Researcher
2 tahun lalu · 1101 view · 5 min baca · Kesehatan 62556.jpg
http://subversiveinfluence.com/

Penyakit Mematikan Ancam Usia Produktif

Prevalensi Penyakit dan Tantangan Bonus Demografi

Jutaan orang meregang nyawa akibat penyakit yang menyerang organ vital manusia. Penyakit yang dikenal dengan istilah “kardiovaskuler” ini menyerang fungsi jantung, pembuluh darah, hingga otak.

Setiap tahunnya, penyakit mematikan ini merupakan penyebab kematian utama terbesar di Indonesia. Lebih dari 50 persen angka kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler ini.

Data yang dilansir World Life Expectancy menyebutkan, sebanyak 23,48% orang Indonesia meregang nyawa akibat menderita stroke, 9,89% diserang jantung koroner, dan 7,18 akibat diabetes mellitus. Stroke menjadi yang paling banyak penyebab kematian di Indonesia, yang berhasil menempatkan Indonesia menjadi negara dengan kematian tertinggi akibat stroke di dunia.

Data Kementerian Kesehatan menyatakan, prevalensi gejala stroke di Indonesia berkisar 12,1 per 1000. Artinya, ada lebih 12 orang Indonesia yang tercatat menderita stroke per 1000 penduduk.

Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2007 sebesar 8,3 per 1000. Stroke menyerang bagian otak manusia, yang dapat menganggu bekerjanya fungsi syaraf. Sehingga stroke dapat menyebabkan kelumpuhan, perubahan kesadaran, dan gangguan penglihatan. Maka mayoritas penderita stroke tak bisa melakukan aktivitas mereka secara normal, seperti biasanya.

Tak kalah berbahaya, jantung koroner menjadi penyakit yang mematikan selanjutnya, yang banyak membunuh masyarakat Indonesia setelah stroke. Penyakit ini membunuh hampir 10 persen dari total kematian di Indonesia. Diperkirakan kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke ini akan terus meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.

Disusul diabetes mellitus yang membunuh hampir 8 persen dari total kematian yang ada. Data Riskesdas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia dari 5,7%  tahun 2007 menjadi 6,9% atau sekitar sekitar 9,1 juta pada tahun 2013. Di Indonesia, diperkirakan jumlah penyandang diabetes mellitus akan terus meningkat, yakni sebanyak 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Angka ini meningkat drastis.

Menyerang Usia Produktif

Mungkin yang kita tahu, penyakit kardiovaskuler pada umumnya menyerang penduduk usia senja. Dalam beberapa penelitian pula, proporsi penyakit kardiovaskuler lebih dominan menyerang kelompok penduduk usia tua. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada tren yang meningkat di mana penyakit mematikan ini mulai merambah dan menyerang kelompok penduduk usia produktif, atau usia yang relatif muda.

Dalam beberapa tahun terakhir, penderita stroke usia muda mulai meningkat. Data Riskesdas Kementerian Kesehatan 2013 menemukan sebanyak 45,2% penderita stroke adalah mereka kelompok penduduk usia di bawah 55 tahun.

Sebanyak 11% dari mereka berusia 35-44 tahun, dan 21,1% berasal dari usia 45-54 tahun. Sedangkan kelompok penduduk usia 25-34 tahun sebesar 7,9% serta kelompok usia 15-24 tahun sekitar 5,2%. Untuk penderita usia di bawah 55 tahun ini, peningkatannya cukup significan yakni 9,4 per 1000 orang dalam 5 tahun.

Proporsi penduduk usia muda ini juga mulai banyak mengisi kategori penyakit jantung koroner. Data Riskesdas Kementerian Kesehatan menemukan sebanyak 39% penderita jantung di Indonesia berusia di bawah 44 tahun. Dan 22% di antaranya berusia 15-35 tahun. Bahkan untuk kasus jantung koroner, sebanyak 27% terjadi pada kelompok usia di bawah 35 tahun, dengan 12% di antaranya dialami kelompok usia 25 tahun ke bawah.

Penyakit mematikan lainnya yang banyak menyerang kelompok penduduk usia muda ialah hipertensi. Berdasarkan data National Basic Health Survey 2013, prevalensi hipertensi pada kelompok usia di bawah 44 tahun sebesar 48,2%. Angka ini cukup tinggi, dan berdasarkan Riskesdas 2013, menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional sudah mencapai 25,8%.

Penyakit ini disebut juga sebagai “silent killer”, karena terkadang kemunculannya tidak disadari, tetapi bisa merusak organ tubuh dan pemicu gagal ginjal, stroke, serta jantung.

Pergeseran Gaya Hidup dan Pola Makan Jadi Sebab?

Mudahnya tubuh diserang penyakit mematikan ini dimungkinkan melalui dua indikator, yakni antara gaya hidup dan pola makan. Karena penyakit kardiovaskuler ini disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah, gangguan fungsi jantung hingga otak dan sistem syaraf banyak diakibatkan oleh konsumsi berlebih makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi, banyak mengandung garam natrium, serta mengandung bahan kimia pengawet.

Hal ini berkaitan dengan pergeseran pola makan dan gaya hidup masyarakat, yang mengarah pada konsumsi makanan cepat saji, makanan yang mengandung penyedap rasa, dan yang diawetkan yang kita ketahui mengandung natrium tinggi, lemak jenuh, dan rendah serat, yang mulai menjamur di hampir setiap kota di Indonesia.

Survei Nilsen tahun 2008 menunjukan bahwa 69% masyarakat kota di Indonesia mengkonsumsi fast food, di mana sebanyak 33% menyatakan sebagai makan siang, 25% makan malam, 9% menyatakan makanan selingan dan 2% menjadi pilihan sebagai makan pagi.

Sedangkan untuk intensitas mengkonsumsi fast food, berdasarkan hasil survey WHO, 45% mengkonsumsi fast food tiga kali per minggu. Kemudian sebanyak 20% mengaku mengonsumsi fast food dua kali per minggu, 18% koresponden mengonsumsi hanya satu kali fast food per minggu, kemudian 9% mengonsumsi fast food lebih dari lima kali per minggu, terakhir 8% koresponden menyatap 4 kali fast food dalam seminggu.

Selain fast food, konsumsi makanan mengandung penyedap rasa di Indonesia juga tinggi. Data Riskesdas 2013 menunjukan bahwa konsumsi makanan berisiko paling banyak yakni konsumsi penyedap rasa sebesar 77,3%.

Di lain sisi, konsumsi kurang sayur dan buah sangat tinggi, yakni sebanyak 93,5%. Salah satu konsumsi makanan mengandung penyedap rasa tertinggi ialah mie instan. World Instant Noodles Association (WINA) pada 2016 melansir konsumsi mie instan di Indonesia mencapai 14,8 miliar bungkus dalam satu tahun.

Dengan asumsi jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 260 juta orang, maka setiap orang Indonesia rata-rata mengonsumsi lebih dari 50 bungkus mie instan dalam setahun. Dengan konsumsi mie instan 14,8 miliar bungkus setahun, Indonesia masih berada di urutan kedua di dunia setelah China.

Namun, angka ini meningkat dari konsumsi tahun sebelumnya, yakni 13,2 miliar bungkus. Selain itu, pada 2017 diproyeksikan akan kembali mengalami peningkatan hingga 16 miliar bungkus.

Tingginya konsumsi mie instan ini salah satunya disebabkan adanya pergeseran pola makan, di mana mie instan tak lagi berperan sebagai snack (makanan ringan), namun sudah menjadi lauk pendamping atau makanan pengganti nasi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Selain kemudahan dalam memasak, faktor murahnya harga membuat mie instan mudah dijangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Dengan konsumsi akan fast food dan mie instan yang begitu tinggi, perusahaan produsen dua makanan ini menuai banyak untung. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk salah satu produsen mie instan terbesar, mampu meraih laba sekitar Rp 18,46 triliun per semester. Indofood menguasai 70,7% pangsa pasar mie instan.di Tanah Air. Sedangkan McDonalds Corp. sebagai produsen fast food terbesar dunia, berhasil mengeruk untung 25,4 miliar US$ pada 2015.

Beban dan Kerugian

Selain membunuh jutaan manusia, tingginya angka penderita penyakit mematikan ini juga memakan biaya yang relatif tinggi. Data Kementerian Kesehatan menemukan, untuk biaya rawat inap yang paling besar menghabiskan biaya ialah penyakit jantung sebesar 5,66 triliun rupiah diikuti penyakit hipertensi sebesar 3,21 triliun rupiah. Dan 60 sampai 70% dari total biaya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) habis untuk penyakit mematikan ini.

Berdasarkan riset Evidence & Analitycs, jika tidak ditanggulangi diperkirakan hingga 2035 potensi kerugian yang harus ditanggung pemerintah untuk biaya penyakit kardiovaskular ini mencapai Rp 70.200 triliun.

Dan ini akan menjadi beban perekonomian. Apalagi jika dihitung berdasarkan produktivitas yang hilang akibat tingginya kematian penduduk usia produktif, maka kerugiannya jauh lebih besar. Bahkan hal ini akan berdampak pada daya saing dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Artikel Terkait