Karyawan Swasta
3 bulan lalu · 454 view · 3 menit baca · Lingkungan 33336_91912.jpg
Jembatan Ampera - Sungai Musi (Dok. Pribadi)

Perahu Kayu, Nadi Pabrik Kertas

Baung, ikan dengan habitat hidup di muara sungai, berbatasan laut, perairan payau. Di Sumatra Selatan, ikan ini banyak ditemukan di kawasan pasang surut. Mungkin itu alasan kenapa daerah ini dinamai begitu. Sungai Baung.

Salah satu desa di Kecamatan Air Sugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Di sini didirikan pabrik kertas terbesar se-Asia, PT OKI Pulp and Paper Mills. Lokasinya dapat diakses dengan jalur sungai, 1,5 - 2 jam perjalanan dengan perahu kayu bermesin, dari pusat Kota Palembang.

Jalur darat dapat ditempuh, hanya jika tidak turun hujan pada hari itu atau beberapa hari sebelumnya. Karena jika tidak, perjalanan itu akan terasa seperti off-road. Di jalan keringpun, waktu tempuh tidak kurang dari 5 jam perjalanan.

Ada dermaga khusus untuk karyawannya. Persis di samping tugu ikan belida di benteng kuto besak. Sebuah taman kota yang diperuntukkan untuk mengagumi Jembatan Ampera dan menikmati pemandangan Sungai Musinya.

Perahu kayu yang sama seperti beberapa perahu lain yang mondar-mandir di Sungai Musi. Perahu bermuatan empat orang pada setiap barisnya. Ada sekitar enam baris bangku kayu yang diberi tambahan busa pada tempat duduk dan bagian punggungnya.

Perahu yang sering karyawan gunakan berukuran lebih besar dan lebih nyaman. Jarak antara satu baris dengan barisan dibelakangnya tidak terlalu dekat. Ada juga perahu dengan tempat duduk seperti kursi mobil yang diletakkan di sana, dan di setiap perahu difasilitasi dengan baju pelampung berwarna jingga.

Di samping masing-masing bangku ada sebuah jendela besar, mengangkatnya ke atas untuk menutup atau membuka pembatas di bagian bawahnya untuk membuka jendela. Kita mungkin akan basah jika duduk di sana tanpa menutup jendelanya.

Perahu bermesin tunggal, atau mesin ganda untuk perahu yang berukuran lebih besar. Diletakkan di bagian bekang perahu dan nahkodanya (jika boleh disebut begitu) duduk di bagian paling depan. Dia haruslah orang yang sangat terampil dan berpengalaman. Karena di sungai tidak ada rambu atau markah jalan.

Ketika perahu ini melaju kencang, gelombang air membuatnya terguncang-guncang. Semakin depan posisi barisan kursi yang dipilih, semakin keras guncangan yang dirasakan. Semakin besar sungai yang dilewati, semakin besar gelombang. Semakin besar gelombang, semakin keras tubuh terguncang.

Percikan air bisa masuk dari jendela jika dibiarkan terbuka begitu saja. Di sungai kecil, gelombang dibuat oleh perahu lain yang melintas atau berlawanan arah. Kecepatan harus dikurangi, untuk menjaga perahu tetap pada posisi stabilnya.

Dua puluh menit pertama, perahu masih ada di perairan Sungai Musi. Di sisi kiri dan kanan sungai masih terlihat bangunan-bangunan sama, hanya saja kali ini dari sudut pandang yang berbeda. Setelahnya perahu berjalan ke sungai yang lebih kecil dan pemandanganpun mulai berubah.

Gelombang air tidak sekeras di Sungai Musi, perahu berjalan lebih tenang, setenang pemandangan di sekitar sungai. Pohon-pohon dengan akar-akar yang terlihat dari pinggiran tanah di tepian sungai. Sesekali ada burung-burung yang hinggap di sana, entah untuk mencari makan atau hanya melepas lelah.


Rumah-rumah panggung, atau anak-anak yang sedang berenang juga menjadi pemandangan yang luar biasa. Dari kejauhan ada burung elang yang terbang rendah mendekati dasar sungai, berputar-putar dan mengintai.

Perahu berbelok ke sana kemari, entah berapa aliran sungai yang sudah dilewati. Yang menjadi tanda adanya perubahan lokasi adalah seberapa dekat terlihatnya daratan di kanan dan kiri. Sudah lebih dari 1,5 jam perjalanan. Sungai terlihat penuh oleh jejeran kapal-kapal penarik tongkang.

Ada tongkang yang membawa tumpukan kayu gelondongan, ada juga yang membawa alat berat dan kendaraan. Sungai itu terlihat aktif sekali, hampir seperti saat melewati Sungai Musi. Seolah-olah transaksi terjadi di sana. Entah apa, perahu kayu hanya melewatinya.

Perahu terasa seperti mematikan mesinnya, mungkin hanya melambat sesaat. Lalu berbelok ke kiri dan pemandangan berbeda dimulai dari sini. Ada jajaran container disusun rapi. Dibuat seperti benteng yang terlihat membatasi dunia luar dan apa yang mungkin tersembunyi.


Sebuah cerobong asap yang sangat tinggi menjulang dari kejauhan. Ujungnya dicat merah putih secara bergantian, di tiap lapisan. Di bagian cat merah terlihat tulisan “OKI”, dan logo Sinar Mas di atasnya. Cerobong asap terbesar di dunia, sepertinya.

Kecepatan perahu mulai menurun, menepi dan bersandar perlahan. Perahu kayu sampai di sini, dermaga yang dikhususkan untuk karyawan atau pengunjung yang datang dengan persetujuan perusahaan.


Tidak untuk umum, seperti dari awal perahu kayu itu berjalan. Seperti itu pulalah saat perahu menyentuh daratan. Perahu-perahu kayu yang hilir mudik mengantarkan ribuan tenaga kerja, yang memilih berpisah sesaat dari keluarga. Sedikit menjauh dari pusat kota.

Bukan hanya demi rupiah, tetapi juga karena tanggung jawab untuk keluarga atau perwujudan sebuah cita-cita, dan berharap bernilai ibadah. Perahu kayu membantu mereka, mengantarkan sampai ke sana. Ke pabrik kertas tempat mereka mencari nafkah. 

Artikel Terkait