Polarisasi masyarakat akibat perhelatan politik yang terjadi di Indonesia masih terasa sampai saat ini. Isu-isu SARA seringkali digunakan salah satu pihak untuk menyerang pihak lain. Secara umum masyarakat menginginkan kehidupan yang damai, aman dan nyaman. Untuk itu perlu membuka ruang-ruang diskusi sehingga komunikasi pada level masyarakat terjalin dengan baik. Salah satu cara membuka ruang diskusi yang pernah saya lakukan adalah ngopi bareng warga perumahan tempat tinggal saya.   

Nggak percaya?

Saya mau berbagi sedikit cerita ya gaes…

Setelah melanglang buana menjadi kontraktor, akhirnya pada tahun 2017 saya memboyong istri dan anak-anak untuk tinggal di sebuah rumah kecil ber-tipe 36. Meskipun rumah itu kecil, setidaknya predikat sebagai “kontraktor” lenyap karena rumah itu sudah sah milik saya hehe…

Berdiri sejak tahun 2015 sampai dengan saat ini, perumahan kami sudah dihuni kurang lebih 60 KK. Warga perumahan ini latar belakangnya bermacam-macam. Ada yang PNS, karyawan swasta, wiraswasta, pensiunan, dan lain-lain. Etnis dan agama kami pun beragam.

Nah, apa sih yang menarik?

Dengan bermacam-macam latar belakang tersebut kami bisa hidup berdampingan dengan baik. Contoh kecil saja, ketika warga perumahan mengadakan acara penyembelihan hewan kurban untuk memperingati Idul Adha tahun lalu, semuanya terlibat. Baik itu bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak sampai kakek nenek pun ikut ambil bagian. Yang pasti nggak meninggalkan prokes yang ketat donk

Seluruh warga diundang termasuk keluarga saya yang beragama Katolik. Nggak ada masalah!

Kami hadir dalam acara itu. Suatu kehormatan bagi kami untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara umat Muslim yang merayakan hari besarnya. Intinya, perbedaan adalah keniscayaan dan bukan alasan untuk tidak saling menghargai, menghormati dan hidup berdampingan. Selalu ada titik temu dalam perbedaan itu asalkan kita mau.

***

Ada hal yang menarik pada komunitas kami. Warga perumahan ini mayoritas masih muda. Jadi, kalau dirata-rata umurnya sekitar 30-40 tahun. Tahu sendiri, kan? Biasanya umur-umur segitu yang namanya idealisme lagi tinggi-tingginya.

Tetapi yang terjadi tidak seperti itu lho gaes…

Kami bisa melepas ego untuk hidup rukun. Bahkan, kami sering berkumpul untuk ngopi sembari ngobrol-ngobrol ringan. Berbagi cerita tentang kerjaan, anak, bahkan....ssstt...ngobrolin cewek pun juga sering hehe....(namanya juga komunitas bapak-bapak). Jika ada even atau permasalahan tentang perumahan, kami selalu membicarakan bersama untuk mencari solusi.

Wah, kalau bapak-bapak sudah kumpul dijamin seru abis. Saat ngopi pun kami kompak. Ada yg bikin kopi, ada yang bersih-bersih venue-nya, ada yang bawa makanan, ada yang bawa tikar. Singkat kata, kekeluargaan kami sangat erat.

Setiap ngopi bareng, kami sepakat untuk tidak membicarakan masalah SARA. Kami mencari obrolan-obrolan yang bersifat umum sehingga semua kalangan bisa nimbrung.

Bayangin aja, kalau yang diomongin masalah agama. Tentu saja nggak nyambung dengan teman-teman yang agamanya berbeda.

Apalagi di daerah kami belum lama ini ada pemilihan kepala daerah. Kalau perbedaan pilihan politik sampai dibawa-bawa dalam komunitas ngopi bisa-bisa buyar deh! Apabila ada teman yang sedikit melenceng, kami segera mengingatkan. Satu hal lagi yang penting adalah kami semua nggak boleh “purikan” (baperan-kalau istilah anak sekarang). Jadi, kalau sudah bercanda nih kami lepas banget.

***

Bagaimana dengan keluarga saya yang menjadi minoritas di sana?

Di sini nggak ada istilah mayoritas dan minoritas. Semua warga sama dan sejajar. Meskipun keluarga saya Katolik, tapi kami merasa nyaman berdampingan dengan saudara-saudara yang berbeda agama. Pokoknya, jangan sampai menutup diri dengan warga yang lain. Teman-teman menghormati kami begitu pula sebaliknya kami sekeluarga juga menghormati mereka.

Suatu hari ada teman yang sedikit nyerempet bahas masalah SARA di grup WA. Kebetulan yang menjadi lawan bicara dia adalah saya. Saya paham betul dia ingin bercanda tetapi dengan sigap teman-teman yang lain mengingatkan agar obrolan tersebut nggak dilanjutin.

Bahkan ada seorang teman yang japri saya agar tetap tenang dan nggak ngeladenin dia.

“Om, nggak usah diladenin! Kita semua bersaudara dan sudah sepakat nggak bahas SARA dalam grup WA” ujar teman yang japri saya tadi.

“Udah tenang aja, Bro! Aku nggak model orang yang “senggol bacok” gitu. Aku anggap dia bercanda dan kalian semua sudah mengingatkan. Jadi nggak perlu diperpanjang lagi masalah ini, ok?” balas saya.

“Ok deh. Sip...”

Nah, di sini saya lihat teman-teman sudah mampu berpikir dewasa. Mereka tahu mana kira-kira obrolan yang sensitif mana yang nggak. Teman-teman menyadari adanya perbedaan dalam komunitas yang majemuk bukan menjadi penghalang untuk bersatu. Ini yang sangat saya apresiasi.

***

Beberapa bulan yang lalu saya dan ibunya anak-anak sempat terpapar COVID-19. Kami berdua memeriksakan diri ke dokter dan melakukan swab antigen. Dari situ diketahui bahwa kami berdua positif COVID-19. Dokter menyarankan agar kami isolasi mandiri (isoman) di rumah selama 14 hari. 

Pikiran saya saat itu kacau banget. Ada bayang-bayang ketakutan gimana kalau nanti tetangga menjauhi keluarga kami. Mau laporan ke pak RT atau diam saja? Saya sempat berdiskusi dengan istri tentang apa sebaiknya kami lakukan. Akhirnya, kami bersepakat untuk melaporkannya ke pak RT. Keputusan tersebut saya ambil karena saya tidak ingin ada warga yang tertular.

Setelah beberapa hari melakukan isoman, kami sekeluarga merasakan perhatian yang luar biasa dari tetangga sekitar. Tanpa dikomando mereka secara bergantian mengirim makanan, buah-buahan, sayur-sayuran dan vitamin.  Begitu terus setiap hari sampai hari terakhir kami isoman. 

Jadi, nilai-nilai gotong royong yang diwariskan oleh nenek moyang kita belum luntur sampai saat ini. Setidaknya saya sendiri yang merasakannya. Kondisi semacam itu juga dirasakan oleh keluarga lain yang terpapar COVID-19. Kami bahu membahu membantu dengan sukarela agar tidak ada yang merasa ditinggal saat tertimpa musibah. Ok banget kan?

Dalam masyarakat yang majemuk sangat diperlukan jalinan komunikasi yang baik. Setiap individu harus berinisiatif untuk membuka ruang diskusi dengan pihak lain. 

Artinya, setiap orang tidak hanya bergaul dengan kelompoknya saja tetapi juga mampu berdialog dengan orang lain yang berbeda latar belakang. Dengan membuka ruang-ruang diskusi diharapkan tidak ada lagi rasa saling curiga dan prasangka buruk. Komunikasi yang terjalin dengan baik akan membuka sekat-sekat perbedaan yang sebelumnya “tabu” untuk dibicarakan.