Seniman
3 tahun lalu · 188 view · 2 min baca · Gaya Hidup 098681000_1429899961-baground.jpg
[Foto: bintang.com]

Peradaban Manusia Sekarat karena Kita Telah Sepakat

Peradaban manusia telah sekarat!

Kenapa? Tidak percaya?! Mau bukti, mau data, mau tulisan dari hasil penelitian para ahli lagi agar bisa percaya? Bukti dan data apa lagi?? Apakah diri kita sudah mulai tidak peka dengan alam?

Siapa yang kotanya sudah mulai dihantui dan sering ditenggelamkan banjir? Jujur saja. Sudahlah, jangan cari kambing hitam lagi. Terlalu berisik dan nggak asik. Mari kita akui bersama kalau hal ini karena kita yang telah sepakat untuk acuh terhadap kondisi alam semesta.

Ingat! Kita yang sudah sepakat. Kita sepakat untuk membuang sampah sembarangan. Kita juga sepakat untuk menabung sampah setiap hari. Setelah menumpuk di dapur, seenaknya membuang. Selokan menjadi tempat efektif atau Tempat Pembuangan Sampah (TPS) pun dibiarkan menggunung. Apa-apaan ini?? Lelucon macam apa ini??!

Lucu sekali! Kita yang sudah sepakat membuang sampah sembarangan, lalu terjadi banjir, kemudian hujat-hujatan dan berusaha mencari kambing hitam. Begitu?!

Kita pasti tahu, pepohonan adalah salah satu penyelamat agar air tidak mellimpah ruah di pemukiman masyarakat. Tapi kenapa kita diam saat hutan ditebang dan dibakar??

Apa lagi? Macet?! Hahaha! Sama saja. Kita yang sudah sepakat untuk enggan berjalan kaki. Kita malu, kalau jalan kaki pasti dianggap miskin. Kita malu dicap miskin. Makanya kita berlomba-lomba membeli motor dan mobil pribadi.

Ha, biar tidak terlambat masuk kerja? Biar efektif dan hemat waktu? Begitulah. Kehidupan apatis! Sibuk memikirkan diri sendiri. Memangnya generasi sekarang akan berhenti dalam waktu dekat ini, sehingga wajar saja jika kita begitu serakah mengeruk isi bumi?

Apa? Karena matahari terlalu panas?? Hahahaha! Ini alasan makin lucu, kawan!

Begini. Ini persis lingkaran setan. Saat ada lima orang membeli kendaraan pribadi, matahari akan kian tajam. Lalu, mereka yang juga sudah sangat tersiksa dengan panasnya matahari, ikut membeli kendaraan. Begitu seterusnya. Lucu! Kita berusaha menghindar dari keadaan alam yang kian ekstrim dengan memakai alat yang seyogyanya hanya akan memicu dan membuat alam semakin ekstrim. Hebat!

Ingat, gas emisi kendaraan adalah salah satu penyebab utama pemanasan global. 

Oh ya. Ini bentuk kebodohan kita yang tidak peka dengan hal yang sederhana. Gimana macet bisa diatasi saat kendaraan semakin meluap di jalanan?? Saya rasa, kalau memang mau, silakan hancurkan gedung-gedung itu dan bangunlah jalan, jalan dan jalan raya sebanyak-banyaknya dan selebar-lebarnya. Saya jamin, tak ada macet.

Gelas juga punya kapasitas maksimum untuk menampung air, Bung!

Apa lagi alasan kita? Kenapa kita mau dijajah dan hidup dalam konsep konsumtif dengan cara membeli alat yang hanya akan memicu kondisi alam ini semakin buruk?

Ingat! Lingkaran setan, Kawan. Di saat peradaban dan kebobrokan kian melesat maju, hanya ada dua kemungkinan untuk posisi kita. Diam dalam posisi terlarut dengan kebobrokan, atau posisi yang berani melawan untuk menghentikan segala aktivitas pengrusakan alam. Pilih mana?!

Sekian dulu. Sampai jumpa di bagian kedua.

Artikel Terkait