Belakangan ini, jumlah penulis di negeri kita meningkat drastis. Baik itu penulis online yang mempublikasikan karyanya dalam bentuk digital, maupun penulis yang telah berhasil mencetakkan karyanya dalam bentuk buku. Menurut saya, ini sebuah kemajuan. Tetapi adakah dampak negatifnya?

Sebagai seorang yang masih terus berusaha menjadi penulis profesional, saya terus belajar menulis. Dan salah satu media yang paling banyak saya gunakan adalah kertas. Kenapa? 

Bagi saya, menulis di kertas melahirkan berbagai sensasi. Awalnya karena ikut sebuah saran, tetapi pada akhirnya menjadi sebuah kecanduan.

Sensasi pertama yang saya rasakan adalah isi otak yang rasanya tumpah di kertas. Lega dan puas. Kepala serasa ringan dan hati pun senang. Kemudian dengan mudah tumpahan itu “diurai” sedikit demi sedikit, untuk mengenali berbagai macam bentuk dan “baunya”. Setelah dikenali, bertingkah seperti seorang ilmuwan, saya meneliti lebih jauh sampai akhirnya menemukan esensinya.

Bukankah hal itu bisa juga dilakukan di layar LCD perangkat elektronik (tablet atau laptop) yang kini banyak dijual di mana-mana? Tidak. Sensasinya jauh berbeda.

Kertas yang telah ditulis bisa diletakkan sembarangan di atas meja ketika menulis. Dan entah kenapa, saat menulis di kertas lain, semacam ada satu atau beberapa kata yang “menyodorkan diri” untuk ditulis lagi. 

Biasanya, kata-kata itu adalah yang terpenting atau yang utama dalam suatu tulisan. Dengan kata lain, saat saya membiarkan kertas itu terletak begitu saja di atas meja selesai ditulis, inti sarinya akan melayang di udara dalam bentuk rangkaian huruf. Inilah sensasi kedua yang saya alami.

Perangkat elektronik tidak bisa melakukan itu. Mungkin karena hanya satu buah atau entahlah. Yang jelas, mengepal kertas yang gagal atau salah tulis menjadi seperti sebuah bola kasti pun adalah sebuah sensasi. Beberapa kali, setelah mengepalkannya, saya teringat suatu hal lalu membukanya kembali. Kemudian ide mengalir lagi. Ini sensasi ketiga yang biasa saya alami.

Belakangan saya tahu, menulis di atas kertas ternyata bisa juga sebagai terapi untuk menghilangkan stres. Caranya begini: gerakkan alat tulis sebebas-bebasnya. Jika menulis, jangan baca lagi yang telah tertulis; jika menggambar, gambarlah tanpa memedulikan bentuknya atau nama dari gambar tersebut.

Begitulah cara saya menulis, dan pengalaman berkreasi menggunakan kertas. Untuk latihan serta terapi itu, saya menggunakan minimal dua lembar kertas sehari. Dua lembar itu belum termasuk buku untuk menuliskan “esensi” yang didapat – semacam buku harian. Maka bisa dibayangkan sebanyak apa kertas yang habis untuk latihan menulis selama kurang lebih tujuh tahun.

Itulah sebabnya latihan ini juga mendatangkan tekanan. Kebetulan saya seorang yang tertarik pada isu lingkungan: penebangan pohon, betonisasi, penggunaan plastik, dan lain sebagainya. 

Maka setiap kali selesai menulis di atas kertas, saya merasa berdosa karena secara tak langsung ikut menebang pohon – yang digunakan sebagai bahan baku kertas. Belum lagi limbahnya yang mencemari lingkungan. Dan kertas-kertas bekas tulisan saya, yang ketika dibakar mencemari udara.

Tekanan itu tak main-main. Bahkan pernah karena tekanan itu, saya berhenti latihan menulis.

Berkali-kali saya bertanya dalam hati, normalkah perasaan itu? 

Sebelum melakukan latihan diri dipenuhi semangat, tetapi setelahnya merasa berdosa. Menurut saya, ini sama saja dengan banyak orang yang penuh semangat ketika akan menikah, tetapi menyesalinya setelah banyak permasalahan yang datang.

Dan bayangkan berapa banyak penulis di negeri kita sekarang ini. Jika mereka berkreasi menggunakan kertas seperti saya, pastilah makin banyak kertas dan kerusakan lingkungan makin tidak terkendali. Penulis yang peduli pada lingkungan dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Berhenti berkarya atau merusak alam?

Tetapi pertanyaan yang kemudian lahir di benak saya adalah jika kreativitas dibunuh, adakah jaminan keadaan makin membaik? Bagaimana jika kreativitas diusahakan bertumbuh bersama kelestarian lingkungan? Saya menyesal, adakah yang berubah?

Setelah permenungan yang cukup lama, saya memutuskan tetap menulis. Ada dua alasannya. Yang pertama, saya “menebus dosa” dengan memulai penghijauan kecil-kecilan dari pekarangan rumah.

Yang kedua, jika kelak menjadi penulis profesional dan menghasilkan uang, saya ingin membuat gerakan untuk menanam pohon. Sebab tidak mungkin saya membuat gerakan untuk menghentikan produksi kertas, siapa tahu, di luar sana masih banyak yang seperti saya: menggunakan kertas untuk mendukung kreativitas.

Salah satunya pelukis. Saya kenal seorang pelukis yang sehari saja bisa menghabiskan puluhan lembar kertas untuk mendukung kreativitasnya dalam melahirkan karya. Pelukis ini mempunyai tujuan melestarikan budaya Batak dalam setiap karyanya. Saya kira, alam dan budaya (eksistensi manusia) sama penting, maka perlu dipikirkan lagi bagaimana keduanya bisa dilestarikan.

Mungkin di luar sana banyak pekerja kreatif lain yang membutuhkan kertas sebagai media untuk menunjang kreativitasnya. Maka cara terbaik untuk menyelesaikan problem dilematis ini adalah terlibat dalam gerakan menanam pohon atau usaha lainnya yang bertujuan untuk melestarikan alam.