Penikmat kopi
2 minggu lalu · 1191 view · 3 min baca · Politik 88955_89044.jpg
detiknews

Penumpang Gelap di Kubu Prabowo

Ketua Umum PDIP Megawati dalam pidatonya (Kamis, 19 April 2015) pernah menyindir adanya 'penumpang gelap' di dalam pemerintahan Jokowi-JK. Menurutnya, ada usaha ingin memisahkan partai pengusung dengan keduanya (Jokowi-JK). Sampai saat ini, tidak diketahui siapa mereka.

4 tahun sudah pernyataan itu berlalu. Kini, setelah kongres PDIP di Bali, istilah 'penumpang gelap' kembali diperbincangkan. Kali ini istilah tersebut diriwayatkan seorang kader Gerindra, Dasco. 

Menurutnya, 'Penumpang gelap' itu kini kecewa dengan Prabowo. Kekecewaan dimulai ketika Prabowo mengimbau pendukungnya agar tidak demo ke MK. Karena skenario mereka ingin mengadu emak-emak dengan aparat keamanan, tapi gagal total.

Menurut Dasco, mereka lebih kecewa lagi bahkan putus asa ketika Prabowo akhirnya melakukan rekonsiliasi dengan Jokowi serta makin mesra dengan Megawati. Begitulah narasi yang disampaikan Waketum Gerindra, Sufimi Dasco.

Lalu siapakah mereka?

Tidak perlu mencari tahu siapa mereka. Itu hanya bualan politisi yang mencari aman. Megawati pada saat itu memang sedang dikurangi perannya sehingga butuh perhatian Jokowi-JK. Sementara hari ini Gerindra butuh satu dalil agar rekonsiliasi berjalan mulus.


Melalui istilah penumpang gelap, Gerindra maupun Prabowo terbebas dari skenario tidak masuk akal. Dalil adanya penumpang gelap sekaligus memberi ruang lebih agar Gerindra dapat bersama PDIP dan capres terpilih.

Framing itu cukup masuk akal. Banyak yang percaya dengan istilah itu, meski tak sedikit yang menganggap itu hanya halusinasi. Boleh percaya atau tidak, yang percaya akan hidup dalam curiga-mencurigai. Lahirlah stereotip.

Jika sudah demikian, semua tindakan Prabowo dianggap benar. Mereka yang mengkritisi akan dituduh penumpang gelap. Strategi ini sukses dilancarkan Barat terhadap Islam. Selalu ada kelompok Islam di balik aksi terorisme.

Penumpang gelap yang diriwayatkan Dasco cukup mumpuni membersihkan Prabowo dari tindakannya. Gerbong yang bisa dimasuki penumpang gelap berarti gerbong amatiran. Penjaga maupun sistem keamanannya lemah, banyak celah di sana-sini.

Barangkali diksi lebih ekstremnya: mereka adalah penghasut. Mereka ingin terjadi chaos pasca-pemungutan suara. Siapa pun mereka, kemampuan mereka luar biasa. Dapat memanipulasi dukungan sehingga baru diketahui pasca-pilpres. Itu pun kalau benar-benar ada penumpang gelap.

Jika penumpang gelap itu tidak ada, berarti istilah itu dimunculkan untuk mengilapkan nama Prabowo. Seolah-olah Prabowo jenderal paling hebat dalam urusan strategi. Paling paham dalam membaca situasi dan kondisi. 

Jika ada, siapa saja kemungkinan penumpang gelap yang dimaksud Dasco? Secara kepartaian, hanya PAN dan PKS. Selain itu, ada kelompok Islam, dan arahnya pada eks kombatan HTI.

Di antara ketiganya, yang lebih cenderung tertuduh ialah PKS. Apalagi PKS terang-terangan menentang sikap Prabowo. Meski masih terkesan soft, namun kita semua paham maksud PKS. Apakah benar yang dimaksud Dasco adalah PKS? Entahlah.

Sejatinya, setiap manusia memiliki penumpang gelap. Di situlah akal berperan menyeleksi agar penumpang gelap tidak memasuki gerbang diri. Tidak berkuasa dan memperbudak kita. 

Barangkali yang dimaksud penumpang gelap di kubu 02 adalah mereka yang sudah diperbudak nafsu. Mereka menjadi hewan yang tak berakal. Mereka hanya menuruti kebutuhan diri, tak peduli hak orang lain terlanggar.


Homo homini lupus (manusia bak serigala terhadap satu sama lain). Begitu ungkapan Thomas Hobbes yang kini sedang dipraktikan manusia. Padahal idealnya kita homo homini socius (manusia sahabat bagi manusia lainnya).

Kalaupun benar ada penghasut di dalam kubu 02, seharusnya tak perlu diumbar menjadi hasutan. Anggap saja itu kelalaian diri sendiri karena gagal menghadang penghasut atau penumpang gelap di kubu 02. 

Kalaupun nantinya Prabowo berkoalisi dengan Jokowi, apakah Megawati tidak menganggap Prabowo sebagai penumpang gelap? Pasalnya, penumpang gelap yang dimaksud Megawati 4 tahun yang lalu termasuk di dalamnya mereka tak membantu pemenangan Jokowi-JK dalam pilpres namun mendapat untung.

Penumpang ada di mana-mana. Baik di kubu 02 maupun 01, bahkan di dalam diri kita masing-masing. Dan seperti halnya Dasco maupun Prabowo serta Megawati, narasi penumpang gelap dijadikan kambing hitam. Entah itu atas kegagalan atau atas kelalaian.

Dalam hal ini, penumpang gelap bisa saja direkayasa. Mereka yang berbeda pandangan di dalam kubu 02 dengan Prabowo akan dengan mudahnya dianggap penumpang gelap. Sebut saja Amien Rais selain PKS maupun eks HTI.

Mereka (Amien Rais, PKS, eks HTI) barangkali yang dimaksud Prabowo. Mereka selama ini kurang setuju dengan langkah yang diambil Prabowo. Episode penumpang gelap akan berbuntut panjang. 

Prabowo bisa saja salah menganggap mereka parasit dalam tubuh 02. Bisa saja bisikan penumpang gelap dilakukan penumpang gelap yang sesungguhnya. Penumpang gelap yang menghasut agar Prabowo menyingkirkan mereka yang dianggap penumpang gelap.

Kapal kekuasaan terlalu kecil. Peminatnya begitu banyak. Bukannya menjadi homo homini socius, mereka memilih menjadi homo homini lupus. Ketika kawanan serigala saling memangsa, hanya hukum rimba yang berlaku.

Selama hukum rimba yang kita jalankan, selama itu pula penumpang gelap berada dalam diri kita. Selama itu pula manusia tak beda dengan binatang buas.

Artikel Terkait