Saya sangat menyukai tulisan dari Pak Syukur Budiardjo tentang Tulisan Kita Ditolak, Siapa Takut? Menurut saya tulisan beliau ini sangat inspiratif dan melecutkan semangat saya untuk semakin giat menulis, setelah berkali-kali tentunya, saya ditolak oleh penerbit.

Dalam tulisan ini saya tidak hendak mengomentari tulisan Pak Syukur yang menurut saya sudah sangat baik sebab penuh dengan balutan pengalaman dan wawasan beliau selama menyelami dunia kepenulisan ini. Namun dalam tulisan ini saya hendak membandingkan antara dunia kepenulisan dengan dunia sepak bola yang menurut saya ada kemiripan. Khususnya, kemiripan antara seorang penulis dan pemain sepak bola. Dimana letak kemiripannya? Mari kita bahas bersama-sama.

Dalam dunia sepak bola, kita telah mengenal siapa itu pemain top, siapa itu pemain bintang, dan siapa saja pemain yang bertabur gelar individu. Misalnya saja, kita merepresentasikan di antara nama-nama mereka adalah sosok Messi dan Ronaldo. Dua pemain ini merupakan potret di antara barisan pemain yang paling dicintai oleh para fans mereka. 

Hal ini wajar, sebab kehadiran mereka seakan merupakan garansi kemenangan, keindahan, dan prestasi yang akan dimiliki oleh sebuah tim. Tanpa kehadiran dua sosok ini seakan ada yang kurang dalam permainan tim sepak bola mereka.

Saya kira demikian pulalah yang terjadi dalam dunia penulisan. Tentu saja para pembaca itu memiliki nama-nama pengarang atau penulis favorit dari buku-buku bacaan mereka. Sebut saja nama Andrea Hirata, Tere Liye, Emha Ainun Nadjib, Eka Kurniawan, Raditya Dika, dan sederet nama penulis beken lainnya—Anda dapat meneruskan untuk menyebutkannya sendiri. Saya kira para penggemar buku yang mencintai nama-nama itu sangatlah wajar, mengingat nama mereka seakan merupakan garansi bagi para pembaca yang menghendaki sebuah karya tulis yang indah dan nikmat untuk dibaca.

Jika kita kembali melihat kondisi para pemain sepak bola, sebenarnya kita juga tidak selalu melihat mereka dapat bermain dengan baik. Bahkan, terkadang kita juga dibuat penasaran oleh mereka saat mereka bermain dengan begitu buruk di lapangan yang berimbas pada kekalahan tim mereka dalam pertandingan. Para fans seakan marasakan itu bukanlah diri mereka yang sebenarnya.

Jika hal tersebut dapat terjadi dalam dunia sepak bola, saya kira demikian pula yang terkadang dialami oleh para penulis itu. Terkadang para pembaca karya mereka yang setia maupun para editor pun merasa heran dengan beberapa karya yang telah mereka tuliskan. Serasa tulisan itu tidak seperti karya mereka yang biasanya. Alur tulisan mereka mungkin terlalu mainstream dan seakan tidak ada kebaruan dari karya mereka sebelumnya.

Saya anggap itu adalah perihal yang wajar, terutama manakala penulis dianggap telah mampu menghasilkan mahakarya yang luar biasa pada waktu sebelumnya. Tentu saja, upaya mereka untuk menghasilkan karya yang sama dahsyatnya dengan karya mereka terdahulu ini tidak akan semudah dengan pengalaman mereka yang dulu.

Ada beberapa hal yang harus mereka takhlukkan manakala mereka ingin melampaui karya mereka yang terdahulu, antara lain: mereka harus melampaui kemampuan mereka sendiri, mereka harus tetap mampu mengaduk dan mengobati rasa penasaran dari para pembaca, mereka harus tetap menjaga stamina—terutama jika usia penulis sudah mulai uzur, dan belum lagi ditambah dengan hadirnya para penulis baru yang mampu memberikan nuansa kesegaran tersendiri pada karya mereka.

Tentu saja untuk mengalahkan keempat hal ini bukanlah perkara yang mudah. Ibaratnya seorang Messi atau Ronaldo yang sudah veteran itu diminta untuk menandingi kemampuan mereka sendiri sewaktu masih belia. Dan selain itu, mereka juga akan diminta untuk menghadapi para pemain muda lainnya yang telah mengamati, mengantisipasi, dan bahkan meng-copy cara bermain mereka dengan sempurna. Dengan keadaan yang sudah seuzur itu tentu hasilnya berpeluang tidak akan sama.

Kita tentunya sangat mengapresiasi, mengagumi, dan bahkan ingin meniru para penulis yang sudah berusia lanjut namun tetap produktif dalam berkarya. Sebut saja nama Emha Ainun Nadjib, Goenawan Muhammad, dan Pak Syukur Budiardjo itu sendiri. Terus terang saya sangat mengagumi konsistensi beliau-beliau ini dalam menulis.

Keistiqamahan menulis yang telah beliau praktikkan ini seakan merupakan inspirasi tersendiri bagi saya untuk tetap menulis, bahkan ketika tulisan saya berkali-kali ditolak oleh penerbit. Dan terutama dari tulisan Pak Syukur ini, telah membuat saya senantiasa bersyukur sebab telah mengobarkan semangat saya untuk tetap menulis. 

Ditambah dengan contoh yang beliau suguhkan tentang pengalaman inspiratif dari para penulis profesional yang pernah menemui jalan pedangnya sendiri saat mengenalkan karya mereka pada pihak penerbit. Bertambah bergelora lah semangat saya untuk menulis ini. Tak peduli apapun hasilnya nanti, yang penting saya akan terus menulis.

Dalam dunia sepak bola, seorang pemain bola yang biasanya tampil begitu baik pun terkadang juga dapat bermain dengan sangat buruk. Mereka yang biasanya tampak begitu mudahnya dalam mencetak goal untuk tim mereka dan menyumbang asssit untuk kawan mereka, bisa saja suatu saat nanti akan bermain dengan begitu payahnya. 

Ini adalah hal yang wajar, mengingat para pemain sepak bola, sebaik apapun mereka, tentu suatu saat nanti akan berhadapan dengan masalah konsistensi. Hanya saja masalahnya adalah seberapa sering masalah konsistensi itu akan menghinggapi diri mereka.

Para pemain bola yang mudah move on atau segera bangkit dari masalah konsistensi ini akan berpeluang untuk menjadi pemain yang baik. Mungkin saja perihal yang hendak mereka tunjukkan pada fans mereka adalah persoalan siklus. Pada waktu tertentu mereka akan berada pada siklus yang terendah, namun mereka akan selalu siap untuk bangkit dan memperbaikinya.

Demikian juga untuk para penulis inipun pasti akan menghadapi masa-masa terburuknya, yakni pada saat mereka kehilangan ide-ide menulis (writer’s block), kehilangan semangat untuk menulis, atau kehilangan waktu untuk menulis karena kesibukan mereka yang lain. Biasanya, penulis yang sedang melalui fase-fase ini mengibaratkan mereka sedang berada pada masa ujian ihwal kepenulisan, lantaran mereka dihadapkan pada keadaan yang tetap ingin melestarikan passion mereka untuk menulis namun berbenturan dengan kemampuan dan keterbatasan mereka.

Maka, biasanya, jalan termudah bagi para penulis yang berada pada titik nadir ini adalah dengan menembus batasan-batasan itu dengan cara yang paling mudah demi melestarikan minat dan konsistensi mereka dalam dunia kepenulisan. Karya-karya mereka mungkin akan terasa lebih ringan daripada karya mereka yang sebelumnya sebab mereka telah menempuh jalan keluar dari rintangan-rintangan kepenulisan mereka ini dengan cara yang termudah menurut anggapan mereka.

Di antara para penulis itu mungkin ada yang meyakini bahwa upaya termudah untuk tetap mengalirkan ide dalam menulis adalah dengan menulis apa saja yang mereka ketahui, dengan menulis apa saja yang mereka sukai, dan menulis apapun yang sesuai dengan imajinasi mereka.

Dan melalui ketiga cara inilah biasanya para penulis itu akan mampu menghasilkan karya yang dapat dianggap untung-untungan. Terkadang karya mereka akan dianggap sangat fenomenal oleh para pembacanya dan tidak jarang karya mereka itu juga akan berkesan biasa saja. Dan tentunya, hal tersebut lagi-lagi akan sangat bergantung pada kapasitas pengetahuan dan selera dari pembaca karya mereka.

Satu hal yang membedakan antara penulis dan pemain bola yang profesional adalah mengenai masa pensiun. Seorang pemain bola yang profesional cenderung akan segera pensiun dan menggantung sepatu mereka manakala usia dan kondisi fisik mereka sudah tak relevan lagi untuk keadaan persaingan di lapangan. Namun apakah kiranya para penulis juga memiliki masa pensiun?

Menurut anggapan saya menulis itu adalah aktivitas yang dapat dilakukan seumur hidup sehingga ia tidak mengenal istilah pensiun. Selama kita masih memiliki hati, pikiran, dan raga yang sehat, ditambah memiliki bekal yang cukup untuk menulis, saya anggap aktivitas menulis ini akan tetap bisa terlaksana, terlepas ada atau tidak, sedikit atau banyak, di antara pembaca yang akan menyukai karya tulis kita.