Mahasiswa
1 bulan lalu · 140 view · 7 min baca · Ekonomi 49739_68310.jpg
Menristekdikti Mohamad Nasir meresmikan gedung kuliah Program Vokasi Studi Pulp dan Kertas di Fakultas Teknik Universitas Riau, Pekanbaru (Dok. Kemenristekdikti)

Pentingnya Riset Akademik untuk Memajukan Industri Kertas

Cukup sulit membayangkan tercapainya tujuan pelaksanaan kebijakan publik tanpa disertai riset yang komprehensif tentang apa saja variabel yang berkaitan dengan sasaran kebijakan termaksud, yakni masyarakat. 

Kebijakan tentang pemanfaatan Anggaran Dana Desa (ADD), misalnya, akan gagal total jika tidak memperhatikan dimensi pluralitas dan karakteristik wilayah sasaran. Melalui riset, tantangan seperti ini dapat diminimalisasi.

Melalui riset, perumus kebijakan mampu mengenal faktor yang menjadi peluang dan tantangan (bandingkan SWOT misalnya) sebelum kebijakan tertentu ditetapkan. Karena alasan ini pula, sebelum menetapkan peraturan tertentu, DPR sebagai perwakilan rakyat selalu membahas naskah akademik sebuah kebijakan.

Masih berkaitan dengan hal di atas, membincangkan industri kertas yang berkelanjutan tanpa melakukan riset merupakan usaha yang sia-sia. Memang, siapa saja bisa melakukan riset. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi saya, riset yang baik selalu datang dari perguruan tinggi dan lembaga riset yang terpercaya. 

DPR, misalnya, dalam rangka menganalisis kelebihan dan kelemahan rancangan kebijakan tertentu, ia selalu bekerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Sampai di situ, muncul pertanyaan: bagaimana hendaknya riset dilakukan demi keberlanjutan ekonomi (economic sustainability) industri kertas di Indonesia?

Menjawab pertanyaan di atas, saya fokus membahas tentang riset dalam ilmu sosial dan politik untuk membuat pemetaan dan kategori kelas sosial yang dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga mampu memajukan industri kertas di Indonesia. 

Selanjutnya, dengan menunjukkan bagaimana hendaknya pemetaan konsumen kertas dibuat, tulisan ini mengajukan beberapa strategi alternatif umum yang dapat dipakai untuk memajukan pemasaran kertas di level nasional dan global.

Pemetaan Konsumen Kertas Nasional


Salah satu cara menjaga kestabilan produksi kertas, yakni dengan membuat pemetaan tentang aktivitas konsumen dalam negeri. Hal ini penting mengingat kebutuhan dalam negeri merupakan salah satu indikator utama sebelum berbicara mengenai konsumen global. 

Bagaimana mungkin kita berharap produk tertentu laku di pasaran internasional, namun gagal memikat hati konsumen nasional? Oleh karena itu, riset diperlukan.

Dalam rangka melakukan riset terhadap konsumen kertas nasional, terdapat beberapa elemen penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, konsentrasi wilayah. Maksudnya, kegiatan produksi dan distribusi perlu dilandasi dengan ilmu kartografi mengenai daerah di mana sebuah komoditas dipasarkan. Kapitalisme gobal yang dapat melampaui batas negara dan benua justru karena menggunakan prinsip seperti itu. 

Bandingkan contoh berikut: Orang di Desa Nurri di Flores Timur, NTT, misalnya, membeli kertas dengan alasan yang jauh berbeda dengan orang yang tinggal di Jakarta. Jika masyarakat daerah perkotaan seperti Jakarta yang menekankan efektivitas dan efisiensi, motivasi membeli kertas cenderung dilihat sebagai aktivitas ekonomi yang bertendensi menjaga kelestarian lingkungan. 

Sementara itu, bagi masyarakat di Desa Nurri yang belum sepenuhnya tersentuh teknologi digital, motivasi utama membeli kertas semata-mata karena kertas masih dianggap media penyampaian dan penyalur informasi paling efektif dan efisien. Apalagi, karena beberapa kendala tertentu, beberapa daerah di NTT belum terjamah jaringan PLN.

Kedua, segmen wilayah. Daerah dengan jumlah penduduk terpadat seperti Pulau Jawa tentu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kestabilan produksi kertas dalam negeri. 

Dikatakan demikian, karena penggunaan kertas sebagai sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seperti perkantoran, packaging, water cup sebagai pengganti kemasan plastik, dan tissue, merupakan kebutuhan prioritas masyarakat di daerah perkotaan daripada daerah pedesaan. 

Selanjutnya, wilayah yang dikategorikan dalam segmen industri seperti Jakarta, Surabaya, Bogor, dan kota besar lainnya memiliki kebutuhan terhadap kertas industri lebih besar daripada daerah lain. 

Kertas jenis ini meliputi corrugated medium dan liner board (bahan pembuatan packaging atau paper box), wrapping paper (digunakan untuk kertas pembungkus), dan sack kraft (kertas pembungkus semen). 

Patut diingat bahwa bahan material kertas jenis ini adalah kertas bekas yang berasal dari semua jenis kertas (printing, writing, packaging, paperboard), bukan berasal dari virgin pulp (wood) sehingga tidak perlu menebang pohon.

Ketiga, konsentrasi kegiatan akademik dan literasi. Dalam kaitannya dengan poin ini, muncul pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui riset: ada berapa penerbit di Indonesia dan berapa banyak buku yang diterbitkan dalam setahun? Ada berapa banyak koran cetak dengan oplah cetak terbesar di Indonesia? 

Menjawab pertanyaan ini berarti memberikan peluang bagi industri kertas dalam mengenal kelompok sasaran produksi dan menjaga relasinya dengan mereka.


Wawasan tentang Negara Importir

Selain konsumen dalam negeri, riset mengenai keadaan negara importir juga sangat penting dan mendesak. Dikatakan demikian, karena beberapa tahun terakhir, persaingan pasar global makin ketat dan membuat Indonesia berada dalam posisi cukup sulit.

Salah satu negara dengan konsumsi kertas terbesar di dunia adalah Amerika Serikat (Asosiasi Pulp and Paper International, 2000). Meskipun demikian, Amerika juga merupakan negara yang menerapkan standarisasi yang tinggi terhadap komoditas yang berasal dari alam. 

Oleh sebab itu, untuk bisa menembus pasar Amerika, Indonesia perlu menggunakan teknik produksi yang ramah lingkungan. Di samping itu, riset juga perlu diarahkan pada kualitas pengetahuan tentang populasi negara pengimpor, harga domestik, nilai tukar, pendapatan perkapita negara pengimpor, dan dummy ekolabeling.

Dalam rangka kerja sama antara industri kertas dan perguruan tinggi, hal penting yang perlu, yakni pelatihan teknis perdagangan antarnegara, mendorong kewirausahaan, pengenalan market Amerika dan Eropa, dan persyaratan perdagangan lintas negara, seperti quality standard and restrictions, persyaratan lisensi, shipping, perlunya agen penghubung, dan lain sebagainya.

Hal di atas penting untuk didiskusikan lebih lanjut. Karena banyak pengusaha Indonesia memiliki ide bagus dalam pengembangan usaha dan produk andalannya, tetapi tidak tahu referensi dan cara mencari pasarnya di Amerika, misalnya.

“Untuk melaksanakan program edukasi tersebut, universitas adalah partner strategis bagi Amerika,” kata James Mullinax, Economic Councelor dari Kedutaan Besar AS dalam Public Lecture Indonesia-USA Relations: Opportunities and Challenges Under Jokowi Administration, kerja sama America Institute for Indonesian Studies (AIFIS) dan Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Selain AS, riset juga diarahkan kepada dua negara yang berdekatan secara geografis dengan Indonesia, yakni Tiongkok dan Australia. Dikatakan demikian, karena menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, di Asia Tenggara, Indonesia menempati peringkat pertama untuk industri pulp dan kertas.

Beberapa Bentuk Kerja Sama

Menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, sependek ingatan saya, terdapat beberapa bentuk kerja sama antara industri kertas dan perguruan tinggi di Indonesia. Saya mengapresiasi hal ini, khususnya pendirian Program Studi (Vokasi) Teknologi Pulp dan Kertas di Fakultas Teknik Kimia Universitas Riau (UNRI), Pekanbaru, 29 Januari 2019 lalu.

Program Studi (Prodi) Vokasi Pulp dan Kertas tersebut merupakan program studi pertama di Indonesia, khususnya di Universitas Riau, yang terwujud berkat kerja sama antara Tanoto Foundation, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), dan UNRI. Apalagi pendirian Prodi tersebut sangat strategis dan relevan mengingat Provinsi Riau merupakan salah satu penghasil pulp dan kertas terbesar di dunia.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dalam upacara persemian mengharapkan agar banyak kampus lain juga mendirikan program studi baru sesuai dengan tuntutan zaman dan menjalin kerja sama dan berkolaborasi dengan industri. 

Selain itu, ia menambahkan bahwa, ke depan, prodi pulp dan kertas harus mengerti masalah pasar apa yang dibutuhkan. Program pulp dan kertas harus dikembangkan menjadi multi-entri dan multi-exit (Meme).


“Meme artinya mahasiswa itu, pada tahun pertama, harus menentukan tingkat kompetensi yang ingin dicapai. Maka saya anjurkan 50% dosen expert dari industri. Ke depannya bisa kita pisahkan, prodi pulp dan prodi paper saja,” katanya. (Media Indonesia)

Bahkan, tahun ini, prodi pulp dan kertas menerima sebanyak 55 mahasiswa dengan 29 di antaranya adalah karyawan RAPP yang telah difasilitasi untuk melanjutkan pendidiikannya di jurusan tersebut. (Kompas).

Selain mendirikan prodi di atas, terdapat hal yang juga penting, yakni membangun budaya riset terapan melalui sinergi lintas sektor. Hal ini dilakukan oleh Sinar Mas melalui pilar bisnisnya, Asia Pulp & Paper Sinar Mas, dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Managing Director Sinar Mas, Saleh Husin, mengatakan bahwa kemitraan Sinar Mas dengan perguruan tinggi sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat riset kolaboratif lintas sektor. 

“Yang beberapa hasilnya bagi kami akan sangat bermanfaat, di antaranya guna pengembangan industri pulp dan kertas serta perkebunan kelapa sawit berkelanjutan,” katanya. 

Pada kesempatan yang sama, APP Sinar Mas dan Sinar Mas Agribusiness & Foods menghadirkan anjuran berisikan ragam inisiatif bisnis berkelanjutan, termasuk program corporate social responsibility (Media Indonesia).

Peluang Lain

Dua bentuk kerja sama di atas dapat dilanjutkan dan diperluas dalam bentuk lain demi menjaga prinsip keberlanjutan industri kertas di Indonesia. Prinsip-prinsip tersebut sangat penting mengingat beberapa kali Indonesia menghadapi tantangan yang cukup serius di level global berkaitan dengan isu lingkungan hidup atau ekolabeling. 

Untuk mencegah munculnya kembali isu semacam ini, peran prodi di Universitas sangat penting. Dikatakan penting, karena melalui riset akademik di universitas, industri kertas dapat memperoleh informasi mengenai kegiatan produksi berdasarkan prinsip ekonomi berkelanjutan (economic sustainability).

Dari Fakultas Lingkungan dan Geografi, misalnya, dapat diperoleh informasi berkaitan dengan daerah pemasok bahan baku yang strategis; bagaimana melakukan kegiatan industri yang ramah lingkungan. 

Mengenai hal ini, terdapat beberapa program sertifikasi produk hutan seperti FSC (fsc.org), SFI (sfiprogram.org), dan PEFC (pefc.org) yang dapat dijadikan pertimbangan bagi pilihan konsumen mengenai sumber serabut (fiber) yang digunakan untuk membuat kertas yang mereka beli. 

Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, diperoleh daerah pemasaran dan perluasan kegiatan ekonomi kreatif menggunakan kertas (bekas) atau kerajinan berbahan kertas, keadaan ekonomi mikro dan makro, perdagangan bebas, nilai tukar rupiah, dan seterusnya. 

Dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, berkaitan dengan kebijakan impor bahan baku kertas bekas, hubungan bilateral dengan negara lain, dan bagaimana hendaknya Indonesia memosisikan diri di antara dua raksasa ekonomi dunia (Cina dan AS) di masa depan. 

Dari Teknik Kimia Fakultas MIPA, diperoleh pengetahuan mengenai memanfaatkan gas dari kelapa sawit untuk melangsungkan proses produksi dan seterusnya.

Semua contoh di atas hanyalah tawaran tentatif yang hemat saya perlu disiasati oleh universitas dan industri kertas di Indonesia. Masih ada banyak lagi bentuk kerja sama yang bisa dilakukan, tergantung dari bagaimana kedua instansi dimaksud melakukan kontrak kerja sama. 

Hanya dengan demikian, kegiatan industri kertas di Indonesia khususnya dan industri lain pada umumnya dapat berkembang sesuai dengan tuntutan persaingan global.

Artikel Terkait