Konflik dapat terjadi dimanapun dan kapanpun tanpa mengenal ruang dan waktu. Hal ini membuat konflik seakan telah menjelma menjadi suatu entitas tersendiri pada umat manusia.Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker, secara umum ada empat faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya konflik, yaitu :

  1. Perbedaan Individual
  2. Perbedaan Kebudayaan
  3. Perbedaan Kepentingan
  4. Perubahan Sosial

Berbagai macam peraturan dan kebijakan dibuat untuk mencegah terjadinya konflik ,namun berakhir seperti teori tanpa praktik semuanya hanya berakhir diatas kertas. Hal ini dibuktikan dengan terus bertambahnya jumlah konflik skala besar yang terjadi hingga konflik berkepanjangan yang tak kunjung menemui titik terang seperti yang terjadi di Timur Tengah.

Ditengah konflik yang sedang berkecamuk,beberapa pemimpin hanya duduk manis menonton sedangkan sebagian sisanya melayangkan kutukan-kutukan tanpa arti. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya campur tangan dari pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan pribadi atas konflik yang terjadi serta mudahnya masyarakat yang terpancing emosi atas informasi-informasi yang belum terjamin kebenarannya.

Hal ini membuktikan jika kepedulian sosial atas kemanusiaan telah dibatasi oleh sekat-sekat yang hanya berlaku pada golongannya. Sekat-sekat tersebut merupakan wujud akan kurangnya rasa kebersamaan pada umat manusia. Saat rasa kebersamaan tak lagi kuat, maka konflik akan lebih mudah untuk tercipta.

Belakangan ini alasan munculnya konflik yang paling sering terjadi dalam skala yang besar didasari oleh masalah agama. Mulai dari masalah konflik Palestina-Israel yang sarat akan isu keagamaan hingga penindasan etnis muslim Rohingya oleh pemerintah Myanmar. Konflik tersebut perlahan-lahan tanpa disadari mulai merambat dalam skala yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak orang.

Thomas van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah pikiran. Hal ini menyebabkan agama menjadi sesuatu yang sensitif untuk dibahas karena setiap orang dapat menafsirkan agama tersebut secara berbeda-beda sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Oleh karena itu pemahaman akan agama sangat diperlukan agar tidak mudah terpeleset kedalam lubang-lubang kesalahpahaman.

Kurangnya rasa kebersamaan dalam kemanusiaan lah yang menyebabkan masalah keagamaan terus-menerus melahirkan konflik. Seolah agamalah yang menjadi penyebab utama konflik tersebut. Dengan dalih membela agama, banyak orang yang malah melakukan tindakan yang bertentangan dengan tujuan utama dari agama itu sendiri yaitu menciptakan perdamaian. 

Padahal,sekitar 70 tahun yang lalu seorang pria dari India mengajarkan kepada dunia jika keyakinan pada rasa kebersamaan dapat membawa manusia keluar dari lingkaran konflik keagamaan. Mohandas Karamchand Gandhi namanya, ia lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar,India. Lahir dan dibesarkan di India membuat Gandhi belajar tentang keberagaman suku, budaya serta agama yang ada di negara tersebut. Gandhi sendiri merupakan seorang aktivis kemanusiaan yang menentang keras segala bentuk aksi kekerasan.

Gandhi dikenal baik oleh rakyat India sebagai seorang tokoh publik yang berusaha memperjuangkan hak-hak rakyat India terhadap pemerintahan Inggris yang saat itu tengah menguasai India. Namun puncak dari perjuangan Gandhi terjadi saat konflik yang terjadi pada pemisahan India-Pakistan. Salah satu konflik berbasis masalah keagamaan terbesar di India bahkan di dunia.

Perpecahan dimulai sejak 1937,hal tersebut terjadi karena adanya rasa kurang terwakili para penganut Islam. Dalam perjuangan lepas dari Inggris, mereka merasa Partai Kongres (PK) yang didominasi orang Hindu berjuang sendiri. Maka dibawah Ali Jinnah, orang-orang Islam kemudian mendirikan Liga Muslim (LM).

Puncaknya terjadi tak lama setelah berakhirnya perang dunia ke-2 yang menyebabkan Inggris yang saat itu menguasai India berada pada tekanan ekonomi hebat pasca perang. Liga Muslim memutuskan untuk melangsungkan sebuah Hari aksi langsung, yang merupakan sebuah aksi protes menentang “Pemerintahan Kongres” dan memaksa Inggris untuk mengakui tuntutan mereka bagi sebuah negara yang terpisah.

Hal ini menyulut pecahnya kekerasan yang mengerikan di beberapa wilayah India. Setidaknya ada sekitar 4000 orang terbunuh dan 15.000 orang luka-luka, dalam penembakan, penikaman, pembakaran, pertumpahan darah, dan pembunuhan yang meluas sampai ke Bengal Timur. Hal ini tentu saja jelas melanggar nilai kemanusiaan dan sangat berlawanan dengan konsep ajaran masyarakat beragama.

Pria dengan Jiwa yang Agung

Gandhi yang mengetahui hal itu lalu memutuskan untuk pergi langsung untuk memeriksanya. Dengan kaki lemahnya di usia 77 tahun, ia berjalan dari satu desa ke desa lainnya dalam misi mewujudkan perdamaian. Tujuannya hanya satu, yaitu mewujudkan perdamaian dari rasa kebersamaan dalam kemanusiaan serta upaya mempertahankan konsep "Satu India".

Berbagai upaya dilakukannya, mulai dari mengadakan pertemuan-pertemuan doa hingga pemungutan bantuan kepada korban kerusuhan. Meskipun Gandhi seorang penganut Hindu yang taat,tetapi ia memperlakukan semua orang dalam kesetaraan. Bahkan ia mendatangi wilayah muslim untuk melihat kondisi para korban dan mendiskusikan niatnya yang ingin mendamaikan kedua belah pihak.

Gandhi merasa bahwa India tak perlu dipecah. Ia mengganggap umat muslim sebagai saudara dalam suatu kesatuan utuh India. Hal ini juga didukung oleh banyaknya jumlah muslim yang ingin tetap tinggal di India. Tak sedikit pula umat Hindu yang setuju dengan pemikiran Gandhi. Semua tak terlepas dari usaha Gandhi yang dengan sabar menjadi jembatan antara kedua belah pihak.

Hal ini membuat Gandhi sangat dihormati oleh seluruh rakyat India. Usahanya terbukti tidak sia-sia, sebulan kemudian ketegangan yang terjadi pasca kerusuhan tersebut mulai mereda. Kedua pihak mulai berupaya saling memahami tentang betapa berharganya suatu kebersamaan. Gandhi membuktikan jika niat yang tulus dapat memberikan kekuatan untuk mewujudkan perdamaian.

Disisi lain fraksi Liga Muslim tetap bersikeras untuk berpisah dari India dan berkeinginan untuk mendirikan negara independentnya sendiri. Bahkan Gandhi sampai memohon langsung kepada Jinnah agar mengurungkan niat fraksi tersebut, namun dikarenakan keputusan oleh Liga Muslim telah bulat akhirnya Gandhi dengan lapang dada menerima pemisahan tersebut walau diiringi dengan air mata yang mengalir dari pipi tua nya.

Saat puncak pemisahan India-Pakistan, bentrok yang sangat hebat di kedua pihak tak dapat dihindarkan. Bahkan ribuan pasukan pengaman Inggris kewalahan untuk mengatasinya, namun kehadiran Gandhi mampu membuat semua orang disana perlahan melunak, suasana perlahan-lahan dapat terkendalikan. Munculnya seorang Gandhi yang dihormati oleh kedua belah pihak mencegah terjadinya pertumpahan darah besar-besaran.

Mereka seolah malu akan perbuatan mereka di hadapan kemuliaan hati seorang pria renta yang menginginkan kedamaian tersebut. Kehadiran pria renta di tengah konflik itu seolah-olah mengingatkan kepada semua orang yang saat itu berada disana bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Bahwa kita sebagai manusia seharusnya memilih jalan penuh kedamaian seperti yang diajarkan setiap agama. Bukannya malah mengatasnamakan agama dalam menciptakan konflik dan perpecahan.

Setelah India-Pakistan terpecah menjadi 2 negara yang berbeda, Gandhi tetap memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas kemanusiaan di India. Dia masih terus berupaya menciptakan perdamaian dalam masyarakat India yang kala itu masih sangat rentan terhadap berbagai macam konflik. Hingga akhir hayatnya pada 30 Januari 1948, ia tetap menentang segala bentuk diskriminasi yang terjadi di tanah India.

Rabindranath Tagore adalah orang pertama yang memberi gelar Mahatma yang memiliki arti sebagai jiwa yang agung kepada Gandhi. Gelar tersebut diberikan atas sikap Gandhi yang menjunjung tinggi kebersamaan dalam kemanusiaan. Kini dunia mengenalnya dengan sebutan Mahatma Gandhi, seorang pria sederhana yang mendedikasikan dirinya demi terwijudnya sebuah perdamaian di dunia yang dipenuhi dengan konflik ini.

Perjuangan Gandhi mengajarkan pentingnya suatu aksi yang nyata dalam menyelesaikan suatu konflik. Aksi yang  didasari oleh niat yang tulus serta menjunjung tinggi sikap kemanusiaan. Sampai sekarang sosok Gandhi masih dijadikan salah satu simbol perdamaian serta contoh tentang pentingnya arti kebersamaan dalam kemanusiaan.