Hanya yang bermental baja yang berani mengambil risiko hidup sebagai penulis semata. Penulis sebagai profesi dapat dihitung dengan jari. Sebab, di negeri ini literasi masih menjadi barang luks, tidak seperti sembako. Budaya baca dan tulis masih sangat perlu diperjuangkan.

Umumnya yang suka menulis adalah para profesional, misalnya guru, dosen, wartawan, dokter, pengacara, dan cerdik cendekiawan. Seandainya tulisan yang dikirim ke media massa ditolak oleh redaksi, mereka tidak berputus asa. Bukankah mereka sudah mendapat penghasilan tetap setiap bulan untuk menghidupi keluarga?

Sebenarnya siapa pun dapat menjadi penulis profesional. Layaknya mereka berniat menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai penulis semata atau penulis murni. Penulis murni bernapas panjang, menjadi penulis sampai akhir hayat.

Penulis Bukan Pengetik 

Penulis akan memberdayakan otak dan tangannya dengan maksimal sehingga menghasilkan karya tulis yang layak dibaca oleh siapa pun. Dengan otak dan tangannya ia bekerja menganyam kata dan menyulam kalimat sehingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan kepada sidang pembaca, yaitu tulisan.

Sampai akhir hayatnya Bung Karno dan Bung Hatta terkenal sebagai penulis. Mereka adalah penulis teks proklamasi yang sangat terkenal itu, sedangkan pengetik teks proklamasi tersebut adalah Sajuti Melik, wartawan zaman revolusi. Jadi, penulis berbeda dengan pengetik. Di samping itu, Bung Karno dan Bung Hatta juga telah menghasilkan tulisan yang tidak terhitung dengan jari tangan. Buku-bukunya tersebar di mana-mana. 

Kita tahu bahwa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu tidak dapat melihat. Akan tetapi, artikel ilmiah populernya merajalela di mana-mana, misalnya di harian Kompas dan majalah Tempo. Rupanya sang mantan presiden itu menggunakan jasa pengetik. Gus Dur malafalkan karangannya  secara nyaring, sedangkan pengetik bekerja mengetik ide atau gagasan  Gus Dur menjadi sebuah naskah.

Itu sebabnya, penulis berbeda dengan pengetik. Penulis bekerja secara maksimal memberdayakan anugerah Allah yang tidak ternilai harganya itu -- otak. Pengetik layaknya hanya bekerja sesuai dengan perintah. Ia hanya mengetik naskah yang disodorkan kepadanya, baik menggunakan mesin tik manual maupun komputer.

Penulis Itu Pengetik Plus

Saya menyebut penulis sebagai pengetik plus. Layaknya pengetik, ia memberdayakan tangannya untuk mengetik di depan layar komputer. Meskipun demikian, ia juga memberdayakan otaknya untuk menuangkan ide atau gagasannya sehingga terwujud tulisan kreatif dan akademik.

Siapa pun dapat menjadi penulis asalkan memiliki niat dan tekad yang bulat, kemudian diwujudkan dengan laku menulis. Kalau tak menghasilkan tulisan yang diekspos dan dibaca orang lain, ia bukan penulis, tetapi pengetik. Sejak Nabi Adam hingga Adam Malik, penulis terabadikan melalui karya tulisnya.

Saya salut kepada mereka yang mau dan mampu menulis di media sosial, seperti facebook. Tulisan mereka umumnya berupa status untuk dibagikan kepada kawan atau sahabat. Sebagai anggota grup yang disukainya, ia mampu menulis puisi, cerpen, dan apa pun yang tentu saja bermanfaat bagi kawan atau sahabat. Meski tidak memperoleh honorarium pemuatan, mereka rajin mengekspos tulisannya.

 Meski tidak memperoleh honorarium pemuatan (yang berkorelasi dengan tujuan dan manfaat ekonomis), penulis di media sosial melalui grup yang dimasukinya telah mengekspos idenya melalui tulisan. Dengan demikian mereka menjangkau tujuan dan manfaat menulis yang tidak hanya berkorelasi dengan aspek ekspresi, terapi, juga berkorelasi dengan aspek prestasi, prestise, dan dakwah. 

Namun, tidak sedikit dari mereka yang kemudian membukukan karya tulisnya menjadi antologi dengan berbagai variatifnya. Kemudian diterbitkan, baik oleh penerbit mayor maupun oleh penerbit indie. Buku-buku antologi karya mereka terpajang di rak-rak buku di sejumlah toko buku di seantero tanah air.

Penulis Murni  

Apakah di antara Anda  ada yang bertekad ingin menjadi penulis? Mulailah dari sekarang banyak belajar menulis dan membaca. Ini tak bisa ditawar-tawar. Jalan menuju ke sana adalah banyak berlatih menulis dan membaca.

Apakah ingin menjadi penulis murni? Nah, kalau pertanyaan ini memerlukan pemahaman yang dalam. Sebab, di negeri ini penulis murni belum memperoleh penghargaan yang memadai, baik dari masyarakat maupun pemerintah.

Hingga akhirnya hayatnya penulis sekaliber Korrie Layun Rampan mengeluhkan betapa sangat menyakitkannya perlakuan yang ia yang terima dari penerbit. Karena royalti yang seharusnya menjadi haknya dipermainkan, dipotong, atau malah tak diberikan.

Dunia perbukuan kita juga mencemaskan. Pemerintah tidak mau tahu. Tak ambil pusing. Masyarakatnya juga masih rendah tingkat gemar membacanya. Jumlah penduduk yang banyak bukan jaminan bagi kesejahteraan penulis.

Saya pernah menonton drama di TVRI pada tahun 1980-an  yang dimainkan oleh Teater Gendrik. Ceritanya masih nyantel di otak saya. Sang suami yang pekerjaannya penulis murni berkonflik dengan istrinya. Karena ekonomi rumah tangganya morat-marit. Ia mengetik tulisannya ketika genting rumahnya bocor. Air hujan mengguyur ke dalam rumah.

Penulis murni di negeri ini bisa dihitung dengan jari. Karena mereka memang tak banyak. Misalnya Emha Ainun Nadjib, Remy Sylado, dan Asma Nadia.

Jika diperhatikan, para penulis di Indonesia yang "bernafas  panjang" dan tampak eksistensinya rata-rata bekerja di berbagai bidang. Mereka adalah dosen, guru, dokter, pegawai negeri, karyawan perusahaan, dan wartawan. Mereka memperoleh penghasilan tetap sehingga dapur rumah tangganya senantiasa mengebul.

Jadi, berpikirlah ulang jika Anda ingin berkecimpung di bidang tulis-menulis secara total. Demikianlah.