Dengan klasifikasi iklim ala Schmid dan Ferguson, Tahura (Taman Hutan Rakyat) R. Soerjo Jawa Timur masuk wilayah tipe iklim C dan D. Curah hujannya rata-rata per tahun sebesar 2.500 - 4.500 mm serta suhu udaranya berkisar antara 5– 10 derajat Celsius.

Ketersediaan iklim tersebut membuat beberapa sumber mata air melimpah di sekitar kawasan kompleks Gunung Arjuno-Welirang pada sumber mata air di pondok Welirang dan di area sabana Taman Kidang.

Iklim C dan D juga membuat keanekaragaman vegetasi yang kaya dengan hutan alam cemara (Casuarina junghuhniana) pada ketinggian 1800 m dpl di kawasan Lali Jiwo, total sabana yang seluas 200 ha, serta berbagai macam vegetasi flora yang berjumlah hingga 136 jenis.

Fauna yang terdapat di Taman Hutan Raya R. Soerjo, antara lain: monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), elang jawa (Spizaetus bartelesi), dan kera hitam (Trachypitthesus auratus).

Juga ada landak (Histryx brachura), ular sawah (Python reticulatus), ayam hutan (Gallus Verius), kutilang (Pycnonotus aurigaster), tupai (Sejuridae), alap-alap jambul (Accipiter trivigatus), dan alap-alap tikus/putih (Elanus hypoleuscus).

Dua lagi yang jarang dimasukkan atau disebutkan, yaitu macan tutul (Panthera pardus melas) atau macan tutul jawa dan Rusa. Hal ini dilakukan sebagai kode etik hewan-hewan dalam kategori menuju kepunahan (critically endangered).

Kawasan Tahura R. Soerjo Jawa Timur yang seluas 27.868,30 Ha yang terbagi atas Kawasan Hutan Lindung seluas  22.908,3 Ha, dan Kawasan Cagar Alam Arjuno Lalijiwo (PHPA) seluas 4.960 Ha.

Macan tutul jawa memandang teritorialnya sebagai lanskap (ekosistem) hutan yang utuh. Dengan kata lain, secara ekologis tidak mengenal batas-batas administratif dan batas fungsi kawasan.

Hal tersebut membuat macan tutul sangat memungkinkan mempunyai daya jelajah yang ekspansif yang tinggi hingga ke wilayah hutan lindung dan hutan produksi.

Pada tahun 90-an, area suspek habitat mangsa (rusa) Taman Kidang Lali jiwo Arjuno masih sering terdengar anak-anak Panthera pardus melas (macan tutul jawa) yang menyambut pagi dengan auman-auman kecilnya.

Diperkirakan populasi pada tahun 90-an merupakan titik paling kritis macan tutul jawa di kawasan Lali Jiwo. Suspek habitat di sekitaran bukit bebatuan Bekel yang merupakan tempat ideal untuk sarang.

Macan tutul jawa biasanya hidup menyendiri atau soliter, kecuali pada musim kawin dan mengasuh anak. Meski kurang suka menetap, macan tutul tidak akan keluar dari teritorinya jika makanan masih mencukupi.

Biasanya di setiap teritori antara 6 – 8 kilometer persegi dikuasai oleh satu individu jantan dan ditemani 2 – 3 ekor betina.

Pola konsumsi dan kudapan untuk macan tutul jawa tiap harinya harus mengonsumsi daging minimal 2 – 3 kg. Apabila asupan makanannya tidak terpenuhi, otomatis macan tutul jawa akan mencari sumber mangsa lebih jauh untuk bertahan hidup.

Macan tutul mempertahankan daerah teritori melalui tanda–tanda berupa jejak biotik ataupun motorik, seperti suara, cakaran, maupun urine dan kotoran.

Bagi pendaki yang menjumpai hal tersebut di atas, diharapkan untuk lebih baik balik kanan atau mencari simpangan jalur lain dengan interseksi dan reseksi koordinat yang mencukupi untuk tidak masuk teritorial macan tutul jawa.

Macan tutul jawa cukup jujur dan terbuka dalam urusan teritorial. Mereka membuang feses (kotoran) tanpa disembunyikan, melainkan diletakkan di tempat–tempat yang terbuka sebagai tanda batas teritorial.

Dengan ukuran rata-rata tubuh pada pejantan dewasa yang membentang dari moncong hingga ujung ekor sebesar 215 cm, tinggi 60-65 cm, dan berat 52 kg, maka predator yang satu ini mudah diamati pergerakannya. Sedangkan betina, panjang dari moncong hingga ujung ekor berkisar 85 cm, tinggi 60-65 cm, dan berat 39 kg.

Secara insting alamiahnya, macan tutul cenderung lebih toleran dan menghindar apabila berhadapan langsung dengan manusia. Apalagi tatapan mata manusia, cukup kuat mempengaruhi gentarnya. 

Macan tutul sebenarnya lebih menghindari konflik dengan manusia. Kecuali ada faktor seperti murni persaingan atau fragmentasi hutan di jalur jelajahnya dan pelanggaran teritorialnya.

Ini yang harus banyak disadari pendaki bahwa kegiatan alam terbuka dengan segala variannya di hutan merupakan tindakan yang mau tidak mau sedikit banyak akan bersinggungan dengan sebuah teritorial fauna tertentu di hutan. Maka dari itu, lebih baik ikuti trek pendakian yang sudah ada atau telah ditentukan. 

Jumlah macan tutul jawa diperkirakan menurun akibat menyempitnya habitat, berkurangnya satwa mangsa, dan perburuan liar. Juga, adanya konflik dengan manusia, termasuk pula yang terjadi di kawasan Lali Jiwo yang diperkirakan hanya ada beberapa ekor saja.

Keberadaanya juga tentunya sangat bergantung pada kondisi habitat dan kelimpahan satwa mangsa, seperti kijang, rusa, babi, kancil serta primata seperti lutung dan monyet.

Pemerintah Indonesia sejak 1970 telah melindungi macan tutul jawa berdasarkan SK Mentan No.421/Kpts/Um/8/1970 yang diperkuat dengan UU No 5 tahun 1990 (Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya) dan PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Bagi macan tutul jawa muda yang sudah lepas dari pengawasan induknya akan mencari daerah teritorial baru. Secara otomatis, macan tutul muda akan mencari teritorial yang tidak dikuasai pejantan lain.

Untuk kawasan Lali Jiwo, pola ini sudah tidak berlaku karena cakupan wilayah terlalu luas, sehingga habitatnya mudah tersentralisasi. Di samping itu, sudah berkurangnya habitat rusa dan pakan lainnya yang diburu manusia.

Salah satu tandanya adalah banyaknya anjing kampung yang telantar liar di kawasan Kembar 1 dan Kembar 2 yang ditinggalkan oleh pemburu rusa.

Seekor macan tutul memerlukan ruang habitat antara 600-800 hektare per ekor. Dengan cakupan suspek habitat rusa dan menjangan di area Lali Jiwo yang meliputi Gunung Kembar 1 dan Gunung Kembar 2 dan sekitarnya seluas 4.950 hektare itu, maka diperkirakan dapat menampung hanya sekitar 6-8 ekor macan tutul jawa.

Ini juga menunjukkan bahwa kepadatan relatif (relative density) macan tutul jawa di kawasan Lali Jiwo, yaitu satu individu per 6,4 kilometer persegi. Adapun rentan hidup macan tutul jawa di alam antara tujuh sampai sembilan tahun. Rata–rata masa buntingnya, 90-95 hari dengan Jumlah anak per kelahiran adalah 1-3 ekor setahun.

Adanya Stategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul jawa (Panthera pardus melas) tahun 2016 – 2026 merupakan angin segar bagi keberlangsungan hidup kucing besar terakhir Pulau Jawa ini setelah harimau jawa yang punah pada tahun 1980. Semoga saja tetap lestari.