Freelancer
1 bulan lalu · 692 view · 3 min baca menit baca · Budaya 99003_14666.jpg
Foto: Kompas

Penyakit Jahil Murakab Umat Islam Indonesia

Seandainya diadakan lelang atau jual-beli otak manusia di muka bumi ini, percayalah bahwa otak orang Islam Indonesia akan menjadi otak dengan harga yang paling mahal. Pasalnya, otak orang Islam Indonesia masih orisinal, jarang atau bahkan belum pernah dipakai. Jadi kondisinya masih bagus.

Sebaliknya, bila ada lelang mulut, maka mulut orang Islam Indonesia tidak akan laku. Sebabnya tentu saja karena sudah rusak akibat terlalu sering digunakan. Kecenderungan itu mungkin karena posisi mulut yang berada di depan, sedangkan otak agak ke belakang. Sehingga mulut lebih sering dikedepankan sementara otak malah terbelakang.

Beberapa waktu lalu, Masjid Al-Safar yang desain arsitekturnya dirancang Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dipersoalkan. Adalah Rahmat Baequni, ia seorang ustaz yang menjadi pemicu awal polemik itu. Sang ustaz mempermasalahkan ornamen berbentuk segitiga yang menghiasi masjid yang terletak di kilometer 88 Tol Cipularang itu.

Ornamen segitiga, oleh Rahmat Baequni, dianggap menyerupai simbol illuminati. Sehingga, menurutnya, ketika salat di masjid itu, bukan sedang menghadap Allah, melainkan menghadap simbol illuminati itu. Dengan demikian, salat yang dilaksanakan tidak sah bahkan dapat menggugurkan tauhid.

Jelas, anggapan Rahmat Baequni adalah omong kosong belaka. Cara berpikir dan bersikap Rahmat Baequni beserta jemaahnya adalah cara berpikir dan bersikap jahil murakab, kebodohan yang tiada tara. Sebabnya apa? Karena tudingannya hanyalah asumsi tanpa dilandasi fakta dan pengetahuan empiris.

Akibat ulah Rahmat Baequni, Kang Emil sampai harus menggelar sebuah diskusi—yang sayangnya tak berpengaruh banyak. Buktinya, saat Kang Emil menjelaskan berdasarkan kajian ilmu arsitektur, berkali-kali Kang Emil dicemooh, disoraki. Sedangkan saat Rahmat Baequni dengan menggebu-gebu meracau soal simbol dajal dan semacamnya, berkali-kali ia dielu-elukan diiringi takbir.


Rahmat Baequni yang mengeklaim sebagai ustaz dengan spesialisasi akhir zaman ini memang gemar mengigau. Ia adalah pendakwah jumud yang mengajak orang untuk menjadi bodoh secara kolektif, dungu berjemaah. Ia menyebut UFO sebagai kendaraan pengintai dajal.

Ia juga menyebut kode pesawat terbang yang menabrak menara kembar World Trade Center (WTC) mengandung simbol Yahudi bila dikonversi dengan font tertentu di aplikasi MS Word. Padahal kode pesawat terbang yang digunakannya tidak sesuai dengan kode pesawat terbang yang sebenarnya. Dengan kata lain, Rahmat Baequni berbohong atau malah dia tidak tahu kalau ia salah.

Cara berpikir menyebalkan ala Rahmat Baequni bukan kali pertama. Di Indonesia, sudah beberapa kali simbol, terutama yang berada di masjid, dipermasalahkan. Pernah Mustofa Nahrawardaya mempermasalahkan kaligrafi di Masjid Ar-Robithoh di Bandara Abdul Rachman Saleh. Kaligrafi itu dianggap menyerupai simbol salib.

Masjid Hasyim Asy’ari di Jakarta disebut mirip gereja dan bila dilihat dari atas, dianggap berbentuk salib. Parahnya, tuduhan berlanjut bahwa sedianya masjid itu dipersiapkan sebagai sebuah gereja yang siap pakai saat Indonesia sudah diisi sepenuhnya oleh pemeluk Kristen.

Cara-cara berpikir seperti itu makin menunjukkan keterbelakangan ilmu pengetahuan umat Islam. Jelas tidak semua, tapi sebagai bagian dari umat Islam. Jelas, yang Rahmat Baequni, Mustofa, dan lainnya lakukan adalah tindakan yang amat sangat memalukan. Betapa umat Islam sedang menegaskan kebodohan dan mempermanis keangkuhan.

Kelakuan sok tahu Rahmat Baequni adalah contoh nyata pengetahuan yang tidak bersandar pada penalaran yang sehat apalagi riset yang akurat. Gaya Rahmat Baequni adalah kebodohan yang dikemas dengan kesombongan yang disandarkan pada otoritas gelar ustaz.

Oleh Rahmat Baequni, pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai sebuah proses belajar melainkan fatwa. Kelakuan Rahmat Baequni inilah yang membuat ilmu pengetahuan di kalangan Islam tidak bergerak. Kegelisahan atau mungkin kebencian Rahmat Baequni sebenarnya didasarkan akibat ketidaktahuannya.

Di tangan Rahmat Baequni, agama menjadi semacam penyakit psikologis. Pemeluk agama menjadi mengalami gangguan jiwa. Umat Islam dibuat seolah fobia terhadap simbol lalu menjadi gelisah tanpa arah. Kelainan jiwa itu kemudian mendorong perilaku-perilaku menyimpang yang menjauh dari realitas sosial.


Karena sebuah simbol, Rahmat Baequni memfatwa salat yang dilaksanakan tidak sah bahkan ketauhidan akan batal. Pada titik ini, ia telah menganggap Allah tak memiliki belas kasihan. Atau setidaknya, Allah dianggap bodoh dan akan salah paham. Allah dipersepsikan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana seni arsitektur dan mana simbol illuminati.

Kondisi ini menggambarkan Islam yang sedang mengalami krisis penalaran. Padahal manusia seharusnya menjadi makhluk yang melestarikan pemikiran yang dilandasi dengan penalaran yang sehat. Bahkan Islam akan selalu unggul dan tidak akan terungguli bisa jadi hanya mimpi—bila mengingat Rahmat Baequni.

Islam seolah tidak layak untuk tetap eksis di zaman modern ini. Sebab, umat Islam masih saja disibukkan dengan sederet kebodohan dan ketertinggalan di berbagai bidang. Hal itu disebabkan keengganan umat Islam untuk menggali ilmu pengetahuan. Umat Islam justru mengharamkan akal sehat.

Mestinya, jangan ada ruang pemakluman terhadap perilaku jumud macam Rahmat Baequni ini. Sebab, pemakluman terhadap sikap yang norak, fanatik, konyol, dan konservatif adalah penghinaan atas pemikiran itu sendiri.

Rahmat Baequni tidak sedang membela agama. Dia sedang membela pemikirannya yang kolot itu. Apa yang Rahmat Baequni sampaikan bukan berasal dari firman Tuhan. Sebab, ketakutan pada simbol justru adalah kemurtadan. Penghinaan atas ketauhidan.

Artikel Terkait