"Institut KH Abdul Chalim merupakan cikal bakal universitas yang terlahir dari cita-cita luhur untuk terwujudnya Perguruan Tinggi yang berskala Internasional sejajar dengan Al-Azhar di Mesir, Harvard di Amerika, Sorbonne di Prancis, dan Universitas KH Abdul Chalim di Indonesia." (DR. KH Asep Syaifuddin Chalim, MA., Ketua Umum PERGUNU)

Ketika para pembaca menuntaskan bait kalimat pembuka, penulis yakin akan lahir di ujung bibir senyum bahkan gelak tawa. Namun, pembaca tak sendirian, penulis bersama kalian. Tapi itu dulu, kali ini sudah tidak lagi. 

Penulis ingat, hal yang tidak bisa dibeli di dunia ini hanyalah cita-cita dan salah satu langkah praktis dalam menjawab alasan hidup ialah mewujudkannya. Dan ini bukan semacam iklan pemasaran sebuah kampus, lebih kepada nyala lilin yang harus tetap dijaga nyala lilinnya sampai kelak.

Dua alasan kenapa penulis menuliskan ini. Pertama, karena sepenggal statement Mendikbud Nadiem Makariem tentang "Akreditasi tak menjamin mutu, dan yang berada dalam ruang kelas tak mesti belajar". Dan kedua, yakni pilihan teman sejawat yang lebih memilih tetap bertahan dengan alasan ta'dhim dengan pengasuh di antara pilihannya yang terlalu menggoda, yakni berkuliah di luar negeri via beasiswa.

Harus ada yang berani mengatakan bahwa antara kampus negeri dan swasta tidak ada pembeda dalam segi keadaan lingkungan yang ditawarkan. Akreditasi yang tak menjamin mutu menjadi tameng banyaknya stigma akan ketidak-berkelasan kampus swasta. Baik negeri maupun swasta merupakan cikal bakal sejarah peradaban manusia lahir.

Nama sebuah kampus ternama kelas dunia Harvard University kenapa dipilih menjadi mozaik dari kalimat pembuka menjadi rujukan. Kenapa bukan Cambridge University? Alasannya cukup kuat, karena nama Harvard diambil dari nama salah satu orang (John Harvard), salah satu mahasiswa Oxford yang menangani demonstrasi di sungai Cam dulu kala. (Baca: Anak-Anak Revolusi 2, Budiman Sudjatmiko)

Benar memang politisi romantis Budiman menuliskannya, tentang Manusia Cambridge dan Bukan Manusia Cambridge. Mahasiswa di kampus tersebut terkenal menjadi seorang penemu, perintis peradaban, pencipta teknologi, sampai manusia pemimpin. Bahkan, jika saja seorang Sir Isaac Newton tidak berkuliah di Cambridge University, maka Newton hanyalah seorang penjual buah apel selamanya. Bukan penjabar dan penemu Gaya Gravitasi.

Sesuai dengan motto Cambridge University, Hinc lucem et pocula sacra, Latin for "From here, light and sacred droughts". Versi bahasa Indonesia-nya kurang lebih "Dari tempat ini, kita beroleh pencerahan dan pengetahuan". Terlihat arogan, tapi sah saja jika dilihat dari para lulusannya.

Tapi, kenapa sampai detik ini Indonesia belum laksana Cambridge University? Padahal banyak perbincangan tentang Indonesia menjadi rujukan sikap toleransi dan kenegaraan beberapa waktu silam?

Oscar Wilde pernah berkata, "Siapa yang menguasai meja-meja makan di London, pasti akan menguasai dunia." Jika boleh dibilang; jika tak mampu bertahan hidup Jakarta, tak akan memimpin Indonesia? Atau kalau berkenan, harus ada sebuah nomenklatur yang tertulis di sini akan lahir, penemu dan para pemimpin bangsa yang berasal dari kampus kita Indonesia.

Menjadi bagian awal namun bukan akhir dari sebuah awal, angkatan pertama benar-benar mewajibkan para manusia kampus baru ini ber-mindset Survival Instinct. Kita sudah akrab dengan harus makan sekali sehari, dan itu pun sudah baik tinimbang makan dua hari sekali terkadang. Minyak angin dan balsam penulis kira sudah menjadi kawan alami dalam menghadang perut kosong.

Diskusi tiap malam untuk tetap menjaga nalar kritis transformatif ala pemuda tetap dilakukan. Karena semua tahu, diskusi panel merupakan langkah taktis dalam membunuh kesombongan intelektual. 

Semangat spritual yang tetap terjaga demi kelancaran setiap tindak tunduk manusia di hadapan Sang Pencipta adalah bukti kekurangan diri sebagai seorang hamba. Hasil belum diketahui, tak asyik jika hasil sudah diketahui sebelum bertanding. Doa harus terus kita gantungkan di atas jidat.

Penting, geliat ini mungkin jauh lebih mudah tinimbang bagaimana seorang Ludwig Wittgenstein mengarang Tractatus Logico-Philosophycus, saat harus menuliskan buah idenya di saat bunyi ledakan meriam akrab di gendang telinga, saat di dalam kubangan sungai saat menjadi prajurit perang.

Bonus demografi Indonesia yang condong kepada kalangan muda/milenial selayaknya dipergunakan dengan semaksimal mungkin. Sederhananya, wahai teman sejawat penulis, pilihanmu sungguh tepat. Perjuangan bangsa masih terus bergulir sampai Indonesia benar-benar merdeka dari belenggu ketidakadilan dan ketertinggalan peradaban.

Hidup yang tak diperjudikan bukannya tak layak diperjuangkan? Dengan mengambil syair lagu Man Ana Lau lakum, siapa kita kalau bukan karenanya (Guru). Besar kemungkinan harapan yang telah dituangkan akan terbakar habis dalam tungku perapian kenyataan.

Ingat, jika di kampus yang telah melahirkan banyak para Begawan, harus mengambil jalan DO agar dapat mencetak sejarah, kita dengan perjuangan penuh untuk keluar menantang peradaban luar pun akan sama mencetak sejarah. 

Syahdan, penulis kurang paham, apakah penulis dalam kesadaran nyata ataupun semu. Kamu tidak salah pilih kawan, kenapa? Karena alinea pembuka yakni untuk menuntaskan cita-cita, maka dalam alinea ini permulaan adanya diskusi permasalahan yang lebih kompleks.

Tak ayal, kampus adalah peradaban kedua setelah rahim ibu. Semangat dan geliat hidup kembali membara kala bayang-bayang akan perjuangan dan pengabdian hadir kembali pasca bayi manusia menangis untuk pertama kalinya merasakan gegap gempita dunia.

Nyala lilin harus terus berkobar laksana obor jika perlu. Sudah saatnya kita rebut kembali kejayaan keilmuan Islam berskala dunia dan terlahir dari Indonesia.