar lima belas menit. Tetiba tak terdengar lagi suara diesel. Aku pun mencoba diam walaupun menyimpan secuil rasa penasaran.

   "Kok berhenti di sini, Pak? Macet kah perahunya?" tanyaku masih dengan rasa penasaran.

   Aku sangat khawatir jika saja perahu tak lagi melaju dan ombak besar tetiba datang.

  "Iya, Ning. Kita berhenti di sini," jawab seorang lelaki yang duduk di dekat tiang kayu.

  "Macet kah?" tanyaku untuk kedua kalinya.

   Lelaki itu tersenyum, sedikit menggodaku saat melihat wajahku yang mulai kusut.

   "Nggak, Ning. Kita turun di sini," jawabnya singkat.

   "Turun di sini, Pak? Bukankah daratan yang kita tuju masih jauh?" tanyaku lagi.

   Kulihat daratan dengan gundukan pasir putih itu masih beberapa meter lagi. Daratan yang terbentuk dari endapan pasir di antara dua pulau kecil.

    "Iya.Ning mau di sini atau turun?" tanya lelaki itu.

    "Perahunya tak bisa terlalu menepi, hanya bisa sampai di sini," lanjutnya.

   Aku terdiam. Tak mampu memberikan jawaban dengan tergesa. Kulihat anak kecil bernama Rifki itu telah lama turun. Ia tampak asyik berenang menuju daratan.

   "Ayo, turun! "ucap Dahlia, sahabatku.

    Dahlia yang kukenal memang anak nelayan. Ia sahabat lautan. Tak pernah ada ketakutan untuk bermain di perairan. Tetapi aku?

   Aku gadis kampung yang telah lama hidup di pelosok desa. Bahkan rumah kedua orang tuaku pun jauh dari lautan. Air pun sering sekali sulit kami dapatkan.

   Aku terdiam untuk kesekian kalinya. Dahlia menatapku yakin. Ia menggandeng tanganku dan mengajakku ke air.

   Awalnya aku ragu untuk memasukkan telapak kaki ke air yang berwarna biru itu.

   "Ayo, Ning. Dangkal kok," ucap Dahlia.

   Ia telah berada di air. Air laut yang tak terlalu dalam.  Mungkin inilah tempat pilihan yang tepat untuk mengusir ketakutan.

    Siang pun semakin panas. Namun saat itu hatiku merasa dingin. Seorang lelaki, sepupu Dahlia setia menemani kami bermain air. Lalu bertualang melihat bermacam kerang dan biota di lautan.

    Hatiku semakin tenang. Ternyata untuk mengusir ketakutan dapat kita lakukan saat kita berada di tengah orang-orang yang membuat kita aman.

   "Besok naik perahu sampan lagi ya," pintaku kepada dua sahabatku.

   Mereka mengangguk. Tersenyum lega telah dapat membuatku melupakan ketakutan yang kubuat sendiri.

   Esok hari, kala embun masih menggantung di lengkung dedaunan. Aku mencoba membuka mata. Kulihat dari balik jendela kamarku, sebuah perahu sampan telah melaju. 

   Lalu aku duduk di kursi kayu di dekat jendela. Berharap mentari kembali bersinar cerah. Membawaku pada siang tanpa resah. 

   Tetapi ketika pagi berlalu, aku tak menemukan kembali diriku. Siang itu membawaku kembali pada ketakutan yang telah lama kusimpan. 

   "Jadi naik perahu sampan lagi kah?" tanya Dahlia usai sarapan. 

    Akupun menggeleng. Terbersit ragu yang menyelinap di hatiku. Bayangan masa lalu itu selalu saja melintas di benakku. 

   "Nggak. Lain kali saja,"  jawabku. 

    Dahlia tampak menunggu. Mungkin saja aku mengubah pendirianku. Tetapi aku tetap keukeuh. Tak hendak menaiki perahu sampan itu lagi. 

       ***

     Bulan telah berlalu. Tahun pun telah berganti. Di usia senja aku kembali berdiri di pantai ini. Menatap perahu sampan yang terus saja lalu lalang. 

   Sudah lebih dari dua puluh tahun tak lagi aku berani menaikinya. Bahkan untuk sekedar mendekatinya saja aku tak mampu. 

   "Bu, kita jadi ke daratan di seberang itu?" tanya Sinta, anak bungsuku. 

    "Entahlah, Ibu ragu," jawabku. 

    "Kenapa, Bu? Bukankah Ibu telah berjanji untuk mengajakku menyeberang?" ucap Sinta. 

    Akupun terdiam. Menatap jauh ke batas langit. Tak lagi ada awan putih yang menghiasi birunya langit. Tetapi aku masih juga ragu. Bayangan itu masih lekat dalam ingatanku. 

    "Ayo, Bu. Sinta ingin menyeberang," ajak Sinta. 

      Dia baru melewati hari ulang tahunnya yang kelima. Tak hendak kubisikkan ketakutanku kepadanya. Ombak tak selalu menakutkan. Karang yang tajam tak mesti melukai. 

    Masa depannya masih jauh untuk melukiskan sejuta keindahan. Biarkan saja kenangan buruk masa laluku aku simpan. 

    Perahu sampan itu telah menenggelamkan orang terkasih. Lelaki yang telah membuatku berani. Walaupun pada akhirnya ketakutan itu menghantuiku kembali. 

    "Ayo, Nak,"  ucapku kepada Sinta. 

    Ia terlihat gembira menaiki perahu sampan. Ia tak pernah tahu ketakutan yang kusimpan. Untuk kesekian kalinya, butiran bening mengalir deras di dahiku. Bahkan keringat pun membasahi tubuhku yang terbalut rindu. 

     "Ibu takut air ya?" pertanyaan Sinta membuyarkan lamunanku. 

     Akupun mengangguk. Mencoba menghibur diriku sendiri. Ketakutan yang kubuat sendiri, harusnya berganti dengan keberanian yang kuciptakan. Aku yakin, aku pasti bisa. Demi Sinta. 

Nganjuk, 03022021