Freelancer
2 minggu lalu · 102 view · 3 min baca menit baca · Pendidikan 54822_81884.jpg
republika.co.id

Penulis Butuh Honor

Setiap orang yang berkarier dalam dunia tulis menulis pada hakikatnya membutuhkan honor. Baik itu penulis buku, penulis kolom di koran, majalah maupun media online, memang membutuhkan honor.

Jadi, ketika ada beberapa orang yang tidak memikirkan honor dari sebuah tulisan, maka itu terserah mereka. Tetapi pada dasarnya, penulis memang butuh honor.

Seperti para penulis buku yang menggantungkan hidupnya dari sebuah tulisan, tentu mereka membutuhkan honor bukan?. 

Penulis buku menerbitkan buku dan bisa dijual, maka hasil pembelian oleh  para pembaca tersebut adalah untuk penulis itu sendiri dan pihak penerbit tentunya dengan cara bagi hasil.

Begitupun bagi penulis kolom di koran, majalah maupun di media online, sama saja membutuhkan honor. 

Hal wajar bila para penulis bila mendapatkan honor dan hanya mau menulis ke media yang memberikan honor. 


Dengan honor itu akan memberikan semangat lebih buat para penulis menghasilkan karya yang menarik dan mengedukasi pembaca. Honor itu adalah apresiasi karena kerja keras penulis menghasilkan artikel atau tulisan dan buku.

Media-media yang ada di Indonesia pun harus juga mengerti ketika membuka rubrik kolom atau opini di medianya, harus pula memberikan honor pada penulis jika tulisannya diterbitkan. Berapapun besarnya, tentu itu sudah sebuah apresiasi yang besar bagi penulis.

Harus diketahui bahwa menulis itu sulit dan melelahkan pikiran. Harus pula banyak membaca buku, koran maupun menonton berita televisi untuk mengetahui berita terhangat saat ini. 

Merangkai kata-kata membentuk sebuah kalimat pun sulit, sehingga layak bagi para penulis mendapatkan honor. Saya yakin dan percaya kalau para penulis akan menerima berapapun honor yang diberikan sebuah media atas apresiasi tulisannya.

Pengalaman saya pribadi, pernah menulis di sebuah harian atau koran lokal di kota Medan. Koran tersebut menyediakan kolom buat para penulis menyalurkan pikiran dan bakatnya. 

Tahukah anda berapa honornya? Honornya sebesar Rp. 35.000 untuk satu tulisan. Begitu kecil bukan? Tetapi itulah yang saya dapatkan. 

Bukan berarti dengan honor kecil membuat setiap tulisan yang masuk wajib terbit. Oh tidak! Harus pula sampai berkali-kali mengirim, barulah tulisan itu lolos dari editornya.

Sebenarnya, honor tersebut begitu kecil. Kalau kita bayangkan dengan media atau koran di pulau Jawa, honornya begitu besar di kisaran Rp. 100.000--Rp.1.000.000. 

Akan tetapi, meski saya mendapatkan honor yang kecil tersebut, tak membuat saya putus harapan untuk menulis. Terus saja saya menulis berapapun honornya. Bagi saya, dengan diberikan honor sudah bagian dari apresiasi atas kerja keras dan tulisan saya.


Namun, miris juga melihat kalau ada media online atau koran tidak memberikan honor, apalagi kalau kita melihat ada sponsor atau iklan di medianya, namun penghargaan bagi penulis tidak diberikan. 

Ya, wajarlah jika banyak penulis memang membutuhkan honor dan itu wajar-wajar saja dan lumrah. Honor seperti yang saya katakan sebelumnya adalah penghargaan atas kerja keras penulis. Saya yakin media juga mengerti dan maklum.

Harapannya, semua media yang ada di Indonesia mau untuk memberikan honor bagi para penulis dan menyediakan ruang untuk menulis. 

Hal itu akan mengedukasi dan bagian dari literasi bagi para pembaca. Semakin banyak tulisan dan penulis, maka dapat dikatakan akan menjadi baik pulalah negara kita. 

Budaya literasi seperti menulis mampu membantu negara memerangi hoaks. Menulis berarti membagikan ilmu berupa pendapat yang bukan hoaks, sehingga para pembaca yang membacanya dapat  tercerahkan.

Oleh karena itu, setiap penulis memiliki nilai plus sebenarnya dalam sebuah negara. Penulis juga harus dihargai atas kerja kerasnya membagikan pendapat atau opini yang mencerahkan bagi bangsa dan negara ini. 

Tidak asal-asalan menyerang tanpa punya solusi yang pas. Penulis harus menjaga integritas juga agar semakin banyak penggemarnya. Tidak menyerang dan menjelek-jelekan pihak lain.

Menjadi seorang penulis haruslah butuh kerja keras dan komitmen menghasilkan tulisan yang layak dibaca para pembaca. Tak masalah kalau tulisan itu biasa-biasa saja, tidak seperti penulis besar lainnya. 

Asalkan tulisan itu baik, pendapat baik dan tidak menyerang suku, agama, ras dan antargolongan, kesusilaan, ketertiban maupun berujung hinaan ataupun cacian terhadap oknum tertentu, komunitas atau partai tertentu, maka tulisan itu layak untuk diterbitkan. 

Dan, menjadi penulis juga harus terus produktif bila ingin menjadi penulis hebat dan profesional.

Terlebih dari itu, para media, hargai juga penulis dengan apresiasi berupa fee atau honor. Hal itu perlu sebagai penunjang semangat. 

Berapapun honornya, saya yakin para penulis akan menerimanya. Terpenting, penulis mendapatkan apresiasi. Apalagi bagi orang yang menggantungkan hidupnya dari sebuah tulisan, maka mereka sangat butuh honor. 

Semoga setiap media mengerti akan hal itu. Pekerjaan sebagai penulis itu baik, kreatif dan mampu membantu perekonomian penulis itu sendiri.  Karena itulah, penulis itu butuh honor sebagai apresiasi atas kerja keras dan dedikasi mengedukasi dan mencerahkan rakyat.    

Artikel Terkait