Buku itu seperti anak kandungku. Setelah selesai dituliskan, saya membiarkannya berkelana dan memperjuangkan dirinya sendiri. ~ Pramoedya Ananta Toer

Ungkapan Pram di atas memang mengulik soal karya dalam bentuk buku. Meski tidak sepadan, bagi saya cukup relevan jika dipadankan dengan tulisan; esai, opini, puisi, atau karya-karya kepenulisan lainnya.

Tulisan dalam bentuk apa pun tidak benar jika membutuhkan penulisnya untuk tumbuh dan berkembang. Dia harus bertarung, berdiri gagah di tengah gelanggang sosial untuk melawan dan mempertahankan dirinya sendiri. Mandiri.

Juga, tugas sosial menghakimi sebuah karya. Ayu Utami bahkan pernah mengatakan bahwa tulisan yang baik itu harus mendapat haters saat pertama kali terpublikasi atau sesaat setelah bertemu para pembacanya.

Dengan begitu dia telah berbakti, membalas budi pada penciptanya untuk mengevaluasi diri demi ‘adik-adik’ karya yang lebih baik. Dia harus berlaku sebagai ‘kakak’ yang baik, membuka jalan, menjadi tumbal awal bagi karya-karya selanjutnya.

Seorang penulis bisa mempertanggungjawabkan dirinya sebagai penulis atau pengarang, atau bahkan sebagai manusia. Tetapi tidak untuk karangannya, ia harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri, kata Seno Gumira Adjidarma.

Hubungan penulis dan karyanya adalah dua entitas yang berbeda. Meski lahir dari manusia yang sama, tetapi sangkutannya selesai pada saat tulisannya selesai.

Sebuah tulisan akan terus mengalir dari satu orang ke orang yang berbeda. Pemaknaannya pun akan selalu berbeda, tergantung pada maqom pembaca. Sedang pengarang tidak mungkin menemui mereka satu per satu demi menjelaskan itu. Itu sebabnya karyanya akan terus mengalir dan berceceran dengan pemaknaan yang berbeda-beda.

Sifat pemaknaan tulisan akan selalu absurd, juga statis minta ampun. Di situ, tulisan dituntut untuk tetap kuat mempertahankan diri.

Makna ini tentu hanya berlaku pada konten karya. Pertanggungjawaban penulis tetap harus diletakan pada keberadaan karya tersebut. Jaga-jaga jika karyanya harus berurusan dengan pertanggungjawaban dalam konsep lain.

*

Pembacaan dan tafsir teks sebenarnya bukan hal baru dalam pembahasan khasanah kepenulisan. Para filsuf kontemporer sudah mengulas dan memperdebatkan ini jauh tahun. Sebut saja misalnya Jacques Derrida.

Fokus mereka memang pada filsafat konten puitik-metaforis. Filsafat yang bersifat simbolik, puitik dan sastrawi. Derrida bahkan didaulat sebagai bapak filsafat hermeneutika. Ia juga masyhur dengan konsep Dekonstruksi Teks-nya.

Bagi Deridda, sebuah teks—meski definisi teks ala Derrida tidak hanya bermakna sempit berupa tulisan—ia bebas ditafsir oleh siapa saja yang menemuinya dalam kondisi kebatinan apa pun. Ekstrem, Derrida mengatakan, teks secara utuh terlepas dari penulisnya setelah ia menyelesaikan tulisannya.

Teks selalu bergerak dalam relasi dan hubungan dengan bahasa-bahasa lainnya, yang mungkin dimiliki oleh pembacanya. Itu mengapa setiap pembaca akan memberikan makna yang berbeda-beda saat membaca teks yang sama.

Olehnya itu, bagi saya, pernyataan Pramoedya maupun Seno Gumira dalam konteks ini layak mendapat tempat khusus bagi penulis untuk mempertimbangkan karyanya dibiarkan berkembang dan mencari padanannya sendiri dalam gelanggang sosial.

Penulis Butuh Kritikan, Bukan Pujian

Kerjaan menjadi penulis itu bukan sesuatu yang menjanjikan, juga bukan sesuatu yang membanggakan. Bahkan bagi Eka Kurniawan, novelis yang lagi santer namanya itu, pekerjaan menulis bisa menjadi sumber penyakit fisik dan mental.

Dalam wawancara ekslusifnya dengan salah satu redaktur mojok(dot)com, Eka bahkan merasa heran dengan semangat anak muda yang ingin sekali menjadi penulis. Ia menutup sesi wawancaranya dengan pesan untuk anak muda agar berhenti menulis.

Dalam wawancara itu juga, Eka disambar dengan pertanyaan, saat di mana ia mendapat kritik pedas dari Maman Mahayana terkait bukunya yang berjudul Cantik Itu Luka. Eka kemudian menjawab:

“… Kalau sudah terbit, harusnya kan buku diulas, dikritik. Kalau tidak ada yang mengkritik dengan baik, ya kami kritik sendiri saja.

Nah, ketika novel itu (Cantik Itu Luka) keluar dan ternyata kritik yang pertama datang tidak semenyenangkan yang kami bayangkan, ya, yang pertama melakukannya, Muhidin meng-counter itu. Saya rasa spirit tahun itu berlaku. Kalau orang lain tidak melakukan (kritik), kita sendiri yang lakukan.”

Eka dan komunitas literasinya bahkan berencana akan melakukan kritik terhadap karyanya sendiri. Dengan begitu, mereka akan terus tumbuh dan mengevaluasi diri dan komunitasnya.

Upaya ini harus terus dijaga gaungnya di lingkungan para penulis. Bagaimanapun juga, kreativitas seorang penulis terancam ‘tamat’ ketika ia merasa sudah menemukan bentuk terbaik dari caranya menulis. Mengakibatkan ia berhenti melakukan eksplorasi ataupun eksperimen.

Meski sebenarnya tak ada pakem yang bisa mengategorikan sebuah tulisan itu bagus atau tidak bagus. Itu murni soal selera. Bahkan, tidak ada tulisan yang bagus. Juga, di waktu bersamaan, tidak ada tulisan yang tidak bagus.

Kritikan itu membantu kita merasa tidak berada di zona nyaman. Yang pada akhirnya memaksa kita untuk terus bereksperimen dan mengeksplorasi tulisan kita. Juga haus untuk terus melahirkan karya demi meladeni kepuasan pembaca.

Penulis harus terus mengalami gejolak kebatinan sebagai antitesis dari kumpulan ide dan pikiran-pikirannya dalam menulis. Dia butuh asupan kritik yang straight pada karya-karyanya sebagai bahan evaluasi.

Tentu bukan berarti penulis juga tidak perlu dipuji. Hal yang satu ini juga penting dalam kadar dan porsi yang sesuai. Setidaknya, sedikit memberi motifasi dan atmosfer baginya untuk terus berkarya. Sekali lagi, pada kadar dan posri yang sesuai.

Sebab pujian bagi penulis bisa juga memberi beban baru. Soal bagaimana ia seharusnya melahirkan karya yang lebih baik dari sebelumnya, setidak-tidaknya tidak mengalami degradasi kualitas yang begitu jauh dari karya-karya yang lahir lebih dulu.

Tetapi, penulis yang mendapat respons baik melulu akan terlena dan meyakini bahwa karyanya sudah mendapatkan posisi yang baik. Ini tentu akan membunuh daya eksplorasinya, juga mematikan sifat eskperimentalnya, seperti yang biasa dikatakan oleh Bernard Batubara.

Padahal, jika kita membuka diri, respons positif mungkin hadir hanya dari beberapa orang atau kelompok tertentu saja. Sedang ide tulisan, gagasan, atau pesan yang ingin disampaikan dalam karya kita diperuntukan untuk semua pembaca.

Beda hal dengan pengkritik. Berapa pun jumlahnya, mereka adalah pembaca yang sedang mengevaluasi karya kita, dan memacu kita untuk terus melahirkan tulisan-tulisan yang lebih baik.

Penilaian terhadap tulisan itu harusnya berlaku seperti filsafat-keraguan. Terus dipertanyakan agar melahirkan keraguan yang lain. Hal ini penting, agar tulisan itu bisa melahirkan tulisan lain dan terus beranak pinak menjadi tulisan-tulisan yang lainnya lagi.

Pembaca atau penikmat karya kita memiliki privilege itu. Ini menjadi alasan mengapa kritik sangat relevan untuk ada. Sebab yang menentukan bermutu atau tidaknya sebuah tulisan adalah pembaca, bukan penulis. Sungguh kita tidak mempunyai hak itu.

Kritik bukan sekadar retorika atau metafor bahasa tubuh yang disuratkan, tetapi sebuah jembatan pemahaman antara pembaca dan penulis.

Sebuah kasus masa lampau bisa menjadi pelajaran bagi kita. Betapa ketidakhadiran rasa evaluatif saat membaca sebuah karya bisa menjadi bumerang yang berdampak besar.

Kita mungkin masih ingat atau pernah membaca peristiwa Hoax Alan Sokal.

Pada edisi ke-46/47 Spring-Summer 1996, Social Text, jurnal ternama di Amerika Serikat, Alan Sokal pernah menuliskan sebuah paper. Beberapa minggu kemudian, Sokal membeberkan bahwa papernya yang tayang di Social Text itu hanyalah parodi untuk mengejek para pemikir posmodern. Dengan kata lain, paper itu adalah hoaks.

Menurut Sokal, paper tersebut sengaja dia tulis secara asal-asalan untuk menguji standar pantauan para akademisi intelektual humaniora Amerika Serikat. Tentu saja paper Alan Sokal itu luput, hingga bebas lenggang-lenggong dalam beberapa pekan.

Kealpaan para pembaca menghadirkan kritik tidak hanya bisa membunuh kreativitas penulis, tetapi juga bisa mengamini peredaran hoaks atau informasi yang keliru.

Hanya saja, hal yang perlu dipahami bahwa kritik pembaca harus dialamatkan pada tulisan atau karyanya, bukan pada personal penulis. Jika itu yang terjadi, namanya bukan kritik, tapi bullying.

Tulisan kita bisa saja berakhir dengan lipatan-lipatan berantakan bungkusan kacang, atau ditutup dengan scroll dengan kecepatan rata-rata dalam media daring. Sabar, itu proses bagi kita untuk menjadi lebih baik.

Selamat meragu juga mengkritik. Tahan sampai tidak menjadi bullying.