87914_21813.jpg
Letnan Henkie Antaribaba, kanan. (Foto: Istimewa)
Sosok · 8 menit baca

Penyesalan Letnan Henkie Antaribaba
Kisah Kegagalan Militer Meraih Simpati Rakyat Papua

Pada tanggal 30 Maret 1961, kantor berita Reuters melaporkan tertangkapnya sembilan orang tentara Indonesia yang sedang menjalankan infiltrasi ke wilayah Papua yang saat itu masih dikuasai Belanda. Mereka adalah bagian dari satu regu berjumlah 23 orang yang dipimpin oleh seorang tentara asal Papua, Letnan Henkie Antaribaba dari Korps Irian 17.

Menurut Reuters, pasukan Henkie Antaribaba mendarat dengan perahu motor di Kampung Modowi dekat Laut Omba di pantai barat laut Papua pada bulan November 1960. Sempat baku-tembak dengan aparat keamanan Belanda, mereka melarikan diri ke hutan.

Setelah empat bulan dalam pelarian, mereka menyerah akibat kelelahan dan kehabisan perbekalan. Ketika ditangkap, menurut laporan Reuters, Letnan Antaribaba memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Dia mengungkapkan penyesalan atas ketidaktahuannya akan aspirasi bangsanya sendiri, bangsa Papua. Dia merasa tertipu.

"Soekarno menipu kami. Soekarno mengatakan rakyat Papua akan menerima kami dengan tangan terbuka," kata dia.

Pada kenyataannya, seperti dilaporkan oleh Reuters, bukan penerimaan yang mereka dapatkan. Orang-orang Papua justru melawan mereka dengan memberitahu keberadaan mereka kepada aparat keamanan. Bahkan ada yang berpura-pura menjadi pemandu jalan, mengambil senjata mereka dan menyerahkannya kepada polisi.

Ken Conboy dalam bukunya yang populer, Kopassus: Inside Indonesia's Special Forces (Equinox Publishing, 2003), menyinggung kisah Henkie Antaribaba sebagai bagian dari satu bab tentang berbagai operasi infiltrasi militer ke Papua. Dalam bab tersebut, dikisahkan bahwa kegagalan Henkie Antaribaba hanya satu dari berbagai -- jika bukan semua -- kegagalan upaya penyusupan militer yang dilancarkan ke Papua.

Menurut Conboy, salah satu faktor gagalnya operasi infiltrasi ke Papua, selain karena medan yang berat dan luas serta dukungan infrastruktur yang tidak memadai, adalah keengganan masyarakat Papua itu sendiri (unfriendly population) untuk membantu. Tidak seperti narasi arus utama yang sering menggambarkan integrasi Papua ke Indonesia adalah proses yang mulus dilandasi kesukarelaan rakyat Papua untuk berintegrasi, kisah Henkie Antaribaba memberikan gambaran yang berbeda.

Operasi A

Pada 10 Februari 1958, Presiden Soekarno membentuk apa yang dikenal sebagai Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Ada tiga tujuannya: pertama, menyelesaikan revolusi nasional Indonesia; kedua, melaksanakan pembangunan semesta nasional; dan ketiga, mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia.

Pada saat yang sama, militer membentuk kelompok kerja khusus di bawah arahan Kolonel Ernest Julius Magenda (di kemudian hari menjadi Mayor Jenderal). Saat itu menjabat Asisten I/Intelijen Kepala Staf Angkatan Darat, Magenda disebut sebagai orang kepercayaan Jenderal A.H. Nasution. Ia berpengalaman di bidang intelijen.

Salah satu tujuan kelompok kerja Magenda adalah merumuskan operasi untuk menciptakan kantong gerilya di Papua, yang disebut operasi A, sebagai persiapan bagi invasi militer konvensional, yang disebut Operasi B (Ken Conboy, hal. 62).

Awalnya tak banyak kemajuan yang dicapai. Apalagi sempat terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi. Namun setelah kedua pemberontakan itu berhasil diredam, isu Papua dilirik lagi. Isu ini perlu diangkat untuk mengalihkan perhatian rakyat dari kesulitan ekonomi. Soekarno mencanangkan merebut Papua.

Salah satu kesulitan yang dihadapi kelompok Magenda adalah mencari orang Papua yang akan direkrut melaksanakan operasi. Pada akhirnya pilihan jatuh kepada Henkie Antaribaba, seorang letnan berdarah Papua, anggota Korps 17 Irian.

Antaribaba memperoleh pengalaman perang memadamkan pemberontakan di Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Pada tahun 1950, Magenda juga turut dalam pasukan ekspedisi Indonesia Timur saat pemberontakan Andi Azis meletus. Kemungkinan Magenda telah mengenal Henkie Antaribaba dalam ekspedisi itu.

Untuk mempersiapkan penyusupan ke Irian (Papua) pada 1960, 40 anggota Korps 17 Irian dipanggil ke Jakarta. Setelah diseleksi, terpilih 18 orang. Selanjutnya, tim direncanakan ditambah dengan 15 personel yang telah terlebih dahulu melakukan infiltrasi ke Teluk Etna (Etna Bay), Papua, yang jadi sasaran pendaratan mereka. 

Dengan demikian, seluruh personel tim Henkie Antaribaba berjumlah 33 orang. Pasukan Henkie Antaribaba diberi nama Pasukan Gerilya 100 (PG 100).

Instruksi terhadap misi mereka, menurut Ken Conboy, tidak begitu jelas. Namun Direktur Penjara Hollandia (sekarang Jayapura) zaman Belanda (1957-1962), Wouter Knujsting, memiliki catatan tentang misi Henkie Antaribaba. Dalam memoarnya berjudul Achter de Tralies (Di Balik Jeruji) yang menceritakan perihal Henkie Antaribaba, dikatakan bahwa misi yang diemban oleh PG 100 adalah untuk merintis upaya pemberontakan dalam skala besar di Papua terhadap pemerintah Belanda.

Pada saat itu upaya diplomasi untuk mendapatkan Papua dipandang tidak memuaskan. Karena itu, taktik gerilya harus dihidupkan. Ini diperlukan untuk memberi tekanan kepada dunia internasional dalam kunjungan Presiden Soekarno yang dijadwalkan berangkat ke New York pada bulan September 1960. 

Diharapkan pada saat itu pemberontakan sudah harus pecah di Papua. Infiltrator diharapkan dapat memobilisasi pemuda melalui kepala desa dan pemimpin-pemimpin masyarakat lainnya, serta menggerakkan mereka bersama tentara gerilya Indonesia melakukan pemberontakan dalam skala besar.

Skenarionya adalah penyusup akan mendarat di Pegunungan Boeroe di pantai selatan dan dari sana harus menempuh jalan pintas ke Pegunungan Menoo di sebelah barat Danau Wissel. Sebuah markas harus didirikan di sana, yang akan dipasok oleh pesawat Angkatan Udara Indonesia. Melalui hubungan keluarga, para penyusup harus mencari kontak dengan penduduk.

Misi ini penting, sehingga sebelum bertolak dari Jakarta, Henkie Antaribaba, menurut catatan Knujsting, dipanggil menghadap Jenderal Nasution. Ia diberangkatkan dengan harapan misi akan berhasil.

Kami Ditipu

Sayangnya harapan itu tak terwujud. Menurut Ken Conboy, misi ini sesungguhnya kurang persiapan dan dilanda masalah sejak awal (Ken Conboy, hal. 63). 

Pada 9 Agustus, mereka berangkat dari Jakarta. Ketika mereka tiba di Kepulauan Aru, gugusan pulau-pulau karang yang dikuasai Indonesia berjarak 100 km di lepas pantai selatan Papua, PG 100 menyadari bahwa mesin kapal yang akan mereka pergunakan menuju pantai Papua mengalami kerusakan. Misi mereka terpaksa ditunda selama satu bulan untuk menunggu pengganti mesin didatangkan dari Jawa.

Dalam masa penantian ini, terjadi hal yang tidak diharapkan. Sebanyak 10 orang anggota pasukan berubah pikiran. Mereka urung berangkat. Bahkan disebut-sebut beberapa tentara non-Papua ada yang desersi. Hanya 23 orang personel yang benar-benar siap.

Pada tanggal 9 November, tim ini berangkat menuju pantai Papua. Setiba di pantai, selama seminggu mereka menunggu kapal perbekalan yang dijanjikan akan mendukung operasi mereka. Tak kunjung datang.

Sementara itu, misi mereka ternyata sudah tercium oleh warga di sekitar pantai. Mereka melihat pasukan Indonesia dengan seragam militer lengkap dengan senjata seperti Bren Inggris, mortir granat, dan senapan Lee Enfield tengah melakukan pergerakan. Mereka melaporkannya kepada pihak berwenang Belanda. 

Pada saat yang sama -- yang tidak diketahui oleh Henkie Antaribaba -- kapal pendukung mereka telah dicegat pula oleh kapal patroli Belanda dan mengalihkannya ke Merauke. Kapal itu tak pernah muncul dalam pandangan Henkie Antaribaba dan pasukannya.

Lebih nahas, Belanda mengirimkan dua peleton marinir untuk menyerbu mereka di pantai. Sempat terjadi adu tembak. Dua anggota pasukannya tewas pada saat itu, satu terluka parah dan kemudian meninggal sedangkan satu orang lagi tertangkap. Henkie Antaribaba dan pasukannya kemudian melarikan diri ke dalam hutan.

Selama empat bulan lebih mereka dikejar-kejar oleh aparat keamanan Belanda. Mereka terjebak di rimba Papua dengan hanya bermodalkan kompas.

Kadang-kadang mereka bertemu dengan penduduk setempat yang dengan senang hati menjadi pemandu mereka. Henkie Antaribaba dan kawan-kawan tak menaruh curiga padahal mereka itu adalah polisi Papua yang menyamar. Mereka menanggalkan pakaian dan berpenampilan seperti kebanyakan Orang Asli Papua di pegunungan. 

Mereka berusaha menjadi sahabat bagi pasukan Henkie Antaribaba sampai mereka benar-benar dipercaya. Setelah berhasil menjalin persahabatan erat dan diberi kesempatan memanggul senjata, mereka menghilang diam-diam dan menyerahkan senjata itu kepada komandan patroli mereka.

Pada bulan kedua pelarian mereka, pasukan Henkie Antaribaba kembali diserang oleh patroli polisi di pegunungan. Personel pasukannya yang tersisa terpaksa berpencar menjadi dua kelompok. Mereka meninggalkan semua perbekalan dan senjata yang mereka miliki.

Selama dua bulan berikutnya mereka bergerak untuk berusaha mencapai pantai utara tempat mereka berharap memperoleh bantuan dari kelompok pro Indonesia yang tinggal di sana. Dan, mereka sempat mengira bahwa pertolongan itu tiba saat pada bulan Maret 1961 dari ketinggian mereka melihat laut pantai utara yang dirindukan. 

Namun, ketimbang menerima bantuan, yang menyambut mereka justru patroli polisi. Henkie Antaribaba dan pasukannya tak sanggup lagi memberi perlawanan. Mereka menyerah. Mereka memilih takluk kepada patroli polisi daripada kepada pasukan marinir yang pasti lebih kejam lagi dan bisa-bisa akan membunuh mereka.

Menurut Knuijsting yang menerima mereka ketika diserahkan untuk ditahan, keadaan Henkie Antaribaba dan pasukannya demikian mengenaskan. Bahkan polisi yang juga bertugas mengejar para infiltrator ini merasa kasihan. Mereka iba akan penderitaan dan kelelahan yang dialami Henkie Antaribaba dan pasukannya. Tetapi mereka juga bersimpati akan kekompakan pasukan itu mendukung satu sama lain.

Knuijsting mengatakan, ketika ia menerima Henkie Antaribaba dan 14 orang anggota pasukannya yang tersisa di penjara pada awal April 1961, ia melihat salah seorang di antara mereka dibawa dengan tandu.

"Saya tidak bisa tidak merasa kasihan kepada mereka. Pria yang ditandu itu beratnya hanya 37 kilogram, dan bahkan untuk mengangkat gelas minumnya sendiri pun ia tidak mampu," kata dia menggambarkan keadaan pasukan Henkie Antaribaba.

Di penjara, Henkie Antaribaba dan timnya mendapat perawatan medis, termasuk transfusi darah. Setelah keadaan mereka sudah mulai pulih, mereka dibawa berjalan-jalan ke Jayapura. 

Kepada Antaribaba, Belanda menunjukkan 'kemajuan' yang telah dicapai di bawah pemerintahan Belanda, di antaranya bidang pendidikan, medis, dan politik. Antaribaba juga diberi kesempatan berbicara dengan anggta Dewan Niew Guinea yang baru terpilih. Menurut Knujsting, kesimpulan yang diucapkan oleh Antaribaba setelah melihat kemajuan Jayapura di zaman Belanda sama dengan yang dikutip oleh Reuters: “Kami ditipu.”

Ketika diajukan ke pengadilan, Henkie Antaribaba dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Ia dan anggota pasukannya sempat ditahan di Digul, namun kemudian, sebagai bagian dari Perjanjian New York tahun 1962, mereka dibebaskan.

Beberapa bulan setelah tertangkapnya Letnan Antaribaba, militer masih mencoba mengirim misi infiltrasi dengan nama PG 200. Lagi-lagi mereka gagal. Tak berapa lama setelah mereka mendarat, penduduk setempat segera mengetahui keberadaan mereka dan memberitahu aparat Belanda. 

Walaupun kepada gerilyawan itu selalu dikatakan bahwa rakyat Papua akan membantu mereka, kenyataannya sebaliknya. Mereka tertangkap pada 13 Desember 1961. Dari 32 anggota yang diterjunkan, sebanyak 29 orang tertangkap, dua orang tewas tertembak, dan satu orang diyakini disantap oleh buaya.

Menurut catatan resmi Paskas TNI-AU, jumlah personel TNI, Polri, dan relawan yang diinfiltrasikan selama Trikora adalah 1.419 personel. Lebih sepertiga dari jumlah itu gugur, hilang, dan tertangkap (korban jiwa 216 gugur/hilang dan 296 tertangkap). Lagi-lagi angka-angka ini seharusnya sudah dapat berbicara. (Cahyo Pamungkas, Sejarah Lisan Integrasi Papua ke Indonesia: Pengalaman Orang Kaimana pada Masa Trikora dan Pepera (Paramita Vol 25 No 1 Januari 2015, Hlm 88-108).  

Referensi: