Kekerasan dalam dunia pendidikan selalu terjadi. Kekerasan yang terjadi bukan hanya dilakukan oleh guru terhadap murid. 

Dewasa ini, kasus kekerasan pada ruang lingkup pendidikan turut dilakukan murid terhadap guru. Bentuk-bentuk kekerasan yang timbul bukan hanya kekerasan fisik. Kekerasan psikis dan seksual turut terjadi.

 Meski sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kekerasan adalah hal buruk yang tidak boleh terjadi, fakta berkata sebaliknya. Penulis beranggapan bahwa kasus kekerasan agaknya sudah menjadi penyakit kronis dunia pendidikan Indonesia yang sulit untuk disembuhkan. Mengapa demikian? Karena jumlah kasus yang terjadi alih-alih menurun, setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan.

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, terhitung sejak Januari hingga Oktober 2019, terdapat 127 kasus kekerasan di ranah pendidikan. Kekerasan yang terjadi mencakup kekerasan fisik, psikis, dan seksual.

Seperti yang terjadi di Tapanuli, Sumatra Utara pada 30 September yang lalu. Sebanyak 20 siswi sekolah dasar menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh salah satu guru sekolah tersebut. Kejadian ini menimbulkan trauma hingga korban tidak mau bersekolah.

Di sisi lain, salah satu kasus yang menjadikan guru sebagai korban terjadi pada 21 Oktober 2019. Seorang siswa SMK di Manado berani menusuk gurunya lantaran tak terima ditegur saat ia didapati tengah merokok. Hal ini menyebabkan guru tersebut meninggal dunia.

Kejadian tersebut cukup mencengangkan juga mengkhawatirkan. Baik kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap murid maupun murid terhadap guru sama-sama tidak boleh terjadi. Bukankah tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia?

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan proses pendewasaan yang harus dilalui oleh setiap individu melalui proses pengajaran dan pelatihan. Tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah menghasilkan insan-insan yang berkualitas dan berkarakter. Insan-insan ini tentunya diharapkan untuk dapat berguna baik bagi dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Sekolah merupakan tempat yang aman dan nyaman bagi setiap insan yang ingin mengenyam pendidikan. Hal ini dijamin dalam pasal 54 UU No. 35 Tahun 2015: “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah, atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan atau lembaga pendidikan lainnya”.

Namun, dengan hadirnya kekerasan dalam dunia pendidikan, masihkah sekolah dan instansi pendidikan lain menjadi tempat yang aman bagi peserta didik? Tentu tidak, jika hal ini dibiarkan tanpa adanya solusi.

Pelatihan Guru

Sebagai tenaga profesional yang berkecimpung di dunia pendidikan, guru memilki peran aktif dalam mendidik, mengajar, serta membimbing peserta didik. Akan tetapi, peran ini sering kali disalahartikan. Hampir semua kasus kekerasan yang dilakukan oleh guru berdalih pendisiplinan siswa.

Pada dasarnya proses pendisiplinan siswa dapat dilakukan tanpa adanya unsur kekerasan. Sehingga, menurut penulis, perlu adanya pelatihan atau workshop mengenai cara pendisiplinan siswa tanpa kekerasan yang diikuti oleh seluruh guru.

Selain itu, workshop tersebut juga dapat diterapkan di kampus-kampus yang memiliki fakultas pendidikan atau keguruan. Dengan harapan, para calon guru yang masih berkuliah tidak akan melakukan hal-hal serupa saat kelak sudah menjadi guru.

Penegasan dan Pengawasan Kebijakan

Memang, kebijakan atau larangan adanya kekerasan pada kegiatan belajar mengajar sudah ada sejak lama. Namun, kebijakan tersebut tidak banyak membantu dalam menurunkan jumlah kasus kekerasan yang terjadi di ruang lingkup pendidikan.

Perlu adanya kebijakan yang lebih spesfik dan mengerucut mengenai kekerasan yang seperti apa yang tidak boleh dilakukan. Sehingga nantinya, akan ada batasan-batasan yang jelas yang diharapkan dapat membantu baik guru maupun siswa dalam bertindak.

Setelah adanya kebijakan yang lebih spesifik, apakah sudah cukup? Tentu tidak, masih diperlukan pengawasan akan keberlangsungan kebijakan tersebut. Apakah kebijakan ini diberlakukan sebagaimana mestinya? Ataukah kebijakan ini hanya menjadi formalitas belaka? Pada akhirnya, kebijakan diharapkan dapat mengurangi kasus kekerasan di dunia pendidikan.

Edukasi Karakter Siswa

Berdasarkan contoh kasus kekerasan yang dilakukan siswa terhadap guru, penulis mengindikasikan adanya degradasi moral, atau penurunan akhlak. Siswa, dalam hal ini adalah pelaku kekerasan, tidak lagi menganggap guru sebagai sosok yang dihormati dan disegani.

Kenyataan ini menunjukkan perlu adanya pembinaan karakter siswa. Proses pembelajaran tidak boleh hanya terfokus pada urusan akademik. Persoalan etika, sopan santun, serta tata krama siswa terhadap orang lain, terutama guru, juga perlu menjadi fokus instansi pendidikan.

Jangan sampai pada masa yang akan datang, siswa-siswi Indonesia memiliki skill yang amat bagus, namun tidak memiliki etika, tata krama, dan kehalusan nurani.

Sex Education

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sex education adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, terutama antara orang tua dan anak. Pada kenyataanya, menurut penulis, sex education sangat diperlukan sejak dini. Banyak dari korban pelecehan seksual di lembaga pendidikan tidak menyadari bahwa mereka sedang dilecehkan.

Anak-anak perlu diberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi. Juga perlu adanya edukasi tentang bagian tubuh mana yang tidak boleh diperlihatkan dan disentuh oleh orang lain, kecuali dirinya sendiri.

Kewajiban untuk memberikan sex education kepada anak tidak hanya dimiliki oleh lembaga pendidikan. Orang tua sebagai pendidik di rumah juga turut berkewajiban dalam hal ini. Sehingga, dengan dilumrahkannya sex education, dapat melindungi anak dari kekerasan seksual.

Dengan masih banyaknya kasus kekerasan yang ada di dunia pendidikan, Nadiem Makarim, selaku menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru, diharapkan dapat menanggulangani hal ini. Nadiem memiliki PR untuk mencari obat dari penyakit kronis dunia pendidikan ini.

Jangan hanya berfokus pada bagaimana menyiapkan anak setelah lulus untuk mendapat pekerjaan. Tapi juga berfokus pada penyelesaian masalah dalam proses siswa-siswi sebelum mereka lulus.