“Coba Anda bayangkan, gallon berisi air seberat 10 kg dengan balita lucu mempunyai berat badan 10 kg! Mana yang kira-kira ingin Anda angkat? Dan mana yang terasa lebih berat saat Anda angkat?”, tanya Saya saat pembuka suatu webinar, sembari menampilkan gambar gallon berisi air dan bayi lucu dilayar paparan.

Spontan hampir semua audiensi sepakat, bahwa lebih tertarik mengangkat atau menggendong seorang balita lucu dengan berat badan 10 kg.

Apa alasannya? karena merasa tertarik dengan lucunya bayi. Dengan sukacita ingin menggendongnya, dan seolah tidak merasakan beban seberat 10 kg. Berbeda jika mengangkat sebuah gallon berisi air, meski sama-sama mempunyai berat 10 kg, tapi terasa lebih berat dan tak ingin lama-lama kita mengangkatnya.

Kenapa ini bisa terjadi?

Jika kita dihadapkan dalam 2 pilihan tadi, secara otomatis kita telah mempunyai pola pikir bahwa mengangkat gallon itu berat, sedangkan mengangkat bayi itu menyenangkan. Begitu bukan? Nah pola pikir inilah yang menghasilkan perilaku, bagaimana kita merespons suatu hal atau kejadian yang ada di depan kita.

Berasa berat karena ada perasaan penolakan (denial). Rasa ini yang akan menimbulkan rasa kepanikan, ketakutan, kesedihan, ketidakpuasan, ketidakberdayaan atau perasaan-perasaan lain yang melemahkan.

Berasa ringan karena ada rasa keberterimaan (acceptance). Muncul rasa lebih ringan, lebih mudah menerima kondisi, lebih tenang, lebih bebas, lebih bahagia atau perasaan-perasaan lain memberikan kekuatan pada diri kita.

Rasa terakhir inilah The Power Of Acceptances yaitu suatu kondisi di mana diri kita dapat merasa menerima hal dengan lapang. Tumbuh rasa ikhlas, bersyukur, puas, serta legowo dalam menghadapi suatu masalah dalam kehidupan ini.

Dengan kita bisa menerima, maka akan tumbuh rasa bahagia dalam menjalankan sesuatu. Demikian juga dalam menjalankan amanah sebagai ASN. ASN saat ini mempunyai tantangan harus kerja adaptif dan produktif dalam situasi pandemi dengan ketidakpastian yang tinggi.

Ketidakpastian apa yang dimaksud? “Bukannya gaji jelas, pekerjaannya santai, pensiunan ada”. Pasti ini yang ada dalam pemikiran pembaca yang budiman. Tidak salah pandangan tersebut, itu stigma tentang ASN yang sudah lama nempel pada masyarakat koq.

Reformasi birokrasi dalam rangka pembenahan sistem birokrasi, telah digaungkan lebih dari 10 tahun lalu. Ini berdampak terhadap perubahan organisasi dalam sistem pemerintahan. Perubahan ini pastinya mengobrak-obrik comfort zone para ASN, utamanya stigma “pekerjaannya santai”.

Akankah perubahan itu nyaman? Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo (anggota Dewan Pengarah BRIN) dalam agenda BRIEF (BRIN Insight Every Friday) menyampaikan bahwa perubahan itu suatu hal keniscayaan, meskipun terkadang kita sulit menerima.

Karena perubahan apapun yang ada di muka bumi ini, akan membuat diri kita merasa tidak nyaman, menimbulkan resistensi. Dalam ilmu fisika, resistensi itu memerlukan daya. Sehingga suatu perubahan itu memerlukan energi atau kekuatan.

Seorang ASN harus berubah, menghadapi, dan mengalami perubahan. Perubahan merupakan pertanda suatu kehidupan. Sharing yang diberikan Prof. Marsudi ini menjadi bahan renungan saya, dan ingin saya sharing kan kepada pembaca.

Dampak dari deessolisasi, seorang ASN yang sebelumnya pejabat struktural, akhirnya banyak yang harus lengser, dan beralih menjadi pejabat fungsional. Yang tadinya pejabat struktural mempunyai kewenangan yang luas, sekarang harus rela berkolaborasi dengan unit lain karena kewenangan “dipersempit”.

Seorang leader atau anggota tim yang tadinya sudah solid dan nyaman dalam timnya, harus berpencar dan harus mampu menerima anggota baru. Baik itu atasan, teman sejawat, maupun bawahan, yang sebelumnya mungkin tidak dikenal. 

Sungguh, situasi ini melahirkan atmosfer lingkungan kerja yang beraroma “energi negatif”. 

Dalam kondisi “carut marut” seperti ini, roda pemerintahan harus terus berjalan. Masyarakat sebagai penerima layanan tidak bisa menunda kebutuhan atas layanan tersebut. Mereka tetap menginginkan layanan terbaik dan tepat waktu.

Sebagai ASN dituntut harus bisa profesional dalam mengemban jabatannya, karena jabatan tersebut adalah amanah dari masyarakat. Selanjutnya, bagaimana cara menjalani perubahan dengan nikmat dan nyaman?

ASN mempunyai core value BerAKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif) yang berorientasi pada pelayanan inilah, yang seharusnya menjadi basis ASN dalam menjalani perubahan dengan nikmat dan nyaman. Core value ini harus benar-benar mampu diinternalisikan dalam diri ASN.

“Hidup adalah perubahan, jika kita meyakini itu maka perubahan akan mudah kita jalani. Perubahan organisasi itu wajar, perubahan lingkungan itu wajar, karena perubahan adalah keniscayaan”, statement ini secara berulang ditegaskan Prof Marsudi.


Perubahan membuat ketidaknyamanan, ketidaksukaan, kegelisahan serta rasa negatif lainnya. Hal ini hanya memperlemah simpul optimisme, dan otomatis akan memperlemah setiap jiwa, yang hanya berujung demotivasi bahkan apatis.

Kalau sudah disituasi seperti ini, adakah yang bisa kita perbuat? Sedangkan waktu terus berjalan, dan amanah tetap bertengger di pundak. Kekuatan keberterimaan (The Power Of Acceptance) inilah dapat memberikan spirit setiap individu ASN.

ASN dapat mempunyai etos kerja adaptif dan produktif dalam masa perubahan, jika dapat menerima perubahan dengan lapang. Jika ASN dapat menjalaninya dengan baik di situlah kita mempunyai kekuatan dari rasa keberterimaan kita.

Energi positif seperti rasa bersyukur, bahagia, empati, positive thinking, kreatif, sehat jasmani rohani dan lain-lainnya merupakan energi dari The Power Of Acceptance. Mari kita bayangkan jika sel-sel tubuh kita dipenuhi energi-energi positif itu.

 Akankah menjadikan kita merasa lebih enteng dalam menjalani amanah  ini, ibarat menggendong bayi lucu itu guys, meski punya beban, tapi kita bisa enjoy dan bahagia menggendongnya. Apakah betul The Power Of Acceptance penting bagi ASN? Mari kita ajak dialog diri kita sendiri.