Elite International School merupakan salah satu sekolah terbaik yang ada di Kota Jakarta, Indonesia. Tampilan gedung sekolah ini terlihat mewah seperti namanya. Setiap tahunnya, EIS membuka satu peluang beasiswa bagi murid yang berprestasi dari kalangan ekonomi yang rendah. Seperti Inara Ghazalah, murid yang berhasil mendapatkan beasiswa dan sudah memasuki tahun ketiga di sekolah ini.

“Kerjain tugas gue,” Ucap Jessi yang merupakan ketua geng Elgirls sambil melempar buku ke arah Inara yang sedang duduk di tempatnya. 

Inara tidak bisa menolak karena dia tidak punya kekuasaan seperti Jessi yang merupakan anak salah satu komite sekolah. 

“Eh, sekalian tugas gue sama Cherly,” Ucap Zelena sambil melempar bukunya dan buku Cherly. 

Inara hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum. 

Ya ampun perut aku udah sakit banget, tapi aku harus ngerjain tugas mereka,” batin Inara.


***


Bel pulang sekolah telah berbunyi, Inara ditarik sampai ke gudang sekolah lalu dipaksa masuk sambil didorong oleh Elgirls

“Lu ada hubungan apa sama Harsa?” Ucap Zelena marah. 

Inara yang tidak tahu apa–apa hanya terdiam sambil memikirkan perkataan Zelena. 

Cherly yang kesal atas terdiamnya Inara langsung membentak “Kalau ditanya itu dijawab!” 

Inara menggeleng lalu berkata “Aku ga ada hubungan apa-apa sama Harsa.”

“Kalau ga ada hubungan apa-apa kenapa Harsa marahin kita? Lu ngaduin kita ke Harsa kan?” Ucap Zelena sambil mendorong Inara. 

Inara hanya menggelengkan kepala sambil menahan tangis. 

“Kenapa? Mau nangis? Cengeng banget lu. Awas aja sampai berani ngadu ke Harsa lagi,” Ucap Jessi lalu meninggalkan Inara sendirian.


***


Beberapa hari setelah kejadian di gudang, Harsa semakin memperhatikan Inara. Tidak hanya Harsa, Jevan pun turut memberi perhatian kepada Inara. Harsa selalu mengajak Inara untuk ke kantin namun Inara selalu menolak. Jevan juga sering menemani Inara di kelas saat jam istirahat yang membuat para siswi iri kepada Inara karena Jevan adalah siswa populer di EIS.


***


Semakin lama hubungan Inara dengan Jevan dan Harsa semakin dekat. Jevan dan Harsa sering melakukan kegiatan bersama dengan Inara, seperti makan di kantin, belajar bersama, bahkan bertemu di luar sekolah untuk hangout. Tidak hanya mereka bertiga, Jevan pun mengajak Gerald dan Felix untuk bergabung dengan mereka.


Saat sedang hangout bersama di kafe, Elgirls memergoki mereka berlima. 

Jessi langsung memegang pundak Jevan dan berkata “Jev, kok kamu mau sih main sama si cupu ini?” Sambil melirik Inara dengan sinis. 

“Aduh ngapain sih tante–tante pada nyamperin kita?” Ucap Gerald dengan nada meledek. 

“Kalian tuh harusnya di tempat karaoke, kalo di sini tuh tempatnya anak muda,” Ucap Felix yang ikut meledek.

“Jevan, temen kamu tuh ngeledekin aku. Kamu ga mau belain aku?” Ucap Jessi dengan nada manja. 

“Sa, kita hangout berdua aja yuk! Daripada di sini ga jelas,” Ucap Zelena mengajak Harsa. 

Harsa memutarkan bola matanya dan berkata “Maaf banget nih ya tante, tapi saya masih muda dan belum mau berbuat dosa.”

Gerald dan Felix yang mendengar itu langsung tertawa terbahak–bahak, berbeda dengan Jevan dan Inara yang menahan tawanya. Elgirls yang tidak terima dengan perkataan mereka langsung menatap sinis ke arah Inara. 

“Lu jangan seneng dulu gara–gara ada mereka. Lihat aja nanti apa yang bakal gue lakuin ke lu!” Ucap Jessi, lalu menyuruh kedua temannya pergi dari kafe sambil memiliki dendam kepada Inara.

 

***

 

3 bulan kemudian, ujian nasional sudah memasuki hari terakhir. Tak lama, terdengar bel berbunyi yang menandakan ujian telah usai. Saat keluar ruangan, Elgirls yang melihat Inara hanya sendiri langsung melancarkan aksinya untuk membalaskan dendam yang sudah tertunda lama. 

“Eh, cupu! Apa kabar? Mana malaikat pelindung lu itu?” Ucap Jessi.

“Asal lu tahu ya, malaikat pelindung lu itu sebenernya ngejadiin lu bahan taruhan. Kasihan banget ya girls,” Ucap Cherly diikuti dengan suara tawa Jessi dan Zelena. 

Inara yang tidak percaya hanya terdiam. 

“Kok muka lu ga percaya gitu sih? Kasian banget si cupu ini ga percaya sama kita. Tapi setelah tahu ini cuma taruhan, kita ga perlu cape-cape balas dendam sama lu. Udah yuk cabut, gerah banget di sini,” Ucap Jessi sambil meninggalkan Inara.

 

Saat di gerbang sekolah, Inara bertemu dengan Harsa yang seperti sedang menunggu seseorang. Inara pun menyapa dan bertanya kepada Harsa “Hai Harsa, lagi nunggu siapa?”

Harsa menengok ke arah suara yang memanggilnya dan sudah bisa ditebak kalau si pemilik suara itu Inara.

“Eh, kebetulan orang yang gue tunggu datang. Ada yang mau gue omongin nih sama lu,” Ucap Harsa tersenyum.  

“Apa tuh, Sa?” Ucap Inara penasaran. 

“Gue suka sama lu Ra, lu mau ga jadi pacar gue?” Ucap Harsa dengan nada serius. 

Inara shock mendengar pernyataan Harsa, tetapi Inara langsung memberanikan diri untuk menjawab. 

“Maaf Harsa, aku ga bisa nerima kamu karena aku suka sama orang lain,” Jawab Inara dengan muka polosnya. 

Harsa tersenyum kecewa dan berkata “Iya gapapa Ra, tapi kita tetep temenan kan?”

Inara hanya menganggukan kepala dan tersenyum.

 

***

 

Hari kelulusan pun tiba, para siswa sedang berkumpul di lapangan. 

Jevan tiba-tiba memanggil Inara dan menyatakan perasaannya “Inara, lu mau ga jadi pacar gue?”

Inara yang sudah memendam lama perasaannya langsung menganggukkan kepala. 

“Iya, aku mau Jevan,” Ucap Inara sambil tersenyum malu. 

Jevan pun tersenyum lalu mengatakan sesuatu “Karena Inara udah terima gue, berarti gue menang dari taruhan ini. Harsa lu harus tepatin janji lu,” Sambil menunjuk Harsa.

Jevan melanjutkan perkataannya, “Inara, ternyata lu lebih polos dari yang gue kira. Tapi, gue beruntung karena bisa menang taruhan ini. Dan mulai sekarang kita putus karena gue udah dapetin apa yang gue mau.”

Mendengar semua itu, Inara langsung meninggalkan lapangan dengan rasa sakit hati. 

Dia berlari keluar sekolah dan tidak menyadari bahwa ada truk yang melajukan sangat kencang menuju ke arahnya.

“Bruk!” terdengar suara tabrakan.

Tubuh Inara terpental dengan jarak yang cukup jauh. Seisi sekolah yang mendengar suara itu pun langsung keluar dan betapa terkejutnya mereka saat tahu bahwa Inara lah yang tertabrak. Ternyata nyawa Inara tidak dapat tertolong. Jevan dan Harsa sangat menyesal setelah apa yang dilakukannya kepada Inara, mereka belum sempat meminta maaf tetapi Inara sudah tiada. Mereka hanya bisa menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Inara. 


***