Hari ini banyak di antara kita yang mungkin sangat familiar dengan nama Rupi Kaur; seorang penulis puisi yang sedang sangat naik daun. Rupi Kaur mengawali kariernya sebagai penulis Tumblr, mengikuti puisi open mic, merilis buku kumpulan puisi secara independen, hingga akhirnya diterbitkan ulang oleh penerbit besar dan diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

Selain didampingi dengan gambar serupa doodle, salah satu yang unik dari puisi-puisi Rupi Kaur adalah tak sedikit puisi-puisinya yang pendek-pendek bisa sampai hanya terdiri dari dua baris saja. Beberapa sangat Instagrammable dan dibagikan oleh banyak orang (termasuk oleh Rupi Kaur di akun resmi dia sendiri).

Di dunia serba Internet, Rupi Kaur pun mendapat popularitas yang biasanya sulit didapatkan oleh penyair. Rupi bahkan sampai diundang ke Tonight Show with Jimmy Fallon, sebuah talkshow yang sangat populer di Amerika.

Zaman sekarang, "penyair internet" sangat menjamur, terutama di Instagram. Dengan dua, empat, enam, kurang dari sepuluh kalimat saja, mereka bisa mendapat ribuan likes dan menyentuh hati pembacanya (yang bisa kita ketahui dari kolom komentar). Salah satu dari akun-akun tersebut adalah @nkcthi (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini).

Marchella FP, si penulis, mungkin tidak menganggap karyanya sebagai puisi, atau keberatan jika orang melabeli karyanya sebagai puisi. Tapi dari yang saya lihat dan saya rasakan, tulisan-tulisan di akun Instagram maupun buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini", tak sedikit yang adalah puisi, terutama yang memiliki rima. 

Akun-akun Instagram seperti @kata.puan dan @menjadimanusia.id. adalah contoh lain yang juga cukup sering membagikan "puisi mini".

Puisi-puisi internet ini (mungkin) sangat berbeda dari puisi yang kita kenal di sekolah. Gaya para penyair zaman sekarang mungkin berbeda dengan penyair legendaris seperti Chairil Anwar dan WS Rendra. 

Bahkan penyair romantis zaman sekarang mungkin sangat berbeda dengan Sapardi Djoko Damono. Banyak pencinta puisi lama garis keras yang menganggap puisi internet sebagai puisi tak bermutu atau bahkan bukan puisi. 

Tapi apa itu puisi bermutu? Siapa yang berhak memutuskan mutu suatu puisi? Siapa pula yang berhak menilai sesuatu sebagai puisi dan bukan puisi? Haruskah Chairil Anwar, WS Rendra, Sapardi, dll. dijadikan "benchmark"? Lalu kalau kita tidak berkiblat pada mereka, haruskah kita mendapat hukuman?

Saya ingin mengutip apa yang Eka Kurniawan tulis dalam kata pengantar pameran yang ia kurasi di Jakarta International Literary Festival 2019 (JILF 2019); Bacaan Liar Era Kolonial: 

"Maka, berhati-hatilah. Jika kita masih menganggap puisi yang ditulis di Facebook, novel yang ditulis di Wattpad, atau diterbitkan sebagai buku elektronik sebagai karya sampah, siapa tahu kita sedang mencoba mempertahankan posisi elite kita, dan yang sedang kita hadapi adalah tak lain dari cikal bakal bacaan liar". 

Konteks yang dibahas oleh Eka dalam versi lengkap kata pengantar tersebut adalah soal penggunaan bahasa (sesuai atau tidak sesuai EYD) dan media penerbitannya. 

Dulu, banyak karya dikontrol oleh Balai Poestaka. Karya-karya dalam bahasa yang belepotan; bahasa Melayu, bahasa Indonesia campur bahasa Belanda, Jawa, dan Tiongkok tidak akan dicetak dan akan dianggap bacaan liar.

Di era yang agak lebih modern, bacaan yang dianggap layak adalah yang sesuai EYD. Tulisan yang isunya lebih dekat dan personal dengan ejaan yang digunakan di masa lalu tidak mendapatkan publikasi. Kesusastraaan lokal/daerah pun menjadi tenggelam (jika tidak mau menyebutnya punah). 

Lalu bagaimana jika kita juga sedang melakukan hal yang kurang lebih sama? 

Kita mungkin—sekali lagi, mungkin—sudah tidak lagi membunuh kesusastraan lokal/daerah, tapi kita mungkin saja sedang mencegah perkembangan sastra Indonesia secara umum. Kita sebegitu takutnya dengan sastra, hingga enggan menyebut karya yang kita baca (apalagi yang kita tulis) sebagai sastra. Bahkan dengan pola dan aturan yang kita ikuti pun, kita masih ragu untuk menyebut karya kita sebagai karya sastra.

Karena sastra, termasuk puisi, "seharusnya" berat, "seharusnya" sangat serius, dan kita tidak ingin memikul beban seberat dan seserius itu. Di saat yang sama, kita juga menolak memperluas batasan dan menolak memberi kelonggaran; pakai bahasa informal dan menggunakan mix language ala anak Jaksel dianggap aneh, menulis kata-kata syahdu dianggap "curhat bucin" yang tak layak disebut puisi. 

Sementara zaman berkembang, kita ingin sastra, termasuk puisi, tetap di situ situ saja. Atau ingin berkembang tapi memaksanya untuk bergerak lambat. 

Saya punya buku Poetry 101 yang berisi pembahasan tentang puisi dari masa ke masa, di mana saya bisa menemukan bagaimana puisi berevolusi. Sayangnya, hampir semua yang dibahas adalah puisi berbahasa Inggris. Saya belum menemukan buku serupa yang membahas puisi Indonesia (jika Anda tahu ada, tolong beritahu saya).

Dalam Poetry 101, salah satu bahasan yang menarik adalah contemporary movements di mana puisi-puisi di era itu sudah mulai personal, menggunakan bahasa sehari-hari (seperti LOL, Yo, dan bahasa slang lainnya), dan menggunakan pola yang lebih bebas, sebagai kebalikan dari puisi lama yang memiliki aturan berapa suku kata dalam satu baris, dan harus memiliki rima yang teratur. Penyair yang terkenal dengan gaya kontemporer ini bahkan populer tahun 1960-an. 

Maka ketika Rupi Kaur dengan beberapa puisinya yang singkat dan blak-blakan, minim rima, tak seperti "puisi-puisi pada umumnya", berhasil menduduki peringkat best seller selama berminggu-minggu, termasuk di Indonesia, mengapa kita masih menolak menganggap puisi-puisi serupa sebagai puisi bermutu? Mengapa kita masih menganggap "penyair internet" sebagai bukan penyair? Mengapa "puisi internet" yang pendek-pendek kita anggap sebagai bukan puisi? 

Saya setuju bahwa di Indonesia kita kekurangan kritikus sastra untuk membahas hal-hal seperti ini. Saya setuju bahwa kanon sastra di Indonesia juga masih harus diperbaiki supaya di bangku sekolah anak-anak tidak hanya mengenal Chairil Anwar, tapi juga mengenal penyair-penyair lain yang gayanya bisa lebih dinikmati para pelajar. 

Bukankah Chairil Anwar terlalu berat untuk pelajar SD dan SMP? Saya setuju bahwa sastra, termasuk puisi, bukannya harus tanpa aturan sama sekali. Tapi bagaimana kalau kita mulai dengan memberi kesempatan pada zaman dan tidak dengan mudah menganggap sesuatu sebagai anomali?

Saya akan mengutip dan menerjemahkan beberapa halaman terakhir Poetry 101;

"Seni itu subjektif. Tak ada penyair—atau gerakan puisi—yang disambut dengan antusias oleh semua orang. Yang jelas, puisi, suka atau tidak, bergerak dari para elite tertinggi ke dalam kantong semua orang."

Kita mungkin bisa sepakat dengan para gatekeepers; kritikus sastra yang ada sekarang dan penerbit besar, tentang apa itu sastra apa itu puisi, tapi saya rasa kita juga perlu untuk setidaknya tidak mendeskriditkan apa yang dilirik oleh "orang awam", termasuk warganet. Ribuan likes, ratusan komentar, puluhan hati tersentuh bukannya tanpa alasan.