1 minggu lalu · 54 view · 3 menit baca · Politik 95292_78367.jpg
Netralnews

People or Single Power

Suasana menunggu waktu berbuka puasa senantiasa menjadi momen yang begitu dinanti. Setidaknya, selama bulan puasa terjalin kebersamaan antarkeluarga, kerabat, dan kolega untuk saling berbincang dan berbagi cerita. Entah menyangkut menu berbuka yang hangat-hangat hingga isu politik yang sudah lama terasa bara panasnya.

Kebersamaan menjelang berbuka puasa kadang disertai dengan berbagai tebak-tebakan yang bisa buat ketawa. Kata orang, tertawa itu bikin awet muda. Bagi rakyat seperti kami, hanya dengan tertawalah yang akan menghangatkan suasana. Sebab, kalau rakyat terlalu serius, ada kekhawatiran single power, ops, people power.

Mendengar celotehan kerabat yang menyebut single power, sontak suasana berubah dengan gelak tawa. Salah seorang kerabat menimpali, Betapa kuatnya single power mampu membuat alam alam nyata geger dan alam gaib mengalami keterguncangan.” 

Yang lain mencegat, "emang yang kamu maksud single power itu apa? Adakah kelanjutan dari seruan people power?"

Kerabat yang paling sepu dan penyuluh pernikahan di KUA memberikan pandangan soal single power. Kalau yang dimaksud dengan single itu dari sudut pandang status seseorang apakah sudah menikah atau belum? Tentu untuk urusan yang single-single, orang KUA ahlinya. Menurutnya, status single itu membuat seseorang memiliki banyak power yang meledak-ledak.

Seorang single memiliki dua potensi yang teramat dahsyat dan mampu mengetarkan. Pertama, potensi single yang tak mengenal lelah untuk naik kursi, setidaknya kursi pelaminan. Untuk urusan itulah manuver single dilakukan dengan berbagai cara demi menggaet calon pemilih alias prempuan atau istilah bekennya emma-emma.

Kedua, potensi single untuk menggunakan berbagai cara bila calon yang dipilih tidak bersedia memberinya kursi, alias naik kursi pelaminan. Yang membuatnya mengerahkan berbagai massa demi mendesak keluarga bangsanya mengakui bahwa Si Single telah memenangkan hati dan telah mendapatkan mandat menduduki kursi, pelaminan yang telah disiapkan.

Pemaparan yang terbilang komplet yang diuraikan oleh kerabat dari KUA telah membuka cakrawala dan sedikit memahami betapa status single memiliki kemampuan yang mampu menembus batas-batas yang tak terpikirkan. Tetapi, kerabat dari KUA kembali mengambil jalannya pembicaraan bahwa potensi single akan jauh lebih baik bila membina keluarga, biar punya tujuan jelas dan ada yang men-support.


Pembicaraan dari kerabat KUA tidak bertahan lama memenuhi relung pikiran kami. Sebab, kehadiran kerabat yang terkenal raja rumpi setidaknya pernah bercita-cita jadi artis. 

Namun, garis tangan berbicara lain. Niat hati ingin jadi artis malah menjadi penjual bahan-bahan campuran, hingga merambah ke usaha busana muslimah, yang secara perlahan membuatnya bermetamorfosis menjadi penceramah lingkup jagat pasar.

Menurut kerabat kami yang berlatar sebagai penjual bahan-bahan campuran, pada dasarnya yang dimaksud oleh people power sering disalahpahami oleh banyak kalangan. Sebab, people power bagi kalangan penjual, tapi bukan penjual agama loh yah. People itu tak lain adalah salah satu merek minuman, jadi people dibaca pulpi dan power itu bukan kekuatan sebagaimana dipahami, melainkan merek minuman, yaitu power f.

Penjelasan terkait people power, bila dibaca dari sudut pandang penjual terbaca sebagai pulpi power f, namun masih memiliki hubungan antara people power dengan pulpi power

Sebab, bagaimanapun juga, people power, kalau memang betul-betul terjadi, maka akan membutuhkan minuman. Salah satu merek favorit rakyat, yaitu pulpi dan power f, tetapi jangan salah paham dulu terkait huruf f dari power f, itu artinya founding, yang tentunya sangat menentukan jalannya people power.

Tampaknya suasana menunggu waktu berbuka puasa telah memberikan perspektif tersendiri, yang tentunya khas rakyat. Kalau terkesan konyol dan tidak nyambung, mungkin disebabkan oleh ketidakkaruan yang rakyat saksikan setiap hari. Seorang penyuluh KUA tampaknya lebih enjoy membicarakan single power dibandingkan people power.

Kalau bagi kalangan penjual, seakan people power tidak lain adalah merek minuman yang senantiasa mereka jual tiap harinya. Sehingga para penjual tahu betul bahwa rakyat masih membutuhkan banyak minum pengalaman untuk membuat mereka berdaya. 


Sekali lagi, negara semestinya hadir menjawab persoalan rakyat dengan membuka ruang founding dari pihak-pihak bank supaya mampu menyuntikkan dana demi berusaha.

People power semestinya bukan diarahkan sebagai aksi protes politik terhadap ketidakterpilihan calon tertentu, melainkan people power mesti merespons ketidakberdayaan rakyat, bukan ketidakberdayaan politik mereka. Sehingga untuk urusan people power, entah kalah atau menang pemilu, mereka saling duduk dan merumuskan berbagai aksi nyata demi rakyat.

Alasannya sederhana. Yang menang pilpres, bertindaklah sebagai eksekutif untuk rakyat. Bagi yang kalah pilpres, jangan berkecil hati, pasti partai yang mengusung Anda ada yang lolos di legislatif. Maka berjuanglah untuk rakyat di jalur legislatif. Setidaknya itu harapan bersama rakyat yang melahap menu buka puasa.

Kalau para elite politik memahami bahwa mereka berjuang demi rakyat, maka marilah menghargai pilihan rakyat. Jangan menganulirnya lewat gerakan-gerakan yang hanya akan memperkeruh suasana.

Artikel Terkait